Buku yang saya punya merupakan terjemahan dari penerbit Moooi Pustaka. Dengan sampul bergambar perempuan tanpa busana yang membuat saya berekspektasi, “Oh, mungkin isinya cewek cantik dan anggun seperti angsa, tapi kelakuannya liar.”
Ekspektasi saya tidak 100% akurat, liar yang dimaksud ternyata pemikirannya. Ternyata novelnya sopan-sopan aja kok.
Bercerita tentang Suezo, seorang lelaki pesuruh disebuah asrama mahasiswa. Dia yang selalu tampil rapi, bersih dan keren membuat mentalnya berbeda dengan pesuruh lainnya. Mentalnya mental kaya.
Singkat cerita dengan mental dan kecerdikannya meminjamkan uang dengan bunga tinggi pada anak-anak mahasiswa, akhirnya ia menjadi rentenir yang sukses.
Walaupun sudah punya istri dan dua anak, kehidupan mapan membuatnya ingin meraih kebahagiaan yang lebih. Saatnya ia punya ani-ani alias gundik. Otama, janda polisi yang muda dan cantik itulah targetnya. Singkat cerita mereka akhirnya bersatu.
Dalam kemewahannya sebagai ani-ani Suezo, Otama merasa hidupnya hampa. Dia ingin cinta yang sejati.
Sampai suatu hari ia terpikat dengan Okada, mahasiswa yang sering lewat depan rumahnya. Sebagai ani-ani yang gabut melulu di rumah, pikirannya pun dipenuhi dengan imajinasinya tentang Okada.
Entah jatuh cinta beneran atau hasrat semata, saya nggak dapet feelnya. Biasalah novel Jepang serba tersirat dan saya kurang peka untuk mencerna.
Ending ceritanya hmm.. sepertinya ceritanya kok seperti disudahi gitu aja? Rada kecewa awalnya, namun setelah direnung-renungkan lagi mungkin memang itulah ending terbaik.
Tokoh-tokoh dalam buku ini tidak ada yang baik, kecuali Okada. Sumpeh deh. Saya pun nggak bisa bersimpati dengan semua tokoh disini. Nggak ada yang bener.
Pernah nggak nonton film-film natal, yang tokoh utamanya sebel banget sama suasana natal? Lalu kemudian ada satu momen atau kejadian yang akhirnya membuat si tokoh utama menyadari bahwa Natal itu menyenangkan dan bikin bahagia.
Nah, formula tersebut tercipta dari buku jadul ini.
Buku asli yang berjudul A Christmas Carol, ditulis oleh Charles Dickens tahun 1843. Tepatnya 182 tahun yang lalu. Hampir 2 abad lho. Yang saya punya merupakan cetakan pertama Agustus 2021 oleh penerbit Kakatua, dengan judul “Lagu Natal”.
Berkisah tentang Scrooge, pengusaha tua yang sibuk, pelit dan sinis. Saking angkuhnya, ia kesepian dan tak punya teman.
Ketika menjelang Natal, keponakannya mampir kantor dan mengundangnya untuk makan malam bersama. Scrooge yang selalu sinis dengan suasana natal menggerutu, dia bilang bahwa natal tak penting baginya. Yang penting mah kerja-kerja-kerja.
Tak lama kemudian, anggota yayasan datang meminta sumbangan amal untuk Natal. “Astaga, lagi-lagi tentang Natal.” Dengan sinis ia menolaknya. Ditambah lagi pegawainya minta ijin untuk datang terlambat bekerja karena yaa, lagi-lagi karena Natal. Makin emosi deh si Scrooge.
Malam hari sepulang kerja, Scrooge melihat penampakan roh rekan bisnisnya yang sudah 7 tahun meninggal. Namanya Marley. Dia menasehati, “Jangan sampai ketika mati, nasibmu seperti aku. Berubahlah menjadi manusia yang lebih baik.”
Si hantu Marley, mengatakan bahwa dalam 3 hari berturut-turut akan ada 3 hantu yang datang menemui Scrooge. Hantu dari masa lalu, hantu dari masa kini dan hantu dari masa depan.
Ketika hantu masa lalu mengajaknya untuk menengok masa lalu Scrooge, tersingkaplah kejadian menyedihkan saat natal ketika Scrooge masih kecil.
