Majnun

Sesuai judulnya, Majnun artinya gila. Buku ini menceritakan orang-orang yang melakukan hal-hal gila diluar nalar atas dasar yang katanya cinta, padahal menurut saya sih nafsu doang.

Zulaikha
Zulaikha menceraikan suaminya dan meninggalkan anaknya demi Yusuf. Pria kurus biasa-biasa saja yang membuatnya jatuh cinta pandangan pertama.

Setelah beberapa tahun, ia pun dengan entengnya minggat meninggalkan Yusuf hanya gara-gara mimpi didatangin kucing telon selama 3 hari berturut-turut. Gila ga tuh?

Yusuf
Sejak ia lahir, Yusuf selalu merasa ada keris dalam tubuhnya. Namun keris itu baru muncul saat ia membutuhkannya di waktu dan tempat yang tepat,

Menurutnya, Kaisar, sahabat yang dikenalnya sejak kuliah, memang perlu dibunuh. Yusuf tidak terima dengan perlakuan brutalnya pada Ratri, istrinya yang merupakan mantan pacar Yusuf.

Kaisar
Kaisar, kegilaannya mendadak muncul saat Ratri, istrinya minta cerai saat perayaan ulang tahun pernikahan mereka. Dengan gelap mata, ia memperkosa istrinya sendiri, namun ketidak-perkasaannya membuat ia kesal lalu membunuh istrinya.

Ratri
Ketidak-puasan hasratnya dan mengganggap Kaisar melempem saat bercinta, membuat Ratri melakukan tindakan gila bercinta dengan Ferdi, pemuda gila yang sering lewat depan rumahnya.

Ferdi
Pemuda yang menjadi gila semenjak jatuh ke sumur saat masih kanak-kanak.

Namun dalam buku ini menunjukkan bahwa diantara semua tokoh, sesungguhnya Ferdi adalah orang yang paling waras.

“Orang disebut sinting karena dianggap sinting oleh masyarakat sekitarnya. Tetapi, orang sinting justru menganggap masyarakatnya sinting.” – hlm 104

*

Oh ya, buku ini sepintas mengingatkan saya dengan film Indonesia yang berjudul Beth. Walaupun ceritanya tidak sama, namun intinya kurang lebih sama. Di dalam Rumah Sakit Jiwa, kita pikir orang-orangnya gila, namun justru merekalah yang paling waras daripada orang-orang di luar sana.

Secara keseluruhan, ide cerita novel ini cukup menarik dan membuat saya merenung seusai baca.

Dalam buku ini juga diselipkan informasi aneka pengetahuan umum. Cuma karena kurang smooth dan sedikit maksa, membuat saya terganggu saat baca. Kesannya jadi ngelantur kemana-mana.

Oh ya, cover bukunya kureng. Seandainya bisa menggambarkan kegilaan tokoh-tokoh didalamnya, mungkin lebih oke.

Daftar lagu di halaman belakang? Entahlah, saya lebih suka baca dalam suasana sunyi, jadi saya abaikan.

Bintang 3/5

Orang-Orang Proyek

Kisah si Kabul, mantan aktivis saat kuliah dulu kini terjun sebagai pelaksana proyek. Pembangunan proyek jembatan di atas Sungai Cibawor adalah proyek ketiga yang dikerjakannya

Proyeknya sebetulnya sederhana. Membangun jembatan di sebuah desa. Namun praktek di lapangan tentu saja tidak kalah busuknya dengan proyek-proyek besar.

Sebagaimana yang kita tahu semua, proyek biasa kita dengar sebagai istilah bancak’an ramai-ramai.

Tekanan datang silih berganti. Untuk proyek simpel, ternyata banyak kepentingan yang ikut cawe-cawe.

Idealisme yang dipupuk kala mahasiswa perlahan terkikis dengan penyesuaian dan pelaksanaan di lapangan. Singkatnya, sebagai fresh graduate yang masih belum punya banyak jam terbang, menghadapi kelakuan orang-orang proyek, sering membuatnya mengelus dada.

Cerita yang disampaikan berjalan lambat. Persis suasana proyek yang membosankan dan rasanya ingin menyudahi dengan keluhan dalam hati, “pengen cepet selesai dan segera kabur dari sini.”

