Great Expectations

Niat saya membaca berawal nonton film Great Expectations bertahun-tahun lalu, yang konon merupakan adaptasi dari novel Charles Dickens dibuat menjadi versi yang lebih modern. Bahkan salah satu soundtracknya, Life in Mono – Mono yang gencar diputar di MTV merupakan lagu favorit saya kala itu.

Sekian lama saya meyakini bahwa Great Expectations – 1998 itu ya begitulah ceritanya. Keyakinan itu makin kuat saat saya menonton versi film Indianya, yang berjudul Fitoor.

Namun setelah saya baca buku yang tebalnya hampir 700 halaman ini, saya baru paham cerita yang sebenarnya. Speechless deh, jadi selama bertahun-tahun ekspektasi saya terhadap isi buku ini salah besar. Saya tertipu, nama tokoh-tokohnya aja beda. Sebetulnya alurnya sama, hanya lebih fokus di bagian asmaranya saja, yang ternyata juga beda-beda tipis.

Harap maklum, sekalian studi banding nih.

Cerita dalam buku ini memang menarik. Bisa dibilang ceritanya semacam Cinderella versi anak laki-laki deh. Jika impian kebanyakan anak perempuan bisa berdandan cantik dengan gaun indah dan ditaksir pangeran, maka Great Expectations adalah impian anak laki-laki punya seseorang yang bisa membantunya mengubah nasib menjadi sukses.

Charles Dickens menceritakan tentang Pip, anak yatim-piatu yang tinggal bersama kakak perempuan dan suaminya. Hidupnya yang miskin dan penuh derita membuatnya tertekan dan muak.

Keinginan untuk mengubah nasib makin kuat saat ia diminta datang menemani Nona Havisham, wanita tua kaya setengah gila yang ditinggal tunangannya saat hari H pernikahan bertahun-tahun lalu.

Di rumah itulah awal mula Pip bertemu Estella, putri angkat Nona Havisham yang sebaya dengannya. Estella yang dingin dan angkuh memandang rendah padanya. Bahkan di hari pertama mereka bertemu, Pip dibuat sakit hati sampai menangis. Heleh.. heleh..

Hidup Pip berubah ketika seorang pengacara datang menemuinya dan mengatakan ada seseorang yang tidak mau disebut namanya, menyokong Pip untuk hidup yang lebih baik. Pip pun pindah ke London dan memulai hidup baru.

Ketika menginjak usia 20, Pip tumbuh sebagai pria terhormat dan terpelajar. Kepercayaan diri membuatnya terobsesi untuk bertemu Estella kembali dan membuktikan bahwa ia layak bersanding dengannya. Bahkan Pip memupuk ekspektasi yang tinggi untuk bisa menikahinya.

Berbeda dengan film, yang akhirnya terjadi adegan one night stand. Dalam novel, Estella jinak-jinak merpati. Setiap kali Pip akan ‘menangkap’, Estella menghindar ‘terbang tinggi’ tak terjangkau. Masih saja Estella memandang remeh Pip, sama seperti waktu kanak-kanak.

Tidak hanya tentang Estella, seluruh ekspektasi Pip yang diyakini selama bertahun-tahun, terbuka satu persatu dan semuanya keliru. Yup, twist bertebaran di separuh bab akhir buku.

Yang paling gong tentu saja, penyokong dana selama ini. Bertahun-tahun Pip punya ekspektasi bahwa yang membiayai hidupnya adalah Nona Havisham. Namun realita yang tak terduga membuat Pip syok, kecewa, dan mumet sampai nggak mampu berkata-kata.

Ah, seru deh pokoknya.

Dickens ternyata jago bikin alur cerita yang mempesona sekaligus menjengkelkan. Banyak adegan yang berkesan sehingga menebus semua kebosanan akan tebalnya halaman buku.

Dalam novel ini saya ikut merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Pip. Konflik batin Pip yang dipenuhi oleh banyak harapan dan impian sangat relate bagi kita semua. Siapa sih yang nggak pengen punya cita-cita setinggi langit dan ingin nasibnya berubah jadi lebih baik?

