Kelly On The Move

Kelly, dosen muda yang sudah berpacaran dengan Bobby 10 tahun, akhirnya kandas saat Bobby minta putus dengan alasan klise, “Kamu pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku.”

Hatinya tidak rela setelah sekian lama ia dicampakkan begitu saja tanpa alasan yang kuat. Kelly sangat penasaran, sebetulnya apa salah dan kurangnya dia.

Dua tahun kemudian, Bobby punya kekasih dan mereka segera menikah. Kelly yang tahu kabar itu dari stalking medsos Bobby dengan fake acountnya, sangat kecewa.

Rasa penasaran akan kelebihan kekasih Bobby membuatnya terus menerus stalking dan tidak bisa move on dengan masa lalunya. Sampai Kelly tidak menyadari kehadiran Assen yang menyukainya.

Saat Assen merasa tidak diinginkan, ia mundur dan meninggalkan Kelly, baru deh Kelly merasa kehilangan Assen.

Klise dan mudah ditebak. Namanya juga novel Metropop. Dibandingkan dengan Start Again, karya Lia Seplia sebelumnya, buku yang ini agak membosankan, kurang greget.

Ide ceritanya sepertinya relate bagi banyak orang, kalau buat saya sih kagak. Lama amat pacaran sampai 10 tahun.

Bintang 2/5

Wyoming Tough

Morie, putri pemilik ranch terbesar di Texas memutuskan untuk pindah ke Wyoming. Kekayaan keluarga membuatnya sulit mendapatkan cinta sejati. Pria-pria yang mendekati selalu punya tujuan terselubung untuk menikahinya demi harta.

Kepindahannya ke Wyoming membuatnya lebih nyaman. Tidak ada yang mengenalnya, sehingga dengan mudah ia menyamar menjadi wanita berpenampilan sederhana.

Morie pun bekerja menjadi koboi di sebuah ranch milik keluarga Kirk, yang dikelola 3 pria bersaudara : Mallory, Cane, dan Turk.

Dulu saat Morie tinggal dalam ranch yang luas, ayahnya selalu melarang Morie turun mengurusi ranch, beliau mengatakan bahwa itu pekerjaan pria, bukan wanita. Sepanjang hidupnya Morie hanya jadi penonton. Kini ia gembira, bisa terjun langsung menjadi koboi. Merawat ternak dan mengurus ranch.

Namanya juga old money, segala sikap dan perkataannya tentu berbeda dengan orang biasa. Cane dan Turk merasa Morie, perempuan yang istimewa, bukan gadis biasa. Namun Mallory selalu menyangkalnya.

Sehari-hari Mallory memang banyak membantu Morie mengajarkan seluk beluk ranch. Sehingga ia merasa lebih mengenal Morie daripada kedua adiknya. Dalam lubuk hatinya, ia tertarik dengan Morie, namun perasaan itu selalu ditepis. Begitu juga sebaliknya, namun dalam beberapa kesempatan mereka hampir berciuman.

Kedekatan mereka berdua tentu saja membuat Gelly, kekasih Mallory cemburu. Gelly berusaha menyingkirkan Morie dengan menuduh hilangnya barang berharga dikediaman keluarga Kirk.

Saat barang bukti ditemukan dalam tas Morie, Mallory pun marah dan kecewa. ia lalu memecat Morie dan menyuruh salah seorang pekerjanya mengantar Morie ke terminal bis terdekat.

Tak jauh dari terminal, Maroe pun menelpon ibunya untuk dijemput private jet. Ya, namanya juga orang kaya ya.

Morie yang tidak terima dengan fitnah tersebut berjanji bahwa suatu hari nanti akan membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.

Sampailah hari itu tiba. Ayah Morie mengundang seluruh peternak yang memiliki sapi-sapi dengan kualitas terbaik. Keluarga Kirk merupakan salah satu tamu yang diundang. Mallory pun hadir bersama kekasihnya, Gelly.

Alangkah terkejutnya mereka berdua melihat Morie. Gadis koboi yang dekil dan berantakan itu ternyata anak pemilik ranch terbesar di Texas. Morie yang terlihat cantik dengan balutan gaun hitam membuat Mallory tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Sialnya ayah Morie yang tidak terima dengan perlakuan Mallory yang menuduh putrinya mencuri, menegur Mallory dan Gelly di depan seluruh undangan. Gelly pun langsung cabut dari pesta tersebut diikuti Mallory.

Selanjutnya ya silakan baca sendiri. Yang pasti seperti novel roman Harlequin pada umumnya, konfliknya ringan dan happy ending.

*

Buku ini merupakan buku pertama dari 12 buku seri Wyoming Men. Setelah baca yang pertama, saya jadi ragu untuk membaca yang kedua, dan seterusnya.

Cara berceritanya kurang oke. Chemistry antara Mallory dan Morie juga tidak terasa. Rasanya malah sinetron banget, dimana yang antagonis terlihat jahat sekali dan yang protagonis seperti bidadari. Untung belum hunting buku-buku berikutnya.

