
Di awal halaman si penulis memberikan informasi bahwa novel ini tentang kisah hidup Athena, pemimpin sekte perempuan yang tewas mengenaskan.
Yang menarik dari novel ini, dikemas dengan melampirkan hasil wawancara orang-orang terdekat Athena. Jujur saya, ceritanya rada membosankan, penuh petuah-petuah dan agak menggurui. Cocok dibaca sebelum tidur karena bikin ngantuk.
Kisahnya dimulai dari orang tua Athena yang memutuskan untuk mengadopsi Athena saat masih bayi. Saat itu mereka masih tinggal di Libanon.
Ketika perang saudara makin memanas, mereka bertiga pindah ke London, Inggris. Di Inggris inilah Athena tumbuh dan dibesarkan.
Athena tumbuh dalam iman katolik mengikuti jejak kedua orang tuanya. Namun dalam hatinya sering kali mengesampingkan imannya yang penuh dengan doktrin, dan mendahulukan intuisinya.
Hal nekad pertama yang dilakukan adalah ia ingin menikah muda di umur 19, padahal kekasihnya saat itu juga masih berusia 20 tahun. Saking ngototnya, pacar, camer dan kedua ortunya menyanggupinya dengan berat hati.
Nasi sudah menjadi bubur, di usia muda dengan bayi dan tanggung jawab menjadi ortu, membuat pernikahannya amburadul dan buyar.
Dalam kesedihannya, Athena ke gereja untuk berdoa. Namun ia tidak mendapatkan ketentraman hati. Dirinya mulai mengikuti intuisinya lagi.
Mulai dari pekerjaannya di bank yang membuatnya dipindah ke Dubai. Lalu lewat intuisinya ia mengenal tarian, kaligrafi, dan petualangan untuk mencari ibu kandungnya. Seluruh tindakan yang dilakukan berdasarkan intuisi,
Singkat cerita saking yakinnya dengan intuisi yang menurut dia benar saat menerawang masa depan, lambat laun ia mempunyai banyak pengikut, bahkan ia memiliki tempat khusus di sebuah gedung tua untuk memimpin ritual.
Dengan segala aktifitas ritual yang aneh membuat masyarakat London dan pihak gereja gerah dan menuduhnya sebagai penyembah setan.
Sampai suatu hari, ia ditemukan tewas terbunuh secara mengenaskan di tepi jalan.
Terlepas dari sikap kontroversialnya, Athena hanyalah seorang wanita yang punya pemikiran unik dan selalu berusaha mengisi kekosongan spiritual dalam dirinya.


