Dari Penjara ke Penjara

Dalam benak saya Tan Malaka adalah sosok yang misterius, fotonya saja sedikit sekali. Biar lebih kenal maka saya putuskan untuk mencoba baca otobiografinya.

Buku terbitan Narasi ini ditulis sendiri oleh Tan Malaka. Tulisannya mengalir kadang ngelantur, jadi seperti membaca buku harian.

Tan Malaka menuliskan bagian hidupnya yang paling dramatis. Perjalanan hidup semasa dirinya menjadi pelarian politik, berpindah-pindah melintasi berbagai negara. Dari Belanda, Jerman, Sovyet, Filipina, Tiongkok, Shanghai, Burma, Singapura, disertai keluar masuk penjara.

Seusai menjalani pendidikan di Belanda, Tan Malaka kembali ke Indonesia dan mengawali karirnya sebagai guru bantu di sekolah anak kuli perkebunan tembakau Deli.

Tak puas dengan karirnya, ia lalu merantau ke pulau Jawa. Di Semarang, kepandaiannya menulis membuat dirinya bergerak menjadi aktivis Murba dan fungsionaris PKI. Selain itu bersama Sutopo ia ikut membangun sekolah rakyat.

Merasa kehadiran Tan Malaka mengganggu, pemerintah Hindia Belanda kemudian menangkap dan membuangnya ke Belanda.

Selama ini saya mengira kalau dibuang ke Belanda itu masuk penjara. Ternyata tidak. Di Belanda Tan Malaka malah asyik berpolitik dan menjadi anggota CPH (Partai Komunis Holland). Ketika di Belanda, ia merasa dirinya selalu hidup dalam bahaya, dari situlah awal ia melarikan diri ke banyak tempat.

Selama pelariannya Tan Malaka terus menerus melakukan penyamaran, berganti identitas, sampai memalsukan dokumen seperti paspor. James Bond mah ada tim khusus. Nah, ini semuanya direncanakan sendiri. Situasi darurat tersebut lama-lama menjadi bagian yang normal dalam kehidupannya.

Setiap singgah di negara tertentu, ia mengganti namanya. Di Filipina ia menggantinya namanya dengan Elias Fuentes, Estahislau Rivera, dan Alisio Rivera. Menyeberang ke Singapura ganti lagi jadi Hasan Gozali.

Di Shanghai namanya ia ubah jadi Ossorio, pindah ke Hongkong jadi Ong Song Lee, saat di Tiongkok berubah lagi jadi Howard Lee, dan ketika di Burma jadi Tan Ming Sion. Saya jadi curiga, jangan-jangan Tan Malaka itu nama karangan dan bukan nama pemberian orang tuanya.

Dalam buku ini terlihat jelas jejak-jejak perjuangan bawah tanahnya yang sangat rapi dan misterius. Hidupnya yang berat membuat Tan Malaka yang introvert tidak mudah mempercayai orang. Ia sangat tertutup, kesepian dan terasing.

Namun anehnya, dia pintar menjalin relasi dan meraih simpati dengan tokoh-tokoh pergerakan di setiap negara yang ia singgahi. Sehingga selalu punya pekerjaan selama masa pelarian.

Mulai dari juru tulis, wartawan, hingga pengajar semua dilakoni untuk bertahan hidup. Yang awalnya ia hanya bisa berbahasa Melayu dan Belanda akhirnya menguasai bahasa Jerman, Mandarin, dan Tagalog.

Buku ini menarik untuk dibaca. Banyak wawasan tentang pandangan Tan Malaka yang berhaluan kiri dan kondisi sosiopolitik di tempat yang ia singgahi, serta tokoh yang menginspirasinya.

Cuma gimana generasi muda jadi tertarik baca kalau bahasanya jadul dan terkesan berat gini ya? Mustinya ada penerjemah untuk ‘bahasa kekinian’ deh.

Bintang 4/5. Keren, baca lagi kapan-kapan.

Kera Sakti

Di era 90’s serial Kera Sakti dengan lagu rap sebagai pembukanya, menjadi tontonan favorit banyak orang. Saya termasuk lumayan mengikuti serialnya walau nggak rutin. Jadi senang sekali saat nemu buku terbitan Kakatua ini. Kini saya jadi tahu cerita komplitnya.

Kisah kera sakti yang ditulis tahun 1596 atau sekitar 4 abad yang lalu, merupakan sisipan bab 61 dan 62 dari Selingan Perjalanan ke Barat.

Kelihaian penulis meramu beragam ajaran, pandangan dan falsafah Buddhisme, Taoisme hingga kepercayaan budaya lokal, membuat cerita ini banyak disukai orang.

Kisahnya diawali dari Sun Wukong, seekor kera sakti yang mencari penawar supaya bisa hidup abadi. Bodhisatwa Guanyin pun meminta Sun Wukong bersama Babi Zhu Bajie dan Rahib Pasir, menemani Biksu Xuanzang melakukan perjalanan ke barat mencari kitab suci

Saat mereka berempat tiba di sebuah negeri yang diserang hawa panas, Sun Wukong teringat pada kipas sakti milik Putri Kipas Besi. Lalu ia pergi untuk meminjamnya.