Reuni

Jujur aja, saya bosan membacanya, tidak ada yang membuat saya tertarik untuk meneruskan buku ini dari segi apapun, berhubung udah beli ya mau nggak mau kudu dibaca biar nggak mubazir. Akhirnya toh ya kelar juga.

Ceritanya tentang Charles, seorang profesor berusia 50-an yang datang ke reuni teman-teman kampusnya. Tidak seperti lainnya yang hadir dengan keluarganya, Charles datang sendiri. Ia memang sudah lama bercerai dan memiliki satu anak laki-laki yang sudah berusia 25 thn.

Saat mengobrol dengan beberapa teman-teman kuliahnya. Ingatan membawanya kembali ke masa-masa kuliah dulu. Usia yang masih sangat muda dengan obsesi ingin menjadi penyair.

Kedekatannya dengan Julia, calon penari balet yang cantik, sempat membuatnya ingin menuliskan sajak padanya. Nasehat dosennya saat itu, “Jangan pernah menulis sajak cinta untuk seorang gadis.”

Dalam lamunannya, Charles memutar kembali masa lalu tentang memori romansanya dengan Julia. Ia sibuk menafsirkan dan merenungkan sebab akibat kandasnya berhubungan dengan Julia.

Pikiran Charles di reuni, berganti-ganti dari masa kini ke masa lalu, berulang-ulang.

Sumpah, capek banget bacanya.

Di sepertiga akhir buku, terjawablah sudah mengapa Charles galau ugal-ugalan saat mengenang Julia.

Rupanya saat itu Julia hamil dan ingin aborsi. Sedangkan Charles dengan pede merasa bisa menjadi ayah dari jabang bayi tersebut. Julia tak percaya, mereka bertengkar hebat, keesokan harinya Julia menghilang dan tak pernah kembali.

Sampai kini, Charles tak pernah lagi bertemu dengan Julia. Sejak saat itu, setiap hari ia selalu memikirkan Julia, apakah ia jadi aborsi atau tetap mempertahankan janinnya.

Hidupnya hingga kini hanya berharap mendapatkan kabar dan jawaban atas rasa penasaran yang menghantuinya selama bertahun-tahun.

Reuni memang melelahkan.

Dalam acara reuni, kita sering kali terseret pikiran masa lalu yang akhirnya memunculkan kata “seandainya… ” atau “seharusnya… ”. Ya seperti Charles.

Haduh, capek deh. Memang tidak semua orang mampu datang ke reuni.

Bintang 2/5

The Count of Monte Cristo

Ketika buku yang saya beli secara online tiba dan lihat hampir 700 halaman, lumayan keder juga. Udah klasik, tebel pula. Kapan selesainya nih? Begitulah pikir saya.

Untungnya buku versi terjemahan terbitan Imortal Publishing yang saya baca ini lumayan enak dan mengalir. Ditambah lagi alur cerita untuk ukuran buku klasik tidak bertele-tele membuat buku ini ringan dibaca.

Cerita berawal dari Edmond Dantes, pelaut muda yang baru kembali dari berlayar.

Kepulangannya membawa banyak uang dan kabar gembira untuk ayahnya, bahwa ia akan diangkat menjadi kapten kapal. Selain itu kepulangan Dantes juga dalam rangka melamar dan bertunangan dengan Mercedes, gadis pujaannya.

Fernand, pria yang juga menyukai Mercedes, patah hati dan cemburu. Bersama Danglars, bendahara kapal yang iri dengan kenaikan jabatan Dantes, mereka bersekongkol memfitnah Dantes sebagai mata-mata pendukung Bonaparte.

Monsieur de Villefort, jaksa ambisius menjadikan kasus ini sebagai batu loncatan bagi karirnya, lalu menjebloskan Dantes ke penjara.

Tentu saja Dantes depresi berat di penjara. Dalam kekalutannya, ia berkenalan dengan seorang tahanan tua jenius yang bernama Abbe Faria. Beliau lalu membantunya untuk menganalisa penyebab ia dipenjara, siapa saja yang bersekongkol, dan apa motifnya.

Sembari merencanakan untuk kabur bersama, Faria menghibahkan seluruh ilmu yang dia punya pada Dantes. Bahkan, rasa sayang Faria terhadap Dantes yang sudah seperti anaknya sendiri, membuatnya mewariskan seluruh harta miliknya yang disembunyikan dalam gua di pulau kecil Monte Cristo.

Ketika Faria sakit keras dan akhirnya meninggal, Dantes menemukan cara untuk kabur dengan cara menukar isi kantong jenazah Faria dengan dirinya.

Dantes pun berhasil menghirup hawa kebebasan setelah 14 tahun di penjara.

Ia bergegas ke pulau Monte Cristo, mengambil harta Faria yang sudah diwariskan kepadanya, lalu menyusun rencana balas dendam.

Dantes pun mengubah citra dirinya. Dari pemuda sederhana yang polos menjadi pria dewasa dengan penampilan ala bangsawan kaya yang cerdas dan eksentrik. Namanya pun berganti menjadi Count of Monte Cristo.

