Saya membeli buku ini saat semangat baca sudah mulai turun, lalu berharap buku yang tidak tebal bisa bikin mood baca jadi bergairah lagi. Sesuai ekspektasi, tips coba-coba ini ternyata berhasil.
Tiap bab cuma 2-4 halaman, yang membuat saya tidak terbebani untuk membaca. Jadi lumayan kalau mau rehat sejenak. Namun teman-teman tau sendiri kan, kalau udah baca novelnya mas Eka, susah untuk berhenti.
Begitulah, saya sukses membaca sampai tamat dalam waktu singkat.
Suka sekali dengan ide ceritanya, yang bisa jadi relate dengan hampir semua anak laki-laki Indonesia, yang beranjak remaja di kurun waktu tahun 80-90’an
Bahkan saya sebagai wanita juga lumayan relate di beberapa poin. Bahwa masa kanak-kanak kita semua penuh dengan pemaksaan dan kedisiplinan dalam beribadah. Harus sembayang, mengaji dan hal-hal yang tentunya kita semua melakukan dengan terpaksa, penuh kedongkolan dan ogah-ogahan.
Seperti juga yang dialami Sato Ireng. Saking kesal dengan pemaksaan yang dilakukan ayahnya dan ia tidak punya kemampuan untuk melawan dan mengeluarkan argumen, akibatnya hati dan pikirannya tertimbun banyak tumpukan kemarahan dan kebencian yang ia simpan.
Ketika beranjak remaja dan ayahnya meninggal, di titik itulah bom yang lama tersimpan di dirinya meledak. Sato Ireng mulai menunjukkan jati diri sebenarnya. Benar atau salah, buatnya tidak penting. Ia ingin jujur dan merdeka dalam mengutarakan pendapat dan merdeka dari bayang-bayang ayahnya.
Novel singkat yang membuat kita merenung setelah membacanya.
Setelah beberapa bulan nggak beli buku, akhirnya tiba juga hasrat untuk mulai baca buku lagi. Yang saya pilih terbitan Gramedia tentunya.
Nah karena bukunya belum kelar saya baca, jadi mending saya tunjukkan barangnya dulu, sambil memperlihatkan betapa seriusnya Gramedia kalau memproduksi buku.
Lihatlah. Seluruh tulisan dikumpulin jadi satu di sebelah kiri atas, dengan pembeda warna kuning untuk nama si pengarang. Lalu disudut kanan atas terdapat logo Gramedia. Duh, suka banget deh. Simpel, minimalis dan nggak bikin pusing.
Ilustrasinya dibuat oleh Wulang Sunu. Beberapa tahun terakhir ini, buku terbitan Gramedia yang saya beli dihiasi oleh karyanya. Semuanya saya suka, seneng aja gitu berlama-lama ngeliatin sampul bukunya.
Bergambar seorang pria yang tidak tampan dengan gaya dan penampilannya yang sok asik dengan mantel dan topi serta kacamata kuning. Tangannya menjulurkan api. Sejujurnya saya belum paham maksud dari ilustrasi tersebut, karena belum baca.
Namun dari judulnya tentang Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong, mungkin ini kisah tentang pria tidak tampan yang mencoba melawan takdir. Iya, saya sok tau aja sih, wong belum baca.
Warna sampul shocking pink menambah kesan kalau si pria tidak tampan ini punya rasa pede yang maksimal. Iya dong, sampul warna hitam atau putih mah udah biasa. Ini udah pink, ngejreng pula.
Saat kertas pinknya dibuka, terlihat ada cetakan emboss di buku hardcover ini. Bisa jadi ciri penting untuk memudahkan ini buku asli, bukan bajakan.
Di bagian dalam ada motif monogram. Motif monogram itu kalau di tas mewah itu seperti ini :
Atau seperti ini :
Nah, di buku ini ternyata juga ada motif monogramnya. Jarang banget buku-buku cetak yang diberi motif gini.
Menariknya setelah saya amati, ekspresi wajah si Pria tidak tampan ini berbeda-beda. Ya ampun, gemes deh liatnya. Saya makin bersyukur bisa memiliki buku ini, banayak hiburannya.
Tidak hanya itu, buku ini juga memberikan bonus-bonus yang bikin saya seneng.
Yang pertama adalah pembatas buku. Standar-lah ya. Banyak penerbit yang juga ngasih pembatas buku.