Alur yang lambat membuat saya juga menikmati proses timbulnya rasa cinta dari Kabul terhadap Wati. Witing tresno jalaran soko kulino. Pembaca yang terbiasa dengan asmara yang sat set akan dibuat geregetan dan menahan kesabaran.

Suasana panas, berdebu di lingkungan proyek bisa dengan baik sekali dideskripsikan. Begitu pula orang-orang yang berkutat di dalam proyek.

Ahmad Tohari memang pinter bercerita. Mudah sekali untuk mengimajinasikan kalimat dari bukunya.

Buku ini terbit tahun 2001 dengan cerita tahun 1991, jaman Orde Baru. Saat saya membaca tahun 2025 jujur aja masih relate, malah di era sekarang makin wadidawww.

Rahasia Nusantara

Sepertinya udah banyak yang nonton ASISI Channel, channel Youtube yang membahas tentang arkeologi yang menyajikan candi, sejarah, dan budaya Jawa Kuno secara menyenangkan.

Nah, saya baru tahu kalau ada versi cetaknya. Seperti videonya, versi cetak ini ditulis dengan ringan. Ditambah lagi dengan foto-foto candi dan infografis yang membuat pembaca menjadi lebih paham.

Dimulai dari penelusuran candi di daratan tinggi Dieng – Jawa Tengah sampai Kediri – Jawa Timur.

Dunia candi-candi yang awalnya biasa saja, membuat saya menjadi tertarik untuk memperhatikan detail-detail relief candi.

Sayangnya, candi-candi yang sudah hancur membuat data sejarah tersebut masih menyisakan teka-teki dan ketidak-pastian data.

Belum lagi bumbu mitos, cerita, legenda yang menambah kesan misterius pada peninggalan candi-candi.

Berharap seusai buku ini rasa penasaran saya terpuaskan. Ternyata ini baru permulaan, terlalu banyak misteri yang belum terjawab.

Namun setidaknya kalau suatu hari jalan-jalan ke tempat yang ada candinya, jadi ngerti dikit-dikit deh. Jadi nggak hanya sibuk foto-foto doang.

Petang Panjang di Central Park

Di halaman pertama, Seno Gumira memberikan pernyataan, “Bondan Winarno adalah penulis piawai, dalam arti terjamin enak dibaca, memberi pengetahuan, dan seleranya berkelas — yang terakhir ini sering gagal dihadirkan penulis lain.”

Hmmm.. Selera berkelas tuh yang kayak gimana sih? Penasaran, saya bungkus dan saya lahap deh untuk mengetahui, apakah ceritanya “Mak Nyus” ataukah “Top Markotop”.

Berhubung lagi males bikin resensi, jadi saya comot aja yang jadi inti sari cerpen-cerpen di buku ini, supaya teman-teman dapet gambaran tentang isi kumpulan cerpen ini.

Bologna Milano
Bono mengenal Tiziana Gironi di Frankfurt pada salah satu pameran buku internasional. Sekalipun Tizi yang cantik itu selalu menarik perhatian Bono, tapi hubungan mereka tidak pernah lebih dari surat menyurat. Surat menyurat itu pun bukan tentang hal-hal pribadi, tetapi tentang kerja sama penerbitan mereka.

“Kenapa tidak singgah dulu ke Milano sebelum ke pameran buku di Bologna? Kau bisa menjenguk kantorku dan kita bisa makan siang bersama.”

Rumput
“Kita merokok ini saja,” katanya, dengan tekanan pada kata kita. Pelan-pelan ditariknya sebatang rokok. Tak berfilter. Gulungannya pun tak rapi. Dijulurkannya rokok itu padaku. Kupandangi rokok sebatang itu. Lalu kupandangi Malicca. “Ada rumputnya, ya?” tanyaku. Malicca mengangguk ringan.