Perubahan drastis membuatnya sulit dikenali oleh orang-orang yang dulu mengenalnya.

Buku ini keren sekali. Sangat memanjakan keinginan saya sebagai pembaca. Kadang-kadang kalau kita baca buku, plot twist berbelok dan terkadang membuat kita kecewa “yaah, kok gini.”
Buku ini tidak sama sekali. Pembalasan dendam yang disusun dengan rapi dan cerdas, membuat saya sebagai pembaca terpuaskan.

Saya sampai tidak menyadari ketebalan 700 halaman buku saking asyiknya membaca Dantes menjalankan misinya. Tiap membalik halaman membuat rasa optimis saya makin naik tinggi.

Mengikuti kisah Dantes bangkit dari titik terendah. Lalu dengan modal harta dan ilmu dari Faria, satu persatu semua musuhnya ia bunuh karakternya perlahan-lahan, dengan rentetan penderitaan yang mengguncang mental berturut-turut tanpa henti, sampai musuh-musuhnya malu, bahkan ada yang berakhir dengan bunuh diri secara tragis.

Di benak saya, sulit sekali memandang Dantes sebagai tokoh jahat. Disetiap langkahnya, terbersit perasaan bersalah dalam diri Dantes, namun demi keadilan ia harus lakukan itu. Yang menarik, Dantes tahu batas kapan ia harus berhenti.

Karakter Dantes ini benar-benar mempesona. Banyak rencana gila yang dilakukan dan membuat saya berpikir, kok bisa ya penulis merancang plot sebagus dan serapi ini?

Bintang 5/5. Edmond Dante memang lakik banget.

Penyihir Dari Oz

Ketika masih kanak-kanak saya pernah nonton filmnya di TV dengan berbagai versi, dari yang film lawas sampai film kartun. Namun tiap pertengahan nonton, selalu saya tinggalkan. Saya sendiri lupa kenapa tidak pernah nonton sampai tuntas.

Jadi saat melihat buku ini, saya tergerak untuk membacanya, siapa tau dengan baca buku ini saya paham apa yang bikin saya malas nonton sampai akhir.

Ceritanya sebetulnya menarik. Suatu hari Dorothy, gadis kecil yang tinggal di Kansas terbawa angin tornado beserta rumah dan seisinya, kemudian jatuh di sebuah negeri indah yang aneh. Tentu saja ia ingin segera balik ke Kansas.

Berdasarkan petunjuk para penyihir Utara, Dorothy disarankan ke kota Emerald menemui penyihir Oz. Konon ia dikenal sebagai penyihir paling sakti sedunia. Letaknya yang nun jauh di sana membuatnya menjadi petualang dadakan.

Sebagai buku cerita fantasi di tahun 1900, L. Frank Baum membuat gebrakan baru dalam menciptakan karakter. Dia tidak suka dengan tokoh mistis seperti jin, peri, atau kurcaci. Maka diciptakannya singa yang bisa ngomong, orang-orangan sawah hidup, dan manusia berbadan kaleng. Merekalah yang menemani Dorothy berpetualang.

Di pertengahan cerita saya baru paham, kenapa dulu tontonan ini selalu saya tinggalkan. Rupanya banyak sekali twist di buku ini. Saking banyaknya berasa kayak sinetron ratusan episode.

Kayaknya mau bubar, eh ada konflik baru.
Mau bubar, eh ada konflik baru lagi.
Mau bubar, eh ada konflik baru lagi, lagi dan lagi.

Bayangkan, si gadis kecil yang udah jalan jauh dan bertarung dengan ini dan itu dalam perjalanan menuju ke istana Oz. Sampai istana dan menghadap penyihir Oz, malah dikasih syarat lagi.

Permintaan Dorothy dkk akan dikabulkan penyihir Oz jika mereka berhasil membunuh penyihir barat yang letaknya nun jauh di barat. Jalan lagi deh, berpetualang lagi deh, bertarung lagi deh. Haduh, berasa di prank hati ini.

Setelah sukses melenyapkan penyihir Barat dan balik lagi jalan jauuuuh ke Oz, ternyata si Oz tidak sesakti itu. Dia tak mampu mengabulkan permintaan Dorothy untuk balik ke Kansas. What the .. Maksud lo? Argh! Dorothy (dan saya tentunya) sedih karena diberi harapan palsu.

Singkat cerita setelah dijejali aneka twist lagi, lagi dan lagi yang membuat hati ini lelah lahir batin saat baca, akhirnya penyihir di Selatan memberi tahu caranya pada Dorothy supaya bisa balik ke Kansas.

Apa tuuuh?

Dorothy cukup menghentakkan kaki 3x. Yup, sodara-sodara. Sesederhana itu. Emosi gak lu? Ngapain bertarung kesana-kemari kalau endingnya gitu doang. Huh.

Buku ini cocok dibaca untuk yang punya jiwa petualang, bukan buat saya. Masa iya saya ngasih bintang 5 dengan semua prank ini? Ogah! Bintang 3/5 aja.