Bintang 5/5

Pangeran Bahagia dan Rumah Delima

Buku terbitan Kakatua yang saya baca merupakan terjemahan dua buku yang dijadikan satu, yaitu kumpulan dongeng: Pangeran Bahagia (The Happy Prince – 1888) dan Rumah Delima (A House of Pomegranates – 1891).

Dongeng-dongeng di buku Pangeran Bahagia sudah pernah saya dengar atau saya baca. Kalau kumpulan dongeng Rumah Delima saya baru tahu, mungkin karena kisahnya lebih panjang dan konfliknya lebih rumit untuk anak-anak.

Dalam setiap dongengnya, Wilde menunjukkan berbagai watak manusia yang tercermin dalam karakter setiap tokohnya. Bisa dibilang disemua cerita, karakter narsis dengan perilaku egois terlihat paling menonjol. Ada yang dalam wujud binatang, tumbuhan, patung, bahkan sebuah roket.

Saat membaca saya bertanya-tanya, kenapa ya dongeng jaman dahulu ceritanya lumayan dark, tidak ceria dan jarang yang happy ending? Di Indonesia pun begitu, Malin Kundang dan Sangkuriang adalah salah satu contohnya. Begitu juga dengan buku ini, hampir semua endingnya tragis dan berakhir dengan kematian.

Padahal karakternya unik-unik, jalan ceritanya seru, dan tidak tertebak dengan mudah. Namun cerita yang menyedihkan dan tidak menyenangkan, rasanya kok nggak cocok untuk segmen anak-anak jaman sekarang yang terbiasa dengan happy ending.

Satu hal lagi yang menarik, di halaman depan, Nurul Hanafi, penerjemah buku ini mengatakan bahwa dongeng-dongeng Wilde menyimpan bara seksualitas yang menyimpang.

”… Pangeran bahagia meminta burung (jantan) mencium bibirnya sebagai tanda perpisahan… Rasa sayang Raksasa egois terhadap bocah lelaki yang bermain dirumahnya… Raja muda berlama-lama menatap patung Adonis — pemuda tampan yang digilai Aphrodite dan Persephone… Si Anak Bintang yang lebih suka bercermin mengagumi wajahnya sendiri ketimbang kecantikan seorang gadis.”

Pernyataan tersebut membuat saya akhirnya membaca buku ini dengan perspektif baru. Begitulah, saya jadi sibuk mencari ‘udang di balik batu’.

Karya Wilde ini memang keren, namun jangan terburu-buru menyimpulkannya sebagai kumpulan dongeng pengantar tidur belaka, karena tersimpan banyak makna dalam setiap kisahnya.

Bintang 3/5.

J.P.V.F.K – Syahmedi Dean

Menemukan buku ini di lapak buku bekas, saya langsung jatuh cinta pada sampul oranye-nya yang terang benderang disertai ilustrasi 4 orang dengan outline warna silver, keren sekali. Salah satu sampul terkeren yang pernah dibuat Gramedia.

Di sampul belakang tertulis bahwa ini kisah 4 wartawan lifestyle dari Jakarta ke Paris meliput fashion week. Tidak hanya mengejar liputan, namun mereka juga mengejar french kiss. Hah? Kasihan amat, mau french kiss aja kudu keluar benua dulu.

Baiklah, 2 bab pertama yang membosankan. Tentang Alif dan Harris yang sibuk kerja-kerja-kerja di London (yup, sekedar mengingatkan judulnya Paris lho, bukan London), setelah itu lanjut ke Milan. Seluruh kegiatan peliputan diceritakan secara detail. Sangat detail malah.

….Tidak semua brand fashion mengadakan show di Fiera Internazionale di Milano ini. Brand yang memiliki gengsi dan nama yang lebih terkenal biasanya mengadakan show di tempat tersendiri. Seperti Giorgio Armani, ia memiliki gedung teater sendiri. Prada, memiliki hall sendiri di via Fogazzaro 36. Dolce & Gabbana selalu di rumah sendiri di Via San Damiano 9. Gucci selalu menyewa aula Hotel Sheraton Diana di Piazza Oberdan. Bottega Veneta punya kantor dengan show room besar di Via Picceto 15/17. Versace kerap di Via Gesu 12, dan Gianfranco Ferre di Via Pintaccio 21. Jadwal show peserta MFW diatur dengan rapi oleh pemerintah lewat organisasi Camera Nazionale della Moda Italiana.