Formula paten inilah yang digunakan dalam film-film natal yang pernah saya tonton, kejadian natal di masa lalu membuat trauma dan bikin tokoh utama jadi benci dengan suasana natal.
Tiga hantu yang membawanya dalam perjalanan masa lalu, masa kini dan masa depan, memperlihatkan kesalahan dari cara hidup yang dijalani Scrooge selama ini, yang akhirnya membuatnya sadar dan bertekad untuk berubah dan mencintai orang-orang disekitarnya.
Setelah orang tuanya meninggal diusia 5 tahun. Griff McPherson diasuh pamannya di New York, sedangkan saudara kembarnya tetap tinggal di ranch bersama pamannya yang lain.
Tahun pun berlalu. Ketika Wall Street ambruk, Griff yang sudah menginjak usia hampir 30 tahun, memutuskan kembali ke tanah kelahirannya – Wyoming, dan berhenti jadi bankir investasi.
Tentunya kepindahan Griff tidak disambut dengan baik oleh saudara kembarnya, Slade. Rasanya tidak adil ia bersusah payah membesarkan ranch sejak remaja, lalu Griff, yang anak kota ujug-ujug nongol, ikutan jadi koboi untuk turut serta mengurus ranch keluarga.
Griff yang tahu diri akhirnya mencari pengalaman di ranch sekitar. Kebetulan ada ranch Bar H yang membutuhkan koboi. Ranch tersebut dikelola oleh nenek Gus dan cucunya yang cantik, Val.
Mengikuti kisah seorang pria yang terjun jadi koboi dari nol tentu menarik untuk disimak. Ternyata tidak mudah. Jam 6 pagi sudah mulai bekerja dan selesai jam 9 malam, mengurus puluhan ternak sapi, kuda, dan kerbau. Kebayang capeknya melakukan ini setiap hari.
Apalagi untuk Grifft yang terbiasa bekerja kantoran. Namun ia tetap semangat untuk membuktikan pada saudara kembarnya dan diri sendiri bahwa ia mampu menjadi seorang koboi.
Latar belakang Grifft juga bermanfaat bagi ranch Bar H. Bersama Val seusai makan malam mereka berdua memeriksa keuangan ranch. Kedekatan mereka berdua lama-lama menimbulkan percikan asmara.
Sayangnya saya tidak bergitu tertarik dengan drama cinta khas buku Harlequin, saya malah lebih tertarik dengan kegiatan keseharian mereka di ranch. Walhasil tiap bab percintaan, saya skimming.
Mengelola ranch yang cukup besar tidak cuma ada masalah intern, namun juga ada masalah dari pihak luar.
Tetangga pemilik ranch sebelah berupaya memperluas lahan dengan menawar sebagian lahan Bar H di sekitar danau yang berbatasan dengan hutan. Nenek Gus dan Val selalu menolak, bahkan sempat heran mengapa yang diincar lahan sekitar danau.
Sampai akhirnya Griff menyadari bahwa ada hari-hari dimana setiap pukul 3 pagi terdengar suara helicopter. Bersama Val, mereka berdua menyelidiki dan melihat pengiriman narkoba di lahan ranch Bar H dengan helikopter.
Berdua mereka membuktikan bahwa tetangga yang ngotot membeli lahannya itulah pelaku penyebaran narkoba didaerahnya.
*
Diluar drama romancenya, kehidupan ranch ternyata sangat menarik. Akhirnya saya hunting seri Jackson Hole lainnya. Kebetulan yang saya beli ini buku ke 5. Dari 10 buku, saya mendapatkan 8 buku yang dicetak dan diterjemahkan oleh Gramedia.
8 buku tersebut sudah saya baca tuntas. Cuma saya pikir untuk Goodreads, satu ajalah yang dimasukkan. Saya malas mereview semua bukunya, intinya oke banget buat dibaca saat sedang ingin bacaan ringan dan happy ending.
Rasanya gemes banget, punya tontonan bagus tapi nggak ada temen yang bisa diajak ngobrol soal Yellowstone. Untunglah saya punya blog, setidaknya bisa menumpahkan kekaguman saya saat nonton series Yellowstone di Netflix.
