Enjoy The Silence

Berhubung waktunya update blog dan lagi bingung mau nulis apaan, jadi saya persembahkan sebuah lagu aja deh.

Lagu yang saya dengerin akhir-akhir ini saat jalan pagi dan sedang menjadi urutan pertama dalam playlist saya.

Selain menikmati musik keren yang legendaris, kita bisa melihat kembali gedung kembar WTC sebelum ambruk.

Karena di video klip tersebut memperlihatkan mereka sedang bermain musik di puncak tertinggi. Nostalgic banget ya.

Jujur aja saya lebih suka lihat WTC yang lawas ketimbang yang sekarang.

Jadi terpikir untuk bikin Top 3 gedung cantik yang dipake buat video klip. Kapan-kapan deh kalo ga males.

Arisan PKK

15 tahun tinggal di perumahan, akhirnya pertahanan saya runtuh juga.

Setelah bertahun-tahun ngeles dan punya sejuta alasan untuk tidak ikut arisan PKK, akhirnya bulan kemarin saya putuskan untuk ikutan.

Bukannya sombong atau nggak mau kenal tetangga. Saya kenal banyak orang di sekitar rumah saya. Namun untuk ikut arisan PKK, saya butuh waktu yang cukup lama untuk menimbang-nimbang.

“Nah, gitu dong bu.”
“Akhirnya bu F ikut juga.”
Dan komentar-komentar riuh di grup WA ramai menyambut kehadiran saya.

Sejujurnya saya tipikal orang yang sulit untuk berkomitmen. Namun kalau sudah memutuskan untuk berkomitmen, saya akan bertahan mati-matian.

Maka dari itulah saya sangat selektif untuk masuk organisasi, gank ini itulah, bahkan untuk pacaran aja, saya butuh waktu untuk berpikir lama.

Karena kalau udah nyemplung, untuk keluar dari situ butuh strategi mikir ini itu lagi, yang pastinya bakal bikin lelah lahir batin.

Okee, oke. Saya rada cemen untuk terikat pada sesuatu.

Pernikahan komitmennya seumur hidup, susah senang ya ikhlas aja menjalaninya.

Namun beda lagi kalau arisan PKK. Begitu berada di lingkunan tersebut, saya musti siap berkomitmen dengan durasi yang seiring dengan durasi pernikahan. Masalahnya saya nggak pernah siap.

Saya ngeri kalau di awal pindah rumah udah gabung PKK, kalau nggak cocok sama si A, B, C gimana? Mau cabut dari arisan PKK tidak semudah itu. Ntar menimbulkan gosip-gosip tetangga.

Pokoknya pikiran saya tuh super drama membayangkan yang pahit getir.

Jadi selama 15 tahun tinggal di perumahan ini, saya kenali dulu satu persatu tetangga-tetangga tersebut, sampai hati saya merasa sreg dan bisa jadi satu circle.

Baiklah, mari kita awali komitmen baru ini dengan semangat dan doa.

Istana Merah

Hyeon, gadis berusia 18 tahun, terlahir sebagai anak haram dari Menteri Kehakiman di Joseon dengan seorang selir.

Anak haram pada masa itu hanya punya sedikit pilihan hidup, terutama untuk anak perempuan.
Namun berkat kerja keras dan tekun belajar, Hyeon, berhasil menjadi perawat di istana.

Sepanjang hidupnya, Hyeon selalu berharap sang ayah mau mengakui dirinya sebagai anak dengan membuat ayahnya bangga sebagai perawat istana.

Pada suatu malam empat wanita ditemukan tewas. 3 diantaranya perawat dan seorang dayang. Polisi lalu menahan perawat Jeoungsu yang menjadi tersangka pembunuhan.

Hyeon yakin bahwa perawat Jeoungsu tidak bersalah, ia kemudian mencari bukti untuk menyelamatkan gurunya. Pencarian Hyeon membawanya bertemu dengan Inspektur muda tampan bernama Seo Eojin.

Sementara itu diluar banyak selebaran gelap yang menuliskan bahwa pembunuhnya adalah Putra Mahkota, Pangeran Jangheon.

Penyelidikannya membuatnya terjerumus ke dalam politik istana yang kelam dan berbahaya. Ayahnya yang mengetahui gerak-gerik Hyeon menegur dan mengungkapkan kekecewaan padanya.

Yang menarik dari novel ini ternyata dibuat berdasarkan sejarah tragis kisah Putra Mahkota Jangheon, yang dianggap sebagai tragedi terbesar dalam dinasti Joseon.

Dalam novel diceritakan bahwa beliau adalah anak Raja yang tertekan secara mental. Sejarah menyebut bahwa Putra Mahkota banyak melakukan kekerasan dan membunuh lebih dari 100 orang.

Jadi, benarkah kabar burung itu yang menuduh Putra Mahkota membunuh perawat-perawat dan dayang? Baca sendiri dong.

Sebagai novel ceritanya lumayan komplit. Ada unsur sejarah, misteri, romance, yang komposisinya pas dan nikmat untuk dibaca.