
Buku yang sempat dilarang di Israel ini membuat saya penasaran. Bagian mananya sih yang dilarang? Masa cuma karena wanita Israel dengan pria Palestine yang saling mencintai dan tak bisa bersatu?
Markilas. Mari kita ulas.
Berkisah tentang Liat, perempuan Israel yang berkenalan dengan Hilmi, pemuda Palestine di sebuah cafe. Sebagai sesama perantau yang sedang melanjutkan studinya di New York dan merasa senasib, awal perkenalan yang menyenangkan tersebut membuat mereka jatuh cinta dan akhirnya pacaran.
Secara sadar mereka tahu bahwa hubungan ini akan sia-sia dan tidak ada masa depan. Cuma ya namanya lagi jatuh cinta, ya diterus-terusin.
Normalnya orang pacaran pastilah ada berantemnya. Sering kali saat mengobrol hal-hal sederhana, seperti musik misalnya, bisa memancing salah satu diantara mereka untuk mengolok negara masing-masing, yang ujung-ujungnya jadi debat kusir politik.
Mungkin inilah yang membuat buku ini dilarang edar, karena dialog sepasang kekasih ini lumayan sensitif dan provokatif.
Buku yang hampir seluruh halaman isinya pertengkaran dan kegalauan mereka, jadi bikin saya bosan dan jenuh saat baca.
Hampir seluruh pertengkaran endingnya diselesaikan dengan bercinta. Berantem – galau – bercinta – berantem – galau – bercinta. Repeat. Gitu terus model pacarannya.
Sebagai pembaca, saya juga nggak melihat apa bagusnya hubungan ini. Pacaran ya gitu-gitu aja. Bukan yang saling memotivasi untuk sukses bareng.
Padahal mereka itu udah di Amerika lho, mbok yo fokus studi. Meraih masa depan gemilang. Udah bagus bisa keluar dari negara yang sedang kisruh, kok waktu dan kesempatan emas malah dipakai untuk pacaran mulu? Sebal saya bacanya.
Mending kalau pacaran tapi punya niat kuat untuk memperjuangkan gimana caranya supaya bisa tetap bersatu. Yaa, mereka kan udah di New York, berjuang mengusahkan untuk jadi warga negara Amerika kek, menikah, atau gimana gitu?
Yang bikin saya makin gedeg, ketika abangnya Hilmi berkunjung ke New York dan mengenalkan pada Liat. Saat makan malam, abangnya Hilmi menyindir Liat, “Orang Israel itu hidup dalam penyangkalan. Menolak untuk menerima kenyataan bahwa sebentar lagi kalian jadi minoritas.”
Liat pun kesal, dia pun beragumen. Namun yang membuat dia makin emosi dan menangis karena sebagai kekasih, Hilmi tidak membela dirinya, malah ikutan menertawakan.
Haduh, Hilmi ini mah cowok redflag. Gimana ntar pas udah nikah, kalau sang suami nggak mau membela istrinya di depan keluarganya? Plis deh.
Walaupun buku ini mendapatkan pujian dan penghargaan, tapi saya nggak dapet pencerahan yang ‘wow’. Mustinya bikin saya bersimpati, merenung, kasihan, atau apaa gitu kek.
Hati saya malah lega saat menuntaskan buku ini, selesai sudah menyimak kisah galau menye-menye.
Bintang 1/5.


