Saya tuh termasuk jarang nonton film, namun berusaha untuk punya tontonan tetap di Netflix. Baru-baru ini saya berhasil menamatkan serial Ripley.
Series ini dibuat berdasarkan salah satu film kesukaan saya jaman kuliah dulu, judulnya The Talented Mr Ripley.

Karena dulu setelah nonton Mr Ripley itu, Matt Damon langsung menjadi ranking 1 dalam urutan aktor terbaik versi saya.
Bahkan Jude Law yang saat itu sedang di puncak ketampanannya, tidak saya lirik. Mainnya kebanting jauh daripada Matt Damon.

Jadi saat dibuat seriesnya, lumayan penasaran juga, apakah Andrew Scott mainnya sebagus Matt Damon?
Baiklah, ini spoiler. Ya tentu kudu spoiler dong, karena kalo nggak spoiler saya bingung mau ngetik apaan.
Kisah dimulai saat seorang detektif menemui Tom Ripley dan ia menyuruh Tom untuk menemui Mr. Herbert Greenleaf.

Rupanya Mr. Greenleaf mengira Tom adalah teman anaknya yang bernama Dickie.
Bapaknya Dickie ini mengeluh, anaknya di Italy luntang-lantung nggak jelas dan disuruh balik New York nggak mau.
Dengan imbalan uang dan perjalanan ke Italy, Tom disuruh membujuk Dickie untuk pulang dan ikut terjun dalam bisnis bapaknya yang tajir itu. Tanpa pikir panjang, dengan sat-set Tom langsung menyikat kesempatan emas itu.
“Tentu saja aku berteman akrab dengan Dickie, jangan kuatir, akan kubawa pulang dia nanti”. Begitulah kibulan si Tom. Padahal mukanya Dickie aja si Tom nggak tahu.
Singkat kata, Tom akhirnya sampai di Italy dan berhasil ketemu si Dickie.
“Ogah ah balik, enakan di sini. Hidup bebas, bisa ngelukis dan pacaran.”
Misi pun gatot. Gagal total.
Dickie yang baik hati itu menawarkan Tom untuk menginap di villa. Hari pun berganti, sampe udah dua bulan-an kali ya (lupa), Tom masih aja numpang di villanya Dickie dan nggak balik-balik. Marge, pacarnya Dickie pun gerah.
“Nih anak kok nggelibet aja disini, kayak kabel setrikaan. Suruh pulang gih, malesin banget liat dia.”

Berdua mereka berembuk untuk bikin strategi supaya Tom enyah dari sini. Singkat cerita, Dickie mengajak Tom keluar kota. Misinya, supaya Tom nggak ikut balik, biar di kota itu aja.
Supaya Tom nggak tersinggung, Dickie ngajak ngobrol dari hati ke hati sambil naik perahu berdua. Singkat kata, mereka berantem dan Tom akhirnya memukul Dickie sampai tewas di perahu.

Sebelum menenggelamkan Dickie dengan perahu, identitas Dickie (jam tangan, cincin) ditukar dengan punyanya Tom.
Dalam benaknya, “Oke, Tom udah ko’it, mati, tamat riwayatnya. Sekarang aku punya identitas baru, aku akan jadi Dickie yang baru. Toh, siapa juga yang ngenalin, wong ini di Italy.”
Begitulah. Tom kini jadi Dickie.
Foto di paspornya Dickie diganti fotonya dia, tanda tangan Dickie pun dipalsu untuk mencairkan buku cek milik Dickie yang nilainya besar.
Dickie yang baru menjadi OKB, orang kaya baru. Ia pun pindah kota, tinggal di hotel mewah sampai memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen yang luar biasa keren interiornya.
Sudah ah, males ngetik. Capek.
Yang pasti aku lebih suka yang ini daripada yang versi film. Matt Damon, maafkan aku yang sekarang. Posisimu udah tergeser si Andrew.
Suer deh, yang ini lebih keren ceritanya. si Tom minim banget dialognya, lebih banyak main-main dengan ekspresi datarnya yang bikin geregetan itu.

Yang jadi Marge mainnya juga keren. Kok bisa ya akting dengan ekspresi curiga dan sinis namun tetep terlihat anggun tanpa banyak kata?
Gambarnya OMG. Suka banget, hitam putih yang estetik. Ah, susah nulis mendeskripsikan dengan kata-kata. Okelah pokoknya.

Oh ya, setelah nonton ini, saya jadi pengen punya fountain pen alias pena yang runcing. Banyak sekali adegan yang memperlihatkan Tom yang menanda-tangani cek dengan tanda tangan Dickie yang dipalsu.

Duh, lihat goresan pena mahalnya Dickie itu sepertinya mantep banget. *singkirin bolpen indomaret*
Berikut ini cuplikan Tom dengan penanya :
https://youtube.com/shorts/9BT7m0Uf0MA?si=jemvItxFRKqgmcLM
Endingnya juga ditutup dengan cantik. Puas banget nontonnya. Dengan ini, saya nyatakan bahwa ini series terbaik yang saya tonton di tahun 2024.