Gara-gara abis baca 10 novel seri Jackson Hole-nya Lindsay McKenna, saya mulai tertarik dengan kehidupan para cowboy di ranch. Selama ini dalam benak saya ya, cowboy itu semacam cowok berkuda yang tembak-tembakan. Saya yang minim pengetahuan ini akhirnya tergugah untuk mencari tontonan tentang cowboy.
Setelah ngubek-ngubek Netflix yang bertema cowboy, serial Yellowstone terpilih untuk mengisi waktu luang saya di malam hari. Saya tidak punya ekspektasi apa-apa, cuma karena yang main Kevin Costner aja.
Ceritanya tentang John Dutton (Kevin Costner), pemilik ranch terbesar di Montana, Amerika Serikat. Ranch yang berupa tanah dan ternak tersebut merupakan warisan turun-temurun dan John merupakan generasi ke 6.
Sebagai pemilik lahan terbesar di Amerika Serikat, tentu saja banyak pihak yang ingin merebut lahannya.
Mulai dari pemerintah yang plin plan dan tidak memberi kepastian hukum, kepala suku Indian yang mengklaim tanah tersebut merupakan lahan reservasi milik suku Indian, sampai tekanan developer real estate yang memaksa kerja sama membangun proyek diatas tanahnya.
John yang sudah lama ditinggal mati istrinya, punya 3 anak, Beth, Kayce, dan Jamie
Tentunya diusia yang sudah semakin tua, ia harus menyiapkan ketiga anaknya untuk meneruskan ranch Yellowstone.
Sekilas mengingatkan saya pada film The Godfather, keluarga mafia Italia-Amerika yang berupaya mempertahankan kekuasaannya di Amerika. Vito Corleone yang juga mempunyai 3 anak laki-laki, akhirnya menunjuk anak bungsunya, Michael untuk menjadi penerusnya.
Nah, sama sulitnya dengan keluarga mafia, hidup dengan aset besar dan banyak ancaman, membuat John mengatur ketiga anaknya untuk bersatu mempertahankan Yellowstone Ranch. Namun perbedaan pendapat tiap anak tentang pengelolahan ranch, bikin mumet John.
Biar lebih seru saya kenalkan ketiga anak John :
Jamie
Karakter yang diperankan oleh Wes Bentley ini merupakan anak dengan kecerdasan akademik. Lulusan hukum di Harvard dan menjadi pengacara keluarga.
Jamie haus akan validasi dari ayahnya. Selalu mati-matian membuktikan bahwa diantara mereka bertiga, dia-lah yang terbaik. Namun ambisi Jamie dengan karir politiknya membuatnya sering mengalami konflik dengan ayahnya yang tidak sejalan dengannya.
Tampilannya yang rapi dan bersih membuat penampilan Jamie terlihat menyolok, apalagi saat ngobrol sama cowboy-cowboy yang dekil dan berdebu. Ditambah lagi kelamaan di Boston membuat mental Jamie terlihat paling lembek, jiwa cowboynya kurang, membuatnya terlihat kurang macho.
Beth
Anak perempuan satu-satunya ini diperankan oleh Kelly Reilly. Beth bekerja sebagai bankir di Wall Street, tetapi ia kembali ke Montana untuk membantu ayahnya mengelola aset dan keuangan ranch.
Hidup dalam keluarga yang dikelilingi banyak pria membuat karakter Beth jadi tangguh, pemberani dan punya kepribadian yang kuat.
Menurut saya Beth ini yang terkeren di serial ini. Mulutnya setajam silet, judes banget. Sehingga pria-pria disekelilingnya tidak menyepelekan dia. Walaupun kadang-kadang dia sok seksi dan caper gitu, cowok-cowok sepertinya tidak ada yang peduli.
Satu-satunya yang memahami sifat uniknya cuma Rip Wheeler, seorang mandor ranch Yellowstone yang sebaya dan sudah mengenalnya sejak remaja.
Kayce
Diperankan oleh Luke Grimes. Putra bungsu ini dulunya adalah seorang Marinir dan punya pengalaman perang di negara-negara yang sedang berkonflik.
Kembalinya Kayce ke Montana adalah untuk berkumpul kembali dengan anak laki-lakinya dan istrinya, Monica, yang seorang wanita keturunan Indian.