Terlalu banyak informasi yang bikin muak. Mana drama cintanya? Kok isinya deskripsi fashion melulu? Saya sempat putuskan untuk berhenti baca dulu karena buku ini nggak jelas arahnya.

Dua hari kemudian saya coba baca lagi dengan perspektif yang berbeda. Saya anggap lagi baca buku non fiksi tentang “Seluk-beluk fashion editor keliling London-Milan-Paris meliput fashion week”. Nah, baru deh ini bener, dan saya mulai bisa menikmati buku ini.

Tahu nggak, lebih dari separuh halaman buku, tepatnya di bab 19, mereka berempat baru ketemu di Paris. Buat yang nguber dramanya langsung aja meluncur ke bab 19 daripada puyeng-puyeng baca liputan pekerjaan Alif dan Harris dari bab 1 sampai 18.

Dramanya pun, duh, jujur aja, mending dihilangkan semua dan jadi buku non fiksi aja deh. Karakter tokohnya kurang kuat, chemistry persahabatan tidak terasa, konfliknya juga apa sih? Nggak jelas. Dan ini ternyata tetralogi alias ada 3 buku lagi? Plis.

Sayang banget. Namun setidaknya lewat buku ini (kalau dipandang secara non fiksi) saya jadi paham betapa ribet dan sulitnya menjadi wartawan fashion.

Bahkan akhirnya terjawab rasa penasaran saya bertahun-tahun lalu ketika mengikuti serial Sex n The City di TV. Dulu, setiap nonton saya bertanya-tanya. “Gajinya berapa ya si Carrie, dengan profesi penulis artikel bisa pakai sepatu Louboutin, tas Chanel dan seabrek brand ternama lainnya?”

*
Bintang 1/5 untuk dramanya
Bintang 4/5 kalau ini buku non fiksi

Oh ya, saya suka ucapan terima kasih penulis di halaman belakang yang dibuat secara kreatif.

Aku – Sjuman Djaya

Wishlist saya sekian purnama akhirnya tercapai juga. Buku bekas yang saya dapatkan merupakan cetakan ke 6 tahun 2003.

Diterbitkan pertama kaki oleh Pustaka Utama Grafiti 1987, lalu diterbitkan ulang oleh Metafor Punlishing tahun 2003.
Cetakan kedua : Agustus 2003
Cetakan ketiga : Oktober 2003
Cetakan keempat : Oktober 2003
Cetakan kelima : Desember 2003
Cetakan keenam : Desember 2003

Dalam sebulan sampai cetak 2x, pastinya berkat kesuksesan film AADC tahun 2002. Seingat saya saat itu memang banyak orang penasaran dengan buku “Aku” yang selalu dibawa Rangga, termasuk saya.

Hey Rangga, kamu cocok deh jadi influencer buku dan terima endorse.

Yang membuat saya sejak dulu penasaran, apa sih isinya? Kok Rangga selalu bawa buku itu sampai lecek dan kebingungan saat buku tersebut hilang. Lalu dari sekian banyak buku sastra, kenapa buku “Aku” yang dipilih sebagai properti film? Apakah karena judulnya “Aku” yang kesan ke-aku-an akan ego yang besar. Atau memang si Rangga ini terkagum-kagum dengan Chairil?

Sebelum punya bukunya, ekspektasi saya memang seperti skenario film pada umumnya. Yang full dialog gitu. Ternyata punya Sjuman Djaya ini berbeda. Untuk sebuah skenario film, bukunya ini tipis, cuma 151 halaman. Singkat, jelas, padat. Saya lebih suka versi ringkas ini, indah sekali.

Dengan mudah saya bisa membayangkan langsung adegan filmnya, suasananya, sampai tone warna filmnya. Buat saya ini lebih menarik mengetahui karakter Chairil Anwar yang sesungguhnya, daripada membaca biografi biasa dengan tulisan panjang yang membosankan.

Saat membaca, mau nggak mau akhirnya saya membandingkan Rangga dengan Chairil.