John Charles Showerd
Ia dulu bekerja sebagai juru potret surat kabar The New York Times yang dikirim ke Indonesia untuk meliput konferensi Asia-Afrika. Tetapi, sebelum ia pulang ke New York, tiba-tiba pemberontakan PPRI meletus. Di medan perang itulah ia kehilangan seluruh dokumen pribadinya. Dompetnya dirampas, paspornya dirobek-robek, dan alat pemotretnya pun disita. Kedutaan Besar Amerika Serikat tidak bisa menolongnya karena ia tidak mempunyai keterangan yang lebih lengkap. Orang-orang Amerika di Jakarta yang dijumpainya pun hanya bisa bersimpati.

Nyaris menjadi gelandangan, ia pun melapor ke kepala polisi negara. Tetapi tidak satu kekuasaan pun berhasil menolong Tuan Showerd dan menerbangkan kembali ke negeri asalnya.

Rudy dan Kami
“Well, Presiden Reagan kan sudah bilang. Bila temanmu kehilangan pekerjaan, maka kau tahu arti resesi. Dan bila giliranmu kehilangan pekerjaan, maka barulah kau tahu arti depresi,” Rudy mengatakan begitu sambil tangannya yang berminyak memegang lengan jaketku.

Telepon
“Rasanya aku belum pernah melihat karya ilustrasi artis Indonesia,” katanya kemudian. “Buku kami memang tak laku di luar negeri. Bahasa kami hanya mirip dengan bahasa dari satu negara lain.” “Lalu bagaimana kau akan memakai gambar-gambarku?” “Gampang. Kuberi kau nanti beberapa uraian tentang ilustrasi yang kuperlukan.” “Tetapi aku tak tahu warna dan karakter negerimu.” “Jangan bantah dulu. Aku bisa mengirimkan foto-foto tentang negeriku, juga buku-buku bergambar tentang negeriku.” Ia terdiam menatapku. Abu-abu matanya begitu bagus. Warna antrasit. “Siapa sih warnamu?” tanyanya asal-asalan. Kukais kartu namaku. Kuulurkan padanya.

Nikodemus
Barangkali ini semua memang karena salahku. Mempunyai istri secantik Narsih membuat aku jadi pencemburu kelas wahid. Tetapi, akan lebih salah lagi kalau seandainya aku tak mempunyai seorang istri cantik. Dengan istri secantik Narsih saja aku kadang kala menyeleweng. Apa jadinya kalau istriku jelek?

Gazelle
“Kita bertetangga, Bung,” katanya. “Tetap tak mau kutebak.” “Malaysia.” “Bahasa Melayu-mu pasti buruk.” “Kau merasa pasti untuk hal yang belum kau tahu?” “Itu observasiku. Orang Malaysia yang berbahasa Inggris dengan baik seperti kau, biasanya malah sulit berbahasa Melayu.” “Kau menodai citra ASEAN di forum internasional begini.”

Mantel Bulu
“Please, jangan ajak aku ke tempat tidurmu.” Aku tersentak. Kucoba menenangkan getar nadiku. Kugenggam tangannya lebih erat. Apakah aku memang sedang menggiringnya ke sana? “Please,” pintanya lagi. “Ini malam yang teramat menyenangkan bagiku. I feel human again. Dan aku tak ingin mencederai kebahagiaan ini. Aku ingin membawa kenikmatan ini ke tempat tidurku sendiri. Akan kubangunkan anakku dan akan kuceritakan kebahagiaanku malam ini.”

Konspirasi
“Aku punya informasi penting untukmu,” kata perempuan itu di telepon. Pinto tak berhasil membuat wanita itu mengatakan informasi apa yang hendak disampaikannya itu. “Aku tinggi dan cantik. Temui aku pukul empat di bar Hotel IH. Cari tempat duduk yang menghadap ke pintu.”

Cafe Opera
Semangatku masih tinggi ketika aku datang lagi menunggu Bjorn Borg di Cafe Opera. Kamera Minox-ku selalu siaga di dalam saku jasku. “Pandangi saja aku,” kata Anne Sofie. Tangannya dalam tanganku. “Kalau Bjorn Borg datang, pasti kita akan segera mengetahuinya. Ia begitu terkenal. Dan tentu banyak orang yang ingin bersalaman dengannya. Aku yakin akan hal itu.” Dan kami mempunyai kesempatan untuk saling memandang.