Namun yang ini berbeda. Pembatas pada umumnya kan cuma kotak persegi biasa ya, ini ada effortnya dong buat percetakannya, di bagian atas dibentuk sesuai ilustrasinya.
Ada tambahan quote, “Orang saleh pergi dengan mudah.” Kutipan yang sukses memancing rasa penasaran saya, jadi buku ini isinya apaan ya? Ustadz traveling gratis?
Lalu ada bonus kartu pos. Saya kurang tahu manfaatnya, karena sekarang masih jaman nggak sih kirim-kirim kartu pos?
Di baliknya terdapat curahan hati Eka Kurniawan tentang terbitnya buku ini. Ditulis dengan font ala mesin ketik mengingatkan saya jika kartu pos ini dari penulis.
Dan yang terakhir adalah bonus stempel yang ukurannya lumayan besar.
Stempel ini bergambar anjing dan kucing. Pengen nyoba, tapi belum beli bantalan stempel dan tintanya. Ntar deh nyari supaya stempel ini berguna.
Sepertinya ini bisa buat sticky note, yang didalamnya bisa kita tulis macem-macem. Kurang lebih seperti ini :
Yang terakhir dan yang terpenting, buku yang saya beli ada tanda tangan si penulis dong. Nih buktinya :
Dengan harga buku diatas 100 ribu, menurut saya harganya sepadan dengan apa yang saya dapatkan dan nikmati. Bonus-bonusnya menggemaskan. Padahal ini belum baca lho. Bayangin kalau udah baca.
Kadang saya jenuh dengan wangi yang gitu-gitu aja. Seperti bunga-bungaan, buah-buahan, dan rempah-rempah. Membosankan.
Sampai pada suatu hari saya liat kemasan parfum lokal, Mykonos – Caramel Fudge Cookie, dengan gambar cookies seperti ini.
Menarik banget ga sih? Parfum dengan aroma cookies. Kayaknya lucu nih wanginya.
Botolnya. Ah, so cute berwarna coklat dengan tutup emas. Walaupun sizenya 50 ml, bentuknya terlihat imut dan menggemaskan.
Ketika awal disemprot saya mencium aroma di hidung saya seperti wangi kue yang baru keluar dari oven. Ada wangi butter, caramel dan vanilla. Wuzz, sedap.
Beberapa menit kemudian mencul aroma pandan tipis-tipis lalu menghilang, yang semakin kenceng adalah aroma vanila dan kelapa yang creamy cukup kuat di hidung saya. Mengingatkan saya pada biskuit Roma Kelapa. Iya, wanginya persis kayak gitu, Bukan cookies seperti yang ada di box. Ini di hidung saya lho ya, nggak tau kalo dihidung org lain.
Duh, pake ini rasanya seperti pengen makan diri sendiri saking nikmatnya aroma saya haha.
Ketika dry down beberapa jam kemudian yang masih bertahan di hidung saya adalah aroma caramel dan vanila. Lucunya nuansa wangi Roma Kelapa udah hilang dan yang muncul adalah wangi coklat hangat yang leleh abis dipanasin. Ah, ini dia aroma cookie coklat seperti yang ada di box.
Beberapa kali saya pake ngantor, selalu timbul komentar dan celetukan ramai karena wanginya bikin laper. Bahkan ada temen saya yang sidak dari meja ke satu ke meja yang lain untuk nyari tau siapa yang bawa kue.
Setelah jenuh dengan wangi romatis, wangi elegan, wangi orang kaya, dan sebagainya, kini saya punya wangi yang lucu, wangi yang bikin cengar-cengir sendiri, wangi yang naikin mood jadi hepi.
Parfum ini pas banget dipake kalo lagi pengen lucu-lucuan dan pengen menghibur diri biar hidup terasa seru.
TOP : Cookie dough, caramel, vanilla MIDDLE : Caramel, condensed milk, sea salt BASE : white musk, vanilla, caramel, praline.
Lihatlah desain kemasan parfum lokal ini, cakep yaa. Hitam keemasan yang ah, pengen aku elus-elus melulu box cantiknya ini.
Berhubung lagi jenuh bahas buku, jadi saya mau bahas parfum lokal aja ah.
Jika kalian memperhatikan parfum-parfum lokal yang berseliweran di market place akhir-akhir ini, Mykonos adalah salah satu produk yang paling rajin mengeluarkan varian di tiap bulannya.
