Fitur Baru Di WordPress

Tadi saat mau bikin tulisan, mendadak menemukan fitur baru, namanya Story Post.

Semacam stories seperti di Instagram, Twitter dan Whatsapp.

Kalau baca keterangannya, story postnya nggak bakal hilang. Wah, menarik!

Tampilannya yaaa, seperti stories pada umumnya.

Akhirnya nyoba dong, kalian bisa lihat di postinganku sebelumnya. Yang judulnya di Halaman Rumahku.

Ya karena itu lagi percobaan dan penasaran pengen tahu, jadi saya nyomot salah satu video saya dari tiktok buat ngetes durasinya.

Kesimpulannya sih saya masih belum tahu, stories ini akan berguna bagi saya ga untuk di blog. Saya masih meraba-raba dalam kegelapan a.k.a masih blank.

Belanja Online

Dalam rangka mengendalikan napsu belanja online, mulai tahun saya bikin jadwal belanja.

Checkout tanggal 9, 18, 27.

Dah, gitu aja deh.

Jadi sebulan 3x aja. Biar nggak terlalu sering beli barang-barang receh yang nggak penting-penting amat.

Kalau saya renungi, kemudahan berbelanja online itu terkadang berbahaya bagi rekening saya.

Beberapa kali saya mengamati, isi dompet saya lebih awet daripada rekening.

Online-online selain market place kayak top up gojek, e-toll dan sebagainya bikin nggak terasa tahu-tahu lho kok udah ludes aja sih. Kzl kan.

Semoga (uh, apakah ini resolusi?) dengan bikin jadwal, menjadikan diri ini berpikir panjang dan tidak grusa-grusu checkout.

Inget nasehat Cak Nun :

Anda tidak boleh sujud kepada nafsu, tapi nafsu harus sujud kepada anda.

Baiklah, markicob.

* Photo by cottonbro from Pexels

British English vs American English

Bahasa inggris selalu jadi “love and hate relationship” dalam hidup saya yang penuh drama ini.

Rasanya bahasa saya tuh campur-campur dan jadinya amburadul.

Sebetulnya selama ini saya belajar British english atau American english sih? Jangan-jangan itu salah satu faktor yang bikin saya sering dilanda kebingungan.

Berbekal rasa penasirun akan perasaan ga jelas ini, akhirnya saya menemukan sedikit pencerahan di Quora. Ini saya copy paste aja :

“Mereka yang cenderung belajar secara formal dan non formal lewat sekolah dan les, akan cenderung menggunakan British English.

Mereka yang cenderung belajar informal lewat film, lagu, siaran TV, dan media massa lain, akan cenderung menggunakan American English.”

Ada lagi,

“Inggris British secara akademik mungkin akan lebih banyak terpakai. Karena akademisi banyak yang lebih menggunakan inggris british ketimbang inggris amerika.

Tapi untuk conversation dan influence secara global, bahasa inggris amerika lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.”

Komentar lain,

“Sebenarnya bahasa Inggris yang diajarkan di Indonesia itu cukup aneh.

Kita cenderung diajarkan American English, tetapi kita lebih akrab akan istilah-istilah British English dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan dengan istilah-istilah American English.

Coba deh, saya yakin Anda tidak asing dengan istilah-istilah ini: aluminium, flyover, takeaway, biscuit, zebra-cross, queue plaster, lift, car park, sellotape, coolbox.

Nah, istilah-istilah tersebut hanya terdapat dapat kalian dengar di British English karena istilah-istilah tersebut sudah usang atau jarang digunakan di American English.

Istilah yang digunakan di Amerika Serikat untuk istilah-istilah tersebut adalah aluminum, overpass, takeout, cookie, cross-walk, line, band-aid, elevator, parking lot, scotch tape, cooler. Aneh ya?“

Pendapat lain,

“Orang Indonesia cenderung berkiblat kepada American English dalam hal pengucapan.

Saya merasa hal ini karena masih banyaknya tenaga pengajar bahasa Inggris yang masih kurang memahami secara mendalam mengenai perbedaan antara American English dan British English (Received Pronunciation).