Sialnya Sun Wukong bertemu dengan anak Putri Kipas Besi yang pernah bersiteru dengannya. Sun Wukong pun dihempaskan oleh hembusan kipas sakti sampai terlempar jauh ke depan rumah seseorang. Penghuni rumah tersebut memberikan tongkat anti angin dan pil pemberat tubuh.

Dengan pil pemberat tubuh Sun Wukong menyamar menjadi serangga kecil dan menyusup ke dalam perut Putri Kipas Besi, lalu mengaduk-aduk isi perut sampai ia kesakitan dan terpaksa menyerahkan kipas saktinya.

Setelah menyadari bahwa kipas yang diserahkan itu palsu, Sun Wukong memutuskan untuk menemui suami Putri Kipas Besi, yaitu Raja Banteng Iblis, agar bersedia merayu istrinya untuk menyerahkan kipas tersebut.

Raja Benteng Iblis tentu saja tidak mau membantu Sun Wukong yang pernah bersiteru dengan anaknya. Sun Wukong akhirnya menyamar menjadi Raja Banteng Iblis dan mengunjungi Putri Kipas Besi.

Putri Kipas Besi gembira menyambut ‘Raja Banteng Iblis’, karena selama ini suaminya lebih memilih tinggal bersama gundiknya daripada dirinya. Ia pun menghidangkan arak dan mencoba untuk merayunya.

Setelah mendapatkan kipas, Sun Wukong kembali ke wujud aslinya lalu kabur. Api di gunung akhirnya padam dan iklim negeri itu kembali normal, Sun Wukong bersama rombongannya pun melanjutkan perjalanan.


Walaupun ulasan saya sederhana, sesungguhnya buku ini lumayan berat. Banyak kata-kata kiasan, sajak dan puisi yang tersirat.

Pembaca diajak untuk menyelami batin, merenungi hasrat-hasrat terdalam dan tergelap dalam diri dengan harapan bisa meraih pencerahan spiritual.

Lewat buku ini saya juga baru paham kalau ternyata biksu Xuanzang melakukan perjalanan seorang diri.

Sun Wukong ternyata analogi dari ‘monkey mind’ yang secara simbolis adalah pikiran manusia yang suka loncat kesana-kemari. Begitu juga dengan Babi Bajie sebagai analogi sifat rakus dan Rahib Pasir yang mewakili rasa malas biksu Xuanzang.

Keberangkatan yang berawal dari kegelisahan biksu Xuanzang mencari penawar untuk membebaskan diri dari kecemasannya pada kematian, dalam perjalanannya menghasilkan perenungan akan ketidak-kekalan, yang membuatnya mencapai pencerahan di ujung kisah.

Bintang 3/5. Inspiratif, nemu sesuatu.

Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah

Perdana baca Hamsad Rangkuti. Dalam setiap cerpennya beliau sukses membuat saya terkejut. Keras, menohok dan mengharukan.

Seluruh cerita ini pernah dimuat di koran, jadi ilustrasi yang ada di koran juga disertakan untuk melengkapi cerita. Menyenangkan sekali, saya terhibur sekali lihat gambar-gambarnya yang oke.

Baiklah. Saya berikan score tiap cerpennya.

1. Perbuatan Sadis (1982) – 4/5
Terjadi penodongan siang hari di halte bis. Wanita muda berkalung emas jadi korban. Dengan tawa kemenangan ia berkata, “Jangan Bung pikirkan kejadian itu. Itu kalung imitasi.”

2. Sampah Bulan Desember (1983) – 3/5
Di sungai yang kotor dan banyak sampah, terapung mayat. Orang miskin disekitar sungai tak peduli dengan peristiwa yang terjadi, yang mereka lihat hanyalah cincin dan jam tangan yang dipakainya.

3. Cerita Awal Tahun (1979) – 2/5
Mobil Mercy kecemplung kali, barang didalamnya berhamburan terbawa arus. Dengan cepat Tugimin terjun mengejar uang 10rb.

4. Malam Tahun Baru di Sebuah Taman (1981) – 1/5
Saat tengah malam kedua patung itu membuka matanya, lalu bergerak. Waktu menanam padi telah tiba.

5. Kalah (1986) – 3/5
Perjalanan Kasto pulang dari Jakarta ke Brebes membawa mayat adiknya, dibantu Marto dan taksi gelapnya.

6. Karjan dan Kambingnya (1985) – 2/5
Pertemuannya Parman yang sukses sejak balik ke desa, membuat hatinya senang. Seekor kambing dihadiahkan untuknya.

7. Malam Takbir (1993) – 5/5
Bulu ayam milik anak perempuan yang sedang bermain bulu tangkis jatuh ke dalam piring nasi. Ia kepikiran lalu menangis, mengapa bapak tersebut tetap makan nasi yang sudah kotor itu.

8. Mimpi Buruk Murni (1983) -5/5
Bayi yang dibuang di depan pagar rumah mereka, akhirnya diambil ayahnya sembari menyerahkan segepok uang sebagai tanda terima kasih.

