15 tahun tinggal di perumahan, akhirnya pertahanan saya runtuh juga.
Setelah bertahun-tahun ngeles dan punya sejuta alasan untuk tidak ikut arisan PKK, akhirnya bulan kemarin saya putuskan untuk ikutan.
Bukannya sombong atau nggak mau kenal tetangga. Saya kenal banyak orang di sekitar rumah saya. Namun untuk ikut arisan PKK, saya butuh waktu yang cukup lama untuk menimbang-nimbang.
“Nah, gitu dong bu.”
“Akhirnya bu F ikut juga.”
Dan komentar-komentar riuh di grup WA ramai menyambut kehadiran saya.
Sejujurnya saya tipikal orang yang sulit untuk berkomitmen. Namun kalau sudah memutuskan untuk berkomitmen, saya akan bertahan mati-matian.
Maka dari itulah saya sangat selektif untuk masuk organisasi, gank ini itulah, bahkan untuk pacaran aja, saya butuh waktu untuk berpikir lama.
Karena kalau udah nyemplung, untuk keluar dari situ butuh strategi mikir ini itu lagi, yang pastinya bakal bikin lelah lahir batin.
Okee, oke. Saya rada cemen untuk terikat pada sesuatu.
Pernikahan komitmennya seumur hidup, susah senang ya ikhlas aja menjalaninya.
Namun beda lagi kalau arisan PKK. Begitu berada di lingkunan tersebut, saya musti siap berkomitmen dengan durasi yang seiring dengan durasi pernikahan. Masalahnya saya nggak pernah siap.
Saya ngeri kalau di awal pindah rumah udah gabung PKK, kalau nggak cocok sama si A, B, C gimana? Mau cabut dari arisan PKK tidak semudah itu. Ntar menimbulkan gosip-gosip tetangga.
Pokoknya pikiran saya tuh super drama membayangkan yang pahit getir.
Jadi selama 15 tahun tinggal di perumahan ini, saya kenali dulu satu persatu tetangga-tetangga tersebut, sampai hati saya merasa sreg dan bisa jadi satu circle.
Baiklah, mari kita awali komitmen baru ini dengan semangat dan doa.