Hal ini membuat mereka mengajarkan bahasa Inggris yang lebih “mendunia”. Oleh karena itu, American English yang jelas lebih populerlah yang akan diajarkan.

American English lebih populer dibandingkan dengan British English karena budaya pop di dunia hiburan didominasi oleh budaya Amerika Serikat.

Selain itu, budaya internet pun juga sangat dipengaruhi oleh budaya Amerika Serikat. Entah itu melalui memes, konten-konten di youtube, atau tren-tren di Twitter atau Instagram.”

Komentar berikutnya,

Menurut saya, rhoticity juga menjadi salah satu penyebab American English lebih populer dibandingkan dengan British English.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang memiliki huruf r yang bergetar (alveolar trill).

Hal ini tentu saja membuat orang Indonesia akan “lebih kaget” ketika mempelajari British English karena selain harus mempelajari konsonan ɹ dan ɹ̠ (alveolar/postalveolar approximant), mereka juga harus mempelajari “r” mana yang boleh dan tidak boleh dibunyikan.”

Pendapat lain,

American Dream !

Amerika Serikat dengan segala kekurangannya tetaplah menjadi negara favorit bagi para imigran untuk mengadu nasib, mencari keberuntungan, dan mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah populasi orang Indonesia perantauan nomor lima di dunia.

Jadi, kalau Anda mau merasakan tinggal di Amerika Serikat, maka Anda harus mempelajari American English.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa lebih populernya American English dibandingkan dengan British English disebabkan karena budaya di Indonesia yang tidak bisa lepas dari Americanism, serta American Dream yang menjadi impian (dapat dikatakan) seluruh orang Indonesia.

Satu lagi,

“Sepertinya lebih sering digunakan Bahasa Inggris Amerika. Tapi tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengerti perbedaan keduanya.

Tapi menurut saya, kita juga mengikuti konvensi Indonesia sendiri selain kedua itu.

Saya lebih yakin kita menggunakan lift bukan karena seperti itu di Bahasa Inggris Britania, tapi karena kita memang menyebutnya “lift”.

Begitu juga dengan first floor dan ATM; mereka bukan dipakai karena berasal dari Bahasa Inggris Amerika, tapi karena di Bahasa Indonesia mereka lebih bermakna (lantai satu itu lantai dasar, kan?; ATM kan Anjungan Tunai Mandiri).

Jika kita terus menggunakan konvensi Indonesia ke Bahasa Inggris yang kita gunakan, mungkin kita akan membuat dialek Bahasa Inggris baru, Bahasa Inggris Indonesia.

Sebenarnya ini sudah ada namun tidak begitu populer; di Microsoft Word ada pilihan untuk English (Indonesia).

Entah saya juga tidak mengerti bagaimana bisa ada pilihan Bahasa Inggris (Indonesia).

Jadi setelah merenung dalam-dalam, saya ingin menyudahi kebingungan saya yang nggak jelas ini.

Jadi, mulai awal bulan kemarin, saya mulai fokus pake american english aja, dengan beberapa alasan personal yang tidak bisa saya beberkan disini. *halah*

Harry Potter, minggir dulu gih.

Manusia Estetik

Entah ada angin apa, akhirnya saya memutuskan balik ke dunia Instagram.

Motivasinya? Entah.

Mungkin saya sedang kangen mengintip kehidupan teman-teman saya yang estetik.

Lingkungan pertemanan saya kebanyakan yang hidupnya tuh udah estetik banget deh. Saya kok ga bisa seestetik mereka ya.

Begitulah, membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah kunci depresi. Ckckck.

Dengan foto-foto pilihan dengan komposisi apik dan terkonsep jelas. Detail-detail cantik saat mereka traveling. Bahkan foto di proyek aja, cuma tumpukan semen aja bisa artistik gitu.

Oh kenapa semua foto-fotonya pada keren badai gitu sih? Sementara foto-foto di instagram saya, berantakan ga karuan. Berisi foto-foto bareng kegiatan A s/d Z, yang kadang saya merem, kadang belum tarik napas ngecilin perut.

