Ho’oponopono Untuk Diary

Lagi bengong dan akhirnya baca-baca diary lama tahun 2019, jaman masih normal dan belum ada Covid 19.

Saat itu setiap malam aku menyempatkan diri untuk menulis diary menggunakan teknik Ho’oponopono

Apa tuh? Silakan googling. Saya sedang malas menjelaskan panjang lebar. Singkatnya semacam kalimat ‘mantra’ untuk membersihkan hati.

Jadi sebelum tidur saya menuliskan :

1. Aku menyesal hari ini ……

2. Maafkan aku hari ini …..

3. Alhamdulillah hari ini aku …..

4. Bismillah besok …..

Begitulah upaya saya sebelum tidur mencoba untuk balik ke titik nol, supaya keesokan hari ya saat bangun pagi bisa jadi manusia yang lebih baik.

Arisan PKK

15 tahun tinggal di perumahan, akhirnya pertahanan saya runtuh juga.

Setelah bertahun-tahun ngeles dan punya sejuta alasan untuk tidak ikut arisan PKK, akhirnya bulan kemarin saya putuskan untuk ikutan.

Bukannya sombong atau nggak mau kenal tetangga. Saya kenal banyak orang di sekitar rumah saya. Namun untuk ikut arisan PKK, saya butuh waktu yang cukup lama untuk menimbang-nimbang.

“Nah, gitu dong bu.”
“Akhirnya bu F ikut juga.”
Dan komentar-komentar riuh di grup WA ramai menyambut kehadiran saya.

Sejujurnya saya tipikal orang yang sulit untuk berkomitmen. Namun kalau sudah memutuskan untuk berkomitmen, saya akan bertahan mati-matian.

Maka dari itulah saya sangat selektif untuk masuk organisasi, gank ini itulah, bahkan untuk pacaran aja, saya butuh waktu untuk berpikir lama.

Karena kalau udah nyemplung, untuk keluar dari situ butuh strategi mikir ini itu lagi, yang pastinya bakal bikin lelah lahir batin.

Okee, oke. Saya rada cemen untuk terikat pada sesuatu.

Pernikahan komitmennya seumur hidup, susah senang ya ikhlas aja menjalaninya.

Namun beda lagi kalau arisan PKK. Begitu berada di lingkunan tersebut, saya musti siap berkomitmen dengan durasi yang seiring dengan durasi pernikahan. Masalahnya saya nggak pernah siap.

Saya ngeri kalau di awal pindah rumah udah gabung PKK, kalau nggak cocok sama si A, B, C gimana? Mau cabut dari arisan PKK tidak semudah itu. Ntar menimbulkan gosip-gosip tetangga.

Pokoknya pikiran saya tuh super drama membayangkan yang pahit getir.

Jadi selama 15 tahun tinggal di perumahan ini, saya kenali dulu satu persatu tetangga-tetangga tersebut, sampai hati saya merasa sreg dan bisa jadi satu circle.

Baiklah, mari kita awali komitmen baru ini dengan semangat dan doa.

Notes imut

Hari minggu kemarin saya abis bongkar-bongkar diary yang lawas-lawas nih. Lalu membaca ulang buku mungil saat awal-awal journaling.

Saat itu saya pakai notes berukuran A6. Tiap hari saya nulis 3 poin, “Bismillah, Prestasi hari ini, Alhamdulillah.”

Membaca ulang lagi ternyata menyenangkan.

Udah lama nggak ngelakuin ini. Simpel, efektif, ngena. Jadi saya pikir boleh juga nih nulis versi singkat gini, mumpung masih awal bulan.

Notes yang saya pakai stok yang ada aja dirumah. Mungil, tipis dan bisa dibawa kemana-mana.

Di market place banyak yang jual. Seperti ini, contohnya :

Murah meriah, harganya pun nggak sampai Rp. 1.000,- Tipis, mungil, bisa dikantongin, sampulnya pun lucu-lucu.

Untuk temen-temen yang ingin membiasakan anak-anaknya nulis diary, buku mungil ini bisa jadi pilihan.

Di halaman pertama saya beri keterangan bulatan warna sebagai penanda.

Baiklah, saya akan jabarkan satu persatu.

BISMILLAH
Biasanya saya tulis 3 keinginan saya untuk hari itu. Bisa berupa to do list atau hasrat pribadi yang kadang nggak penting. Yang penting diniatin dulu sambil bilang “bismillah”.

Misalnya :

  1. Selesai ngerjain file ABCD.
  2. Ke supermarket
  3. Makan masakan padang

Kalau sudah tercapai, kalimat tersebut saya coret. Kadang di hari itu juga sudah terkabul, kadang sebulan atau berbulan-bulan kemudian.

PRESTASI HARI INI
Saya jadi ingat, awal mula saya menulis tentang ‘Prestasi Hari Ini’, gara-gara nonton wawancaranya pak SBY di televisi.

Saat itu si pewawancara bertanya, “Apa sih motto hidup bapak?”. Bapak SBY lalu menjawab, “Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin.”

“Caranya gimana Pak?”

“Ciptakan prestasi untuk diri sendiri setiap hari. Walaupun itu kecil / sederhana. Seperti bangun lebih pagi, misalnya.”

Oke. Noted. Sejak saat itulah saya selalu mencatat prestasi saya setiap hari. Karena saya yakin, sukses adalah kumpulan banyak prestasi.

Bahkan temen terdekat kadang saya WA untuk memamerkan prestasi receh saya, dengan kalimat pembuka seperti ini, “Hey, mau tahu prestasiku hari ini?”

KEAJAIBAN HARI INI
Dulu saya demen nyatet yang saya syukuri hari itu, cuma lama-lama males karena terlalu banyak. Lagipula tiap abis sholat juga udah bilang, “alhamdulillah hari ini itu dan seterusnya.”

