Belakangan ini saya sedang suka baca-baca buku klasik. Ternyata ada juga buku klasik yang lucu.
Buku berjudul asli “Three Men in a Boat” yang ditulis hampir 4 abad yang lalu, ternyata humornya masih relevan sampai sekarang. Tentunya humor khas Inggris, yang rada garing dan bisa bikin nyengir doang. Bukan yang sampai ngakak guling-guling seperti humor negara sendiri.
Bukunya semacam curhatan lucu ala bukunya Raditya Dika. Saya kadang bingung menggolongkan buku jenis ini. Non fiksi atau fiksi ya?
Dalam bukunya, Jerome menceritakan liburan bersama 2 sahabatnya George, dan Harris. Tiga pemuda kocak tersebut berniat memulihkan stresnya akibat rutinitas kerja yang membosankan, dengan melakukan perjalanan menyusuri Sungai Thames selama 2 minggu.
Meskipun ada beberapa penjelasan tentang tempat indah dan bersejarah yang mereka lewati, buku ini bukan catatan perjalanan. Buku ini lebih banyak bercerita tentang kegembiraan dan kekonyolan mereka saat berlayar.
Ada saja kejadian lucu seperti pertengkaran kecil dan berebut tentang siapa yang akan mendayung dan menarik perahu, memasak makanan, dan mencuci, serta keinginan untuk mendarat di malam hari. Disela-sela perjalanan, memang terkadang mereka naik ke darat untuk makan malam dan mencari penginapan, supaya bisa tidur nyenyak dan stamina tetap oke.
Perjalanan mereka yang diselingi obrolan, semakin menarik saat melewati tempat bersejarah di tepi sungai, dan menyaksikan kejadian di sekeliling sungai yang membuat mereka geli. Dari tingkah laku orang-orang di perahu, perahu uap model baru, sampai mayat perempuan yang mengambang di sungai.
Pemikiran mereka yang spontan, lucu, dan kadang diluar nalar, ditulis Jerome dengan lucu. Bukan lucu yang bodoh, tetapi lucu yang cerdas, Tulisannya rada sarkas dengan sedikit sindiran tajam. Kadang terselip juga pemikiran galau Jerome tentang dirinya dan kecintaan pada negaranya.
Keseluruhan kisah membuat saya terhibur sampai akhir halaman, bahkan sukses membuat saya relate dengan pengalaman saya sendiri. Sifat manusia ternyata sama saja ya, meskipun jaman terus berubah.
Buku ini pernah difilmkan. Saya sempat mencari di Youtube dan menonton film versi tahun 1973. Sayangnya adegan film tersebut tidak selengkap buku. Saya jauh lebih suka bukunya, namun filmnya membantu saya untuk memahami tempat bersejarah yang mereka lewati.
Saat selesai baca saya berniat memberi angka 3/5. Namun setelah humor-humornya nyangkut dikepala berhari-hari dan ingin membacanya ulang (kapan-kapan), saya upgrade menjadi 4/5.