Sementara mereka-mereka itu ya. Diem aja udah estetik. Udah keren. Pokoknya kalau lihat instagram tuh ya, cita-citaku cuma satu. Opo tuh? Pengen hidup estetik. Udah. Itu aja. Hahaha..

Itu foto-foto mereka kok bisa monokrom, putih, abu-abu, hitam. Dengan komposisi yang super gitu.

Mungkin faktor ini yang bikin aku jadi males banget buka instagram. Elu-elu pada sukses bikin insecure saya.

Dulu setelah muak dengan segala macem pencitraan estetik yang tertampang nyata, plus campur kegemesan -kok mereka gitu, aku enggak-, dengan mantap aku uninstall instagram.

Lalu asyik melarikan di dunia Tiktok. Yang tentu aja njomplang banget sama lingkungan saya sebelumnya. Tapi saya menikmatinya hahaha. Sumprit.

Tapi ya emang dasar habitat saya di instagram. Ada kerinduan yang susah diungkapkan dengan kata-kata *halah*.

Balik deh saya ke instagram di awal bulan ini.

Tentu dengan bekal mental yang berbeda. Tiktok menjadikan saya lebih cuek menghadapi hal-hal estetik. Hidup ternyata nggak harus estetik. Mungkin hal-hal receh saya, yang dirindukan teman-teman saya.

Seperti pepatah jadul 80-an“Cuek is the best” ternyata masih relevan dan belum kadaluwarsa.

Norma : “All right, Mr. DeMille, I’m ready for my close-up.” (Sunset Blvd. 1950)

*Photo by Negative Space from Pexels

Menjadikan Kota Sebagai Rumah

Ada jutaan definisi tentang rumah. Salah satu dari sekian banyak itu, rumah adalah tempat kita untuk pulang.

Saat saya pulang dari bepergian keluar kota, ketika mobil sudah keluar dari tol Bundaran Waru, melewati mall Cito dengan tulisan besar Surabaya, saya sudah merasa tiba di rumah.

Atau ketika pesawat sudah mendarat di bandara Juanda, atau kereta sudah berhenti di stasiun, saya merasa sudah tiba di rumah.

Kota adalah rumah saya.

Pernahkah teman-teman mengalami perasaan tersebut?

Dalam sebuah buku Goodbye, Things, karangan Fumio Sasaki, yang membagi pengalaman hidup minimalis, mengungkapkan fakta bahwa menjadi minimalis tidak hanya mengubah kamar atau rumah kita, tapi juga memperkaya hidup kita.

Banyak orang salah kaprah tentang gaya hidup minimalis. Lalu berpendapat bahwa orang dengan gaya hidup minimalis tidak berperasaan, egois dan tidak butuh orang lain.

Fumio Sasaki mengungkapkan bahwa gaya hidup minimalis malah justru akan membuat kita lebih sering bersosialisasi.

Menurutnya sofa besar dan nyaman tidak harus ada di ruang keluarga. Ruang keluarga versinya adalah kedai makan dekat rumah dengan sofa yang selalu empuk dan menggoda, bersih dan rapi pula.

Ada pula kedai kopi langganannya yang tidak pernah protes meski dia duduk berjam-jam, mengobrol dengan teman sambil menyesap kopi yang baru diseduh.

Saya tidak mengikuti gaya minimalis, walau banyak teman yang menuduh saya begitu.

Saya hanya tinggal berdua dengan suami, jadi kami berpikir buat apa menyimpan banyak barang.

Ruang yang luas bagi saya lebih penting daripada barang.

Semakin saya mengurangi barang di rumah, saya makin lebih menghargai dan menikmati ruang.

Lalu tanpa sadar rumah saya menjadi lebih lebar jangkauannya.

Teman-teman saya yang sering berkunjung ke rumah, sudah hafal bahwa peralatan makan dan minum saya terbatas.

Endingnya kalau nggak delivery makanan, ya kami melipir ke tempat nongkrong di sekitar rumah saya.

Saat lingkungan sekitar kita jadikan sebagai rumah, kita akan menemukan banyak sekali kemungkinan.

Dan itu asik banget.

Jika semua yang saya inginkan dan saya butuhkan ada di rumah, mungkin saya akan jadi manusia gua. Ndekem melulu di rumah.