Istri Si Fouad
Ya, begitulah nasib kami. Keleleran bertujuh. Menunggu lima jam lagi di bandar udara yang tak menyenangkan. Fouad menerima dengan apa adanya. Robert mulai risau ketika menyadari bahwa hari sudah akan gelap bila tiba di Jakarta nanti. Kukatakan pada istrinya bahwa sopirku bisa kutelpon nanti dari Singapura agar datang ke bandara udara dan mengantar keluarga mereka ke alamat yang dituju. Kepada Fouad kukatakan bahwa dia bisa menginap semalam di rumahku dan esok paginya diantar ke Tanjung Priok.

Pada Sebuah Beranda
Diam-diam kubangun beranda itu. Tidak persis di depan pintu hatiku, tentu. Kubuatnya terlindung di sebelah kanan, sehingga tak terlihat dari pintu dan jendela. Istri dan anakku tak tahu bahwa di luar sana ada beranda. Di dalam hatiku sudah cukup nyaman. Dan memang kubuat senyaman-nyamannya untuk mereka. Agar mereka tak punya alasan untuk menengok keluar dari ruang hatiku.

Abus
Malam sebelum keberangkatannya ke Tanah Suci, Abus tiba-tiba minta ditahlilkan. Kami semua gemetar mendengar permintaannya. “Anggap saja aku sudah mati,” katanya. “Bacalah tahlil untukku.” Abus memang selalu menyatakan keinginannya untuk mati di Tanah Suci. Semua orang telah mendengar keinginannya itu. Dan kini usianya sudah 83 tahun. Naik haji yang ke tujuh kalinya. “Mungkin aku tak akan kembali lagi,” katanya.

Pada Ulang Tahun Nyonya Besar
Sejak senja tadi Augustine sudah mematut dirinya. Rambutnya yang ditata di kapsalon tetap tak dapat menyembunyikan kenyataan telah menipisnya mahkota itu. Keriput di wajahnya makin tak dapat disalut bedak — seberapa pun tebalnya. Lalu Augustine mematut gaun kuning dadar kesukaannya di depan cermin panjang di balik pintu.

Semua orang tahu mengapa Augustine menyukai gaun itu. Dette tahu. Keshia tahu. Amah pun tahu. Gaun itu mempunyai nilai sentimental yang tinggi. Gaun itu dibelikan Albrecht ketika mereka berjalan-jalan ke Hong Kong. Ah, sudah 15 tahun yang lalu. Dan Albrecht berkata, ketika itu, “Alangkah cantiknya kau dengan gaun itu, Tine.”

Kim
“Anda bekerja di Shilla?” tanyaku berbasa-basi. “Tidak,” matanya menatapku. “Aku seorang business lady.” “Di bidang apa bisnis anda?” Ia tertawa. Giginya yang gingsul ditutupnya dengan sebelah tangannya. “Ah, kau tak tahu rupanya,” katanya sambil tertawa. “Business lady itu memperdagangkan dirinya sendiri,” katanya, lalu menunduk menghindari mataku yang terbelalak.

Petasan
Setiap kali aku pergi ke rumah Yono, ia selalu membujukku ikut membuat petasan. “Untungnya besar,” itu yang selalu dikatakannya. Sebelum bulan puasa rumahnya sudah mulai penuh dengan tetangga-tetangga di kampungnya yang membantu Yono membuat petasan. Dan hanya dengan dua bulan membuat petasan Yono bisa membeli sepeda kumbang baru, serta beberapa potong pakaian dan sepatu baru untuk lebaran. Dompetnya padat menggembung, sehingga pada saat lebaran ia bisa menjadi sangat royal.

Sebuah Bangku Pada Sebuah Taman di Pinggir Kali
Setiap kali kudatangi bangku itu, selalu perempuan lain yang kubawa. Kadang-kadang aku bosan juga. Kenapa tak seorang pun mau kuajak pergi dari bangku itu dan pulang ke rumahku? Dari jendela rumahku kau bisa melihat Kali Seine mengalir lamban. Dari jendela rumahku, semerbak bau roti dari boulangerie akan memukau indramu.