Jadi saya sortir lagi untuk menuliskan rasa syukur saya yang bener-bener ajaib. Yang nggak terduga. Yang nggak disangka-sangka. Yang membuat saya pengen teriak histeris dan loncat, “Wow, magic.”

***

Begitulah. Buku ini melatih saya untuk menyadari hidup tiap detik, bahwa jangan sampai lupa untuk nikmatin hari ini.

Karena hidup adalah anugrah dari Tuhan YME, ya musti kita nikmatin lah yaaa.

Semoga tips sederhana ini bisa menginspirasi untuk temen-temen yang ingin mencoba untuk mulai journaling.

Capsule Closet Ala Nina

Nggak terasa udah Desember aja nih. Seperti tahun-tahun sebelumnya, keinginan saya, begitu menginjak bulan Januari sebisa mungkin barang pribadi saya baru semua.

Biar apa, pemirsa? Biar merasa lebih fresh dan punya energi baru untuk menyongsong tahun 2025 dong.

Lalu terpikirlah untuk merancang capsule closet yang sempurna. Capsule closet tuh kurang lebih seperti ini :

Maka dari itulah kemarin saya nanya sama chatgpt, “Bikinin dong capsule closet untuk perempuan yang tinggal di iklim tropis sebanyak 30 item.”

Simsalabim. Muncul dong, lalu saya salin di diary saya, seperti ini :

Setelah disalin dan mulai menstabilo baju yang saya sudah punya, saya merasa kurang sreg dengan tips yang diberikan chatgpt.

Mulailah saya bikin versi saya sendiri berdasarkan pengalaman bertahun-tahun dan ini dia hasilnya :

Semenjak pandemi, saya jadi malas dan nggak pernah pakai blouse lagi, apalagi rok dan gaun-gaun.

Sehari-hari ngantor pake seragam, di luar itu saya seringnya pakai celana dan t-shirt. Kalo pengen rada rapi dikit pake kemeja.

Kalau ke tempat dingin kayak gunung, tinggal pake sweater atau kaos dirangkepin kemeja.

Untungnya tinggal di iklim tropis nggak diribetin dengan segala jenis bahan pakaian. Kalau nggak katun ya linen. Ya udah, dua bahan itu doang yang saya demen.

Saya juga merasa 30 pakaian sudah lebih dari cukup. Yang penting semua bisa dipakai.

Walau begitu sebagai perempuan, pakaian saya masih bervariasi mereknya. Nggak kayak suami, dia anti ribet dan nggak mau ngabisin waktu untuk hunting pakaian, walhasil semua bajunya terlihat selalu ada logo kecil yang itu-itu aja. Udah kayak duta merek tersebut aje.

Saya cuma pakai satu merek? Idih, ogah. Wong yang asik itu hunting baju dari lantai bawah sampai lantai atas mall, demi mendapatkan pakaian yang sempurna kok.

Kalau kalian gimana?

Menyembuhkan Penyakit Scrolling Hp

Beberapa minggu belakangan ini saya kesal dengan diri sendiri. Kok susah banget ya menahan diri untuk scrolling hp?

Saya juga sudah berusaha meminimalisir media sosial. Media sosial saya tinggal Tiktok doang, itu pun bisa dibilang bukan media sosial, karena saya nggak bersosialisasi di aplikasi tersebut.

Kemudian saya mencari tahu apa penyebab penyakit scrolling ini. Jawabannya cuma satu : karena bosan.

Bosan membuat saya mati gaya dan nggak tau musti ngapain, akhirnya ambil hp dan mulai scrolling deh.

Begitulah.

Lalu saya mikir, jaman dulu ketika belum ada hp, apa yang saya lakukan ya ketika bosan melanda?

Setelah mengingat-ingat, dulu saya suka ngantongin notes kecil dan bolpen. Notes murahan, tips dan kertasnya pun nggak mutu, yang penting bisa dikantongin.

Saat antri di bank, saat di dalam angkot, bahkan saat rebahan di kamar, kalau lagi bosen, saya corat-coret di notes tersebut.

Sering kali juga saya menulis poin-poin yang sedang terlintas di benak. Segala hal yang nyantol di pikiran saya tulis aja. Mulai dari to do list, belanja kebutuhan sampai nyatet nomor telpon orang!

Ya kan andalan kita semua masih wartel kalau di luar rumah. Lalu mosok ke wartel, ga bawa notes? Plis deh, tangan saya kaga bisa nganggur, kudu ngomong sm urek-urek kertas.

Jadi sudah pasti notes imut saya isinya gado-gado dan tulisannya ala cakar ayam dong.

Baiklah. Demi menyembuhkan penyakit scrolling yang mulai akut ini, saya melakukan eksperimen terhadap diri saya.

Seminggu pertama nyoba gagal total. Saya pelupa, notes kadang bawa kadang enggak. Bahkan setelah dikantongin pun tetep nggak terpikir, dan baru nyadar setelah beberapa menit scrolling. “Oh, iya ya, kan ada notes.”

Gemes sama diri sendiri yang lupa-an ini, akhirnya saya tempelin aja notes tipis itu di casing hp bagian belakang pake isolasi. Supaya sebelum scrolling, langsung sadar bahwa ada notes lho.

Ternyata berhasil. Setelah beberapa minggu terbiasa, saya melepaskan isolasi notes dari hp.

Sejauh ini saya menikmatinya. Enak aja gitu sebelum tidur ga utak-atik hp, namun bolak-balik notes, baca2 tulisan saya, kadang ada aja ide baru dari tulisan cakar ayam saya, sambil ngelamun2 lagi sampai tertidur.

Rasanya asik. Cobain deh.