Chairil ternyata anak pejabat. Hidup dalam keluarga yang tak harmonis membuat Chairil haus kasih sayang. Hidup hedon dan seenaknya, luntang-lantung kesana-kemari. Merasa sebagai seniman, ia tak mau punya pekerjaan tetap, ia ingin merdeka.

Walau tidak tampan, hidupnya selalu dikelilingi wanita. Setidaknya ada 5 nama perempuan yang disebut dalam buku ini. Namun saya yakin yang tak disebut jumlahnya pasti banyak. Dari mulutnya sering keluar rayuan gombal. Red flag abis.

Chairil memang pintar berkata-kata. Ada satu momen dimana ia membubuhkan kata “Bung, ayo bung!” pada poster perjuangan. Cuma 3 kata, namun bisa membakar semangat yang membacanya.

Kontras banget sama Rangga yang pendiam, cool, cuek sama perempuan, dan suka menyendiri. Makanya saya nebak-nebak, apa iya Rangga ini punya angan-angan jadi pemuda pemberani, yang jago bikin puisi dan mudah bergaul, seperti Chairil Anwar?

Setelah membaca tuntas buku ini, bagi saya Sjuman Djaya-lah yang terkeren karena sudah meninggalkan warisan indah untuk kita semua. Jadi ingat dialog Cinta kepada Rangga, “Sayang Sjuman Djayanya keburu meninggal.”

Saya sih berharap filmnya tidak pernah dibuat, biarlah orang baca buku keren ini. Karena sering kali setelah ada filmnya, kebanyakan orang tidak ingin baca bukunya lagi.

*

5/5 untuk idenya Sjuman Djaya
4/5 untuk Chairil Anwar yang ndableg.
3/5 untuk Rangga sebagai influencer.

Rebel Blue Ranch – Lyla Sage

Nggak nyangka saya suka sama series ini. Awal tertarik baca karena terpikat sama sampulnya yang cute saat lihat di Kindle. Belakangan ini saya lagi suka banget baca romansa kehidupan ranch dengan cowboy-cowboynya haha. Seru banget.

Nah, di buku ini ceritanya tentang 3 bersaudara + 1 mantan si sulung. yang tinggal di Meadowlark, Wyoming. Jadi series ini ada 4 buku.

1. Done & Dusted : 2/5

Seusai si bungsu, Emmy lulus kuliah di luar kota, ia kembali pulang ke ranch. Saat di bar, Emmy melihat Luke, sahabat kakak sulungnya. Lama tidak bertemu, keduanya saling terpana, pangling, karena makin cakep.

Begitulah awalnya. Luke yang sehari-hari bekerja di ranch sebagai pelatih berkuda untuk anak-anak, jadi sering bertemu Emmy.

Walaupun sering ngobrol dan merasa saling cocok, Luke punya ketakutan untuk menyatakan cinta. Adik sahabatnya gitu lho. Udah pasti si sulung hafal sifat dan kelakuan Luke. Belum lagi riwayat Luke dengan cewek-cewek.

Gimana kalau jalinan asmaranya nggak lancar? Otomatis mempengaruhi persahabatan mereka.

2. ⁠Swift & Saddled : 4/5
Dalam rangka mengembangkan sebagian lahan ranch untuk penginapan, Weston, si anak tengah diserahi tanggung jawab ayahnya mendatangkan desainer interior untuk merenovasi penginapan.

Malam sebelum hari H meeting pertama, Ada, sang interior designer mampir ke bar untuk makan malam dan menuntaskan pekerjaan dengan laptopnya.

Di bar Ada mengobrol basa-basi dengan seorang pria yang akhirnya berlanjut dengan ciuman panas di ujung ruangan. Ada yang udah lama single nggak peduli. “Toh, aku cuma sementara di kota ini. Apa salahnya kalau menyenangkan diri sendiri sejenak?”

Tentu saja Ada salah. Karena pria yang dicium tersebut adalah Weston! Saat meeting keesokan harinya mereka berdua terkaget-kaget dan salah tingkah.

Ada sangat malu. Imejnya pasti hancur di hadapan Weston. Sebaliknya Weston juga dalam hati malu, kesannya dia pria yang nggak bener.