Pekerjaan Kayce lebih banyak di lapangan, berkutat dengan para cowboy yang mengurus ternak-ternak di ranch. Dengan background militernya, Kayce juga menjadi pelindung untuk keamanan ranch keluarga Dutton.
*
Selain alur ceritanya yang bagus, yang membuat saya terkesima nonton ini, tentunya karena disuguhi pemandangan alam Montana yang luas dan masih alami. Mungkin kalau saya berada di tempat itu bisa bernapas dengan lega, udaranya bersih dan tidak ada polusi kendaraan.
Selain itu tentunya pemandangan aset-asetnya Yellowstone Ranch yang bikin ngiler. Rumahnya cantik khas pedesaan dengan kayu dan bebatuan. Kandang kudanya juga gede banget. Seneng banget lihat-lihat propertinya. Belum lagi kendaraannya. Semuanya ditempelin stiker Yellowstone. Tentu saja helicopternya juga.
Tak lupa hewan ternaknya, kuda, sapi, dan kerbau. Setiap pagi para cowboy menggiring 300 lebih sapi berlarian ke padang rumput. Seru banget lihat kehidupan cowboy di pedesaan AS. Merawat hewan-hewan yang jumlahnya banyak tentu tidak mudah.
Belum lagi pakaiannya yang khas western. Celana jeans, kemeja linen, topi cowboy, dan sepatu boot. Seneng lihatnya.
Yellowstone tayang di Netflix baru sampai season 3, denger-denger season 5 masih berlanjut cuma belum muncul di Netflix. Saya baru nonton sampai season 2 sih, cuma udah nggak tahan pengen cerita di sini saking bagusnya.
Sepertinya sih ini series terbaik yang saya tonton di tahun 2025.
Buku “Orang Gaib” yang saya punya merupakan versi terjemahan dari Penerbit Kakatua, yang setelah saya lihat-lihat katalognya di market place telah banyak menerjemahkan sastra klasik.
Saya tertarik baca ini karena penasaran, Orang Gaib itu apa sih? Roh gentayangan atau manusia yang bisa menghilang?
Ternyata judul aslinya adalah The Invisible Man. Buku ini ditulis Herbert George Wells tahun 1897 alias 128 tahun yang lalu. Bisa jadi novel atau film jaman sekarang dengan ide cerita ‘orang yang bisa menghilang’ terinspirasi dari novel jadul ini yang lalu dikembangkan.
Buku ini menceritakan tentang Griffin, ilmuwan muda berusia 20-an yang jenius. Dia yang suka menyendiri dan selalu sibuk melakukan eksperimen, akhirnya berhasil menciptakan formula yang membuat dirinya transparan dan tidak terlihat.
Awalnya menyenangkan menjadi orang gaib. Bisa melakukan hal-hal yang dia suka tanpa harus diperhatikan orang lain. Griffin ini rupanya introvert level maksimal.
Tentunya kalau keluar rumah, dia musti telanjang menanggalkan sepatu dan pakaiannya dong. Ntar daripada bikin banyak orang terkejut melihat pakaian melayang-layang.
Sialnya dia tidak bisa membuat tubuhnya jadi terlihat kembali. Padahal dia perlu berkomunikasi dengan orang lain. Gimana dong caranya membeli bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari? Mumet deh si Griffin.
Terdesak oleh situasi yang tidak kondisif akhirnya dia mencuri makanan. Lalu berlanjut dengan pencurian-pencurian kecil lainnya.
Lama-lama dia mulai nekad melakukan tindak kejahatan. Mencuri uang di supermarket, sampai tega melukai orang lain.
Dr Kemp, seniornya saat masih kuliah dulu mengetahui rahasianya. Dia mencoba untuk menyadarkan Griffin bahwa tindakannya meresahkan seluruh warga kota.
Puncak kekesalan Griffin ketika Dr Kemp melaporkan ia pada polisi. Griffin tidak terima dan menuduh Dr Kemp bukan teman sejati yang tega mengkhianatinya.
Lewat novel ini barangkali si penulis ingin menyampaikan bahwa menghilang sementara itu menyenangkan, namun ada saatnya kembali untuk bersosialisasi. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial.