
Baca buku ini tanpa ekspektasi apa-apa. Ceritanya menarik, kalimatnya efektif dan nggak bikin bosen. Tuntas dalam dua hari. Awal ceritanya biasa, namun lama-lama ketegangan ceritanya naik sedikit-sedikit dan berakhir dengan ending yang mengejutkan.
Cerita diawali dengan Naomi, penghuni baru Panti Jompo yang belum bisa beradaptasi dengan kondisi barunya. Tiap hari dia mengeluh dan menangis. Puncaknya ketika jadwal berkunjung akhir pekan, anaknya tidak datang. Ia merasa terbuang dan tak diinginkan.
Yohana, penghuni lama Panti Jompo mendorong Naomi utk mengikuti audisi sambil menunjukkan iklan di surat kabar. Seorang pengusaha kaya yatim piatu bernama Victor, mengadakan audisi ayah, ibu, kakak, dan adik untuk diadopsi menjadi anggota keluarganya.
Yohana sendiri tidak tertarik ikut, toh ia masuk panti jompo atas keinginannya sendiri setelah suami dan anaknya tewas karena kebakaran.
Singkat cerita, dengan bantuan Yohana, Naomi lolos audisi menjadi nenek dan keluar dari panti jompo.
Suatu hari dalam perjalanannya pulang naik bis seusai mengantar koper milik Naomi, seorang nenek yang duduk disebelah Yohana terlihat menggunakan bros lego kelap-kelip di bajunya.
Ngobrol-ngobrol ternyata nenek tersebut adalah sebuah robot canggih milik perusahaan “Keluarga Lego”. Dia baru saja disewa selama satu jam oleh sebuah keluarga untuk menjadi neneknya.
Keluarga Lego menawarkan solusi menarik bagi mereka yang merasa tidak mendapatkan keluarga idealnya hanya melalui aplikasi yang ada di handphone. Yohana pun tertarik mencobanya. Ia ingin seperti teman-teman jompo lainnya, yang setiap akhir pekan dikunjungi anak dan cucunya.
Akhirnya ia menyewa anak laki-laki. Sungguh menyenangkan, robotnya benar-benar seperti manusia. Sangat perhatian dan sayang padanya.
Suatu hari Naomi menulis surat dan menyarankan Yohana untuk pindah dari rumah jompo tersebut. Naomi yg kini kaya mendadak sejak diadopsi Victor menyediakan tempat tinggal beserta perabot lengkap untuk Yohana di sebuah rusun.
Tentu saja Yohana setuju. Dia bosan dan muak dengan kegiatan dan aturan di panti jompo. Ia ingin bebas hidup sesuka hatinya.
Untuk melengkapi hidupnya, ia menyewa robot cucu yang tiap minggu berkunjung kerumahnya. Namun lama-lama ia bosan. Yohana hidup sendiri dalam kesepian yang memuakkan dan merasa hari-harinya hampa.
Ia ingin kembali ke panti jompo. Tempat dimana ia punya banyak aktifitas, ada teman yang bisa diajak mengobrol, dilayani suster, makanan tersedia, tidak perlu memasak, menyapu dan mencuci baju sendiri.
Barangkali dalam buku ini, penulis ingin menyampaikan pentingnya peran keluarga dalam hidup manusia, yang tentu saja tidak bisa digantikan oleh teknologi paling canggih sekalipun.
Bintang 3/5. Inspiratif, nemu sesuatu.