Saking banyaknya, sampai saya nggak sadar kalau udah punya 20-an lebih varian punya Mykonos. Hmm, kalau dihitung ternyata banyak juga.
Abis gimana yaa, hati saya tuh gampang banget luluh kalau lihat packaging yang menarik dan botolnya yang unik. Nilailah dulu kemasannya, baru isinya.
Salah satunya adalah Senja. Duh, gemes gak sih, namanya udah Indonesia banget kan ya. Awalnya saya pikir ini mungkin mempresentasikan anak-anak senja gitu, yang suka nongkrong di kedai kopi kecil sambil dengerin musik Indie. Begitulah tebakan saya awalnya.
Lalu dengan informasi notes bahwa aroma yang dominan di Senja ini adalah aroma coklat, almond, kopi, saya makin yakin, ini wangi anak senja. Bungkus!
Beberapa hari kemudian Senja yang saya nantikan datang juga, botol parfumnya seperti ini :
Botolnya cantik dan kokoh banget.
Karena bentuknya seperti parfum timur tengah, rada-rada mesir gitu. Saya bergegas untuk mencari tahu lebih lanjut. Ah, ternyata parfum ini muncul untuk menyambut idul fitri, pantesan pakai botol yang bernuansa timur tengah.
Untuk ukuran parfum lokal, box dan botol yang cantik membuat saya makin menghargai Mykonos, nggak asal-asalan bikin packaging seperti merek-merek lokal pada umumnya. Ada effort lebih yang patut diapresiasi dan mungkin juga modalnya kuat ya.
Ini saya nulis bukan karena diendorse. Sori ya, parfum ini saya beli pake duit sendiri.
Baiklah, first impression saat awal semprotan, hmm.. kok wanginya seperti minyak gosok ya? Hahaha. Bukan merek tertentu, cuma aromanya terasa berempah dan lumayan tajam menonjok hidung.
Buyar deh ekspektasi saya tentang anak senja dengan wangi harum kopi susu dan coklat.
Beberapa review netizen yang saya tonton, memang disebutkan bahwa Senja ini, “Kayak aroma bapak-bapak mau jum’atan.” Ada juga yang bilang, “Kayak aroma kakek-kakek.” Singkat cerita banyak yang kecewa dengan aroma ini.
Namun saya merasa perlu menggunakan beberapa hari sebelum mengambil kesimpulan. Jadi untuk langkah pertama, saya semprotkan dulu di kamar, kayak nyemprot baygon gitu biar terasa wangi aslinya.
Beberapa menit kemudian saya masuk kamar dan wow, ternyata aromanya sungguh Indonesia banget. Kini saya mengerti Senja yang dimaksud Mykonos.
Wanginya nostalgic, membawa saya ke dalam suasana senja menjelang maghrib dengan sayup-sayup suara dari masjid yang seperti ini :
Coba klik dulu linknya sebelum lanjut baca blog ini. Biar ga gagal paham.
Parfum Senja ternyata meniliki aroma bener-bener relaxing. Saya mencium aroma kopi tubruk dengan cengkeh dan kayu cendana. Belum lagi wangi kacang dan coklat yang tipis-tipis timbul tenggelam di indera penciuman saya. Ditambah suara sayup-sayup dari masjid dan langit senja membuat suasana makin syahdu.
Wah wah, ini wangi mewah, sedap banget. Wangi yang bikin orang Indonesia yang jauh dari tanah air jadi kangen.
Menurut saya ini sayang banget kalau dipakai sebagai parfum harian. Wanginya yang nostalgic pantas disemprotkan di waktu istimewa. Saat mood lagi ingin merasakan nuansa Indonesia saat lagi damai. Hahaha, biarin lebay.
Tapi sumprit, gak bohong. Rasain deh sambil dengerin shalawat di atas. Itu hanya terdengar di masjid-masjid Indonesia (atau Jawa ya?).
Padahal ini parfum, bukan aromaterapi. Tapi ini parfum ajaib yang bisa bikin mood membaik kalau lagi kangen rumah, kangen keluarga. Oke, ini parfum buat yang belum sempet mudik.
Nggak salah jika Mykonos bikin ini dengan nama Senja dan dilaunching menjelang lebaran. Malam itu, saya tidur nyanyak dengan wangi yang bikin bahagia.
***
TOP : coffee, almond | MIDDLE : patchouli, chocolate, milk | BASE : sandalwood, chocolate, vetiver, cistus.