Walhasil sepanjang proyek berjalan, mereka salah tingkah melulu. Dua-duanya jadi sok cool dan sok nggak peduli dan bersikap profesional. Namun tiap bertemu selalu timbul deg-deg serr yang bikin mules.

Ending bisa ditebak lah yaa.

3. ⁠lost & lassoed : 5/5
Gus si anak sulung paling sibuk diantara mereka bertiga. Jam 6 pagi sudah harus bekerja sampai petang mengurus ranch.

Sebagai single dad, anak perempuannya jadi kurang perhatian. Bahkan saking sibuknya ia sampai lupa menjemput anaknya.

Saat meminta tolong Emmy, adik bungsunya untuk menjemput anaknya, Emmy berhalangan dan menyuruh sahabatnya yang bernama Teddy (ini nama cewek ya) untuk menjemput.

Gus bukannya berterima kasih, malah agak dongkol kenapa si Teddy yang disuruh. “Kayak nggak ada yang lain aja.”

Memang saat itu tidak ada pilihan lain. Sulit mencari orang yang bisa dipercaya. Singkat cerita akhirnya si Teddy-lah yang bertugas mengantar jemput dan menemani anak sampai Gus pulang kerja. Teddy tak keberatan, toh ia sudah menganggap Riley sebagai keponakannya sendiri.

Gus mengenal sahabat adiknya sejak kecil, namun tiap kali bertemu Gus dan Teddy selalu bertengkar. Ada aja yang diributkan. Di buku 1 & 2, banyak dialog debat kusir mereka.

Di buku ini, lewat Riley, anak perempuan Gus, keduanya jadi punya perspektif baru. Ternyata Gus tidak sekaku itu saat mengasuh anaknya, Teddy juga ternyata punya potensi jadi ibu yang baik.

Plot twist di buku ini akhirnya terungkap asal muasal mengapa mereka saling membenci satu sama lain.

4. Wild & Wrangled : 3/5
Buku ke 4 ini tentang mantannya Gus.

Cerita di buka dengan adegan Cam Ashwood yang masuk ke bar dengan gaun pengantin dan air mata di wajahnya. Rupanya calon pengantin pria membatalkan pernikahan di hari H lewat SMS.

Dusty Tucker yang sedang duduk di pojok bar melihat dan membujuk Cash keluar dari toilet bar. Lalu mereka berdua masuk mobil Dusty dan meluncur ke arah luar kota. Sepanjang perjalanan Dusty hanya diam dan membiarkan Cam yang membisu sambil terisak-isak.

Cerita pun flash back ke jaman SMA, saat Cam dan Dusty berkenalan untuk pertama kalinya. Saat itu Cam anak baru pindahan dari kota. Cantik, pintar, pemalu. Dusty langsung menyukainya.

Singkat cerita mereka pacaran diam-diam, karena orang tua Cam menyuruhnya untuk fokus pada sekolah. Sementara si Dusty yang dimata ortu Cam semacam pemuda madesu, masa depan suram.

Selepas SMA, Cam dan Dusty pindah ke kota yang berbeda. Mereka pun memutuskan untuk menyudahi hubungan.

Kini Cam menjadi pengacara dan Dusty menjadi cowboy. Hidup Dusty yang berpindah-pindah negara dari US, Canada, Brazil sampai Australia, membuatnya lelah dan kembali ke Wyoming untuk menetap. Begitu juga dengan Cam, ia juga balik supaya lebih dekat dengan Riley, anak semata wayangnya.

Dusty yang tidak pernah bisa melupakan Cam, mendapatkan angin segar untuk meraih cinta Cam kembali. Usahanya nggak main-main. Banyak pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan sampai hati Cam meleleh.

*

Kalau baca paparan diatas sepertinya ceritanya klise ya. Namun saya suka banget sama teknik menulisnya, sampai rasanya pengen juga bisa nulis seperti ini. Kalimat-kalimatnya bolak-balik bikin nyess. Tiap buku habis saya baca 2 hari aja, padahal saya biasanya agak lama kalau baca buku bahasa inggris.

Saat resensi ini saya buat, Rebel Blue Ranch sedang dibuat film serinya. Ah, jadi nggak sabar pengen nonton dan membandingkan sama bukunya.