Amnesti
Berulang kali Ricardo menelan kata-kata yang sudah di ujung lidahnya: bahwa ia benci peraturan Amerika Serikat yang hanya memberi amnesti kepada chicano yang sudah menyeberang tapal batas, tanpa memberi peluang yang serupa bagi istri dan anak yang ditinggalkan.

Dan Ricardo menjadi tambah miris bila mengingat begitu banyak wanita yang ditipu dan diperkosa para pialang yang berjanji akan menyeberangkan mereka dari tapal Tijuana. Puluhan anak-anak yang ingin menyusul ayahnya tergilas mati ketika lari menyeberangi freeway yang ramai di seberang Amerika Serikat –hanya sesaat setelah berhasil menghirup napas kebebasan di tanah yang menjanjikan kemakmuran baru.

Paris, 29 April
Pintu terkuak. Yves Dutertre memeluk Mahar dan membawanya masuk. Mahar menyalami beberapa orang yang tak dikenalnya, dan memeluk orang-orang yang dikenalnya –para wartawan perang yang pernah berdinas di Saigon pada awal 1970-an. Setiap 29 April mereka berkumpul di Paris, mengenang kejatuhan Saigon. Sesuatu yang bahkan tak pernah dilakukan di Amerika Serikat.

Hari Penentuan di San Pascual
Pedro mengeluarkan sepucuk pistol kecil dari balik bajunya, dan menyerahkannya kepada Jun. “Aku tak mau membawa itu,” bantah Jun. “Tuan Senior tak akan memaafkan aku bila terjadi apa-apa denganmu,” kata Pedro.

Santa
“Apa yang kau hendaki untuk Natal, Anak Manis?” tanyaku pada sosok yang teronggok di pangkuanku. “I want a daddy,” kata anak itu manja. Aku terjengak. Kulihat ibunya yang tegak di sana. Mata birunya mengejap-ngejapkan bulu mata yang panjang dan melengkung. Ah, seandainya Santa bisa menjadi ayah bagi anak manis ini. Alangkah eloknya!

Doa Seorang Perawan
Azra menurunkan karung pasir yang menutup lubang kecil di tembok dapur. Ia mengintip keluar. Jembatan di atas sungai Miljacka masih terbentang di sana. Lenggang. Tak seorang pun tampak di atas jembatan. Takut akan menjadi sambaran peluru penembak jitu dari atas bukit.

Diam-diam Azra mengharap akan melihat Zijo di atas jembatan itu. Seperti ia selalu melihat Zijo dulu berjalan dengan gagahnya di atas jembatan itu. Azra membayangkan Zijo berlari dari arah Bascarsija untuk mencuri kesempatan bertemu dengan Azra. Oh, alangkah rindunya Azra kepada Zijo.

Lenso Mera deng Lenso Puti
Haji Idris, ayah Hamidah, pun menyukai Duon. Semula ia memang menginginkan Hamidah disunting laki-laki Islam. Tetapi dengan Duon, ia merelakan anak gadisnya menjalin kasih. Siapalah orang yang tidak menyukai Duon? Bukan hanya gadis-gadis yang girang melihat senyum Duon, juga para orang tua diam-diam menginginkan Duon melirik anak gadis mereka.

Sebuah Rumah Berdinding Batu di Kalipasir
“Sesuai acara sidang hari ini, Majelis Hakim akan membacakan putusannya atas perkara penyerobotan sebuah rumah di Jalan Kalipasir, Jakarta Pusat, oleh Terdakwa Kolonel TNI Purnawirawan Omar Sadikin,” kata Ibu Hakim Ketua.

Petang Panjang di Central Park
”Ini hari terakhirku di New York. Besok pagi aku pulang ke Tokyo.”

Yuki mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah Taka. Dibiarkannya Taka melihat wajahnya tanpa berkedip. Ah, air matakah yang dilihat Taka menggantung di sudut-sudut mata Yuki?


***

Setelah melahap 25 cerpen di buku ini, saya setuju dengan Seno Gumira. Penilaian beliau tidak meleset, seleranya berkelas. Walau tidak “Mak Nyus”, setidaknya buku ini cukup “Top Markotop”.