9. Penyair Bahman (1987) – 4/5
Tiga kaos partai tak terpakai yang ia berikan pada kawan lamanya, ternyata mengangkat derajat hidupnya. Dari pengamen jalanan menjadi pejabat. Ia pun penasaran, kaos partai yang mana yang membawa hoki.

10. Suara-suara (1982) – 3/5
Setiap kawannya ada yang mati ia gelisah. “Kita kehilangan satu suara. Jaga kesehatanmu. Kita tak boleh kehilangan banyak suara.”

11. Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah (1983) – 2/5
Demi pengobatan ibunya yang sakit, ia rela menjual diri, “Kita harus berani menjual kalau kita mau menjadi pembeli.” Lalu taksi dicegat, “Bawa kami ke rumah sakit.”

12. Rencong (1998) – 3/5
Sebelum perjamuan dimulai, suvenir rencong dari hotel yang dibawanya dititipkan seseorang, lalu ia ke toilet.

Saat di dalam kloset, terdengar dari luar letusan tembakan disertai teriakan panik banyak orang. Rupanya tamu penting tersebut tertusuk rencong miliknya.

13. Di Atas Kereta Rel Listrik (1999) – 4/5
Pelajar yang duduk disebelahnya didatangi gerombolan pelajar sekolah lain. Dengan mata kepalanya, ia melihat pelajar itu dilabrak, diseret, dihajar, lalu di lempar keluar kereta.

14. Sukri Membawa Pisau Belati – 3/5
Pisau belati sudah dipinggangnya. Rencana balas dendam dipikirnya dalam bis. Sukri tak terima Sumarni dekat dengan pria lain.

15. Untuk Siapa Kau Bersiul – 1/5
Pria bersiul dalam bis dengan lagu Gugur Bunga mengganggu telinganya. Ia pun membalas dengan siulan yang sama, supaya si Pria tersebut tahu jika siulan Gugur Bunga menjengkelkan.

*

Bintang 3/5. Inspiratif, nemu sesuatu.

Northanger Abbey – Jane Austin

Memang kalau mau baca novelnya Jane Austen itu mental SABAR kudu disiapin dulu, karena yaa membaca kehidupan bangsawan Inggris jaman dulu memang membosankan dan bergitulah adanya.

Kereta kuda, gaun mekrok yang anggun, makan malam yang penuh basa-basi, pesta dansa-dansi, berjalan-jalan, berburu, nonton teater, menebar rumor. Begitulah hiburan orang jaman dulu.

Lha wong novelnya aja ditulis 2 abad yang lalu, tepatnya tahun 1803. Buku yang saya punya versi terjemahan dari penerbit Noura. Dicetak tahun 2016 dengan sampul yang cantik dan menggugah hasrat untuk membaca.

Bercerita tentang Catherine, gadis dusun yang suka membaca novel misteri dan yang gothic-gothic gitu. Sering kali dia berkhayal menjadi tokoh utama dalam buku-buku yang ia baca.

Saat tinggal di Bath, suasana kota yang lebih ramai membuat Catherine sering datang menghadiri makan malam dan pesta dansa. Di acara tersebut ia berkenalan dengan dua pemuda tampan.

Yang pertama adalah John Thorpe. Sejak awal perkenalan dia menunjukkan rasa ketertarikannya pada Catherine,

Padahal Cathrenine muak lihat John yang selalu membangga-banggakan kereta kudanya yang bagus dengan model mutakhir dan kuda yang gagah. Hmm, kalau hare gene semacem cowok belagu naik mobil Ferrari gitu kali ya.

Hanya Henry Tilney yang bikin hatinya deg-deg serr, dia merasa sefrekuensi karena Henry juga suka baca novel. Padahal pria (di jaman itu) gengsi baca novel, yang menurut mereka bikin bodoh. Kaum lelaki lebih suka baca buku-buku sejarah dan politik dan mengolok-olok perempuan yang suka baca novel.

Suatu hari, Catherine diundang oleh keluarga Henry untuk tinggal bersama di rumah mereka, Northanger Abbey. Dalam perjalanan, Henry menakut-nakuti Catherine bahwa rumah keluarga mereka besar, kuno dan angker, persis seperti novel yang mereka pernah baca.

Ia pun berpikir bahwa rumah itu adalah rumah yang menakutkan sampai kemudian terjebak dengan imajinasinya sendiri. Puncaknya ketika ayah Henry melarang untuk masuk ruangan milik alm ibunya Henry.

Dilarang gitu malah bikin Catherine makin penasaran dan berusaha masuk ke ruangan tersebut dan mencari petunjuk. Naluri detektifnya membuncah akibat kebanyakan baca novel-novel misteri. Ia pun berasumsi dengan sok tahu bahwa ibunya Henry dibunuh di ruangan tersebut.

Imajinasinya yang terlalu liar tersebut, akhirnya malah menjadi bumerang dan membuatnya malu pada keluarga Henry.

Novel ini memberi pesan bahwa hal-hal yang kita baca di novel tidak bisa dijadikan sebagai patokan dalam kehidupan sehari-hari.

Bintang 3/5