Petualangan Tintin di Tanah Sovyet

Satu tips untuk temen-temen, kalau mau beli Tintin yang satu ini, lihat dulu dalamnya, biar nggak kucewa. Kenapa? karena gambarnya belum berwarna, alias masih hitam putih.

Huh, sebel. Saya serasa kena prank, udah gitu gambarnya Tintin masih ga keren, penampilannya kayak Saolin China.

Setelah saya menggali info dari internet, ternyata komik ini merupakan karya Herge yang pertama dimuat di koran sebagai comic strip. Kini saya baru paham mengapa covernya sangat berbeda dengan cover Tintin pada umumnya. Yang ini lebih sederhana dengan background putih.

Hal yang bikin saya tertarik untuk membelinya karena judulnya ada kata Sovyet. Berhubung Uni Sovyet udah buyar tahun 1991, maka saya kepo tahun berapa komik ini dibuat dan seperti apa isinya.

Tintin salah satu wartawan top kami ke Sovyet, Rusia. setiap minggu kami akan menyajikan berita tentang berbagai petualangannya. Redaktur ‘Le Petit Vingtieme’ menjamin semua foto autentik, diambil oleh Tintin sendiri, dibantu anjingnya yang setia, Milo.

Enak ya, kerja boleh bawa anjing. Di komik ini nama anjingnya Milo, bukan Snowy.

Saat Tintin naik kereta menuju Berlin, terjadi tragedi, bom meledakkan 10 gerbong dan menghilangkan 218 nyawa orang. Tintin menjadi tertuduh dan ditangkap Polisi Jerman saat turun dari kereta. Namun Tintin berhasil lolos, kabur dengan motor polisi. Sesampainya di perbatasan Stolbtzy, saat Tintin dicek dokumennya, seorang petugas berbisik pada rekannya,

“Hati-hati dia wartawan asing. Aku sudah berusaha membungkamnya. Dia harus dihilangkan secara tak sengaja. Kuntit dia kemana-mana.”

Sesampainya Tintin di kota, terlihat rombongan komunis dari Inggris yang sedang ditunjukkan seseorang tentang kesuksesan Bolshevisme. “………berlawanan dengan cerita yang disebarkan negara-negara borjuis, pabrik kami bekerja dgn kapasitas penuh.”

Tintin menyelinap kedalam dan menyadari bahwa semua itu tipuan. Tidak ada aktivitas apa-apa di dalam pabrik, hanya seseorang yang membakar jerami untuk membuat asap palsu keluar dari cerobong asap.

“Begitulah orang Sovyet membodohi orang-orang malang yg masih mempercayai ‘surga merah’.

Esoknya Tintin berkeliling ke daerah lain dan melihat kerumunan orang. Rupanya ada Pemilihan untuk Sovyet.

“Kamrad, kalian punya 3 partai di depan kalian. Yang pertama adalah partai komunis. Semua yg tidak mendukung partai ini angkat tangan!”

Orang itu bertanya sambil menodongkan pistolnya dari atas panggung ke arah kerumunan orang.

Siapa yg menolak partai ini? Tidak ada? Aku mengumumkan Partai komunis terpilih dengan suara bulat.

Buset, berani juga ya Herge bikin komik ini. Dimuat di koran pula. Gila. Gila. Gila.

Sesampainya di losmen, Tintin segera menulis laporan. Malamnya ketika tidur, seseorang mencoba masuk kamarnya dan berusaha mencuri hasil tulisannya. Tintin ditangkap dan disiksa. Lucunya, Tintin di komik ini udah kayak James Bond, bisa aja meloloskan diri dengan adegan-adegan action yang spektakuler.

Tintin lari ke sebuah daerah, disitu terlihat antrean panjang pembagian roti gratis untuk orang-orang miskin Moscow. Sesorang yang hendak membagi, bertanya sebelum membagikan roti,

“Komunis? Kau komunis? Ya? Roti untukmu.” “Komunis? Bukan? Ini untukmu! menendang Dasar anjing!”

Tintin geleng-geleng, “Satu contoh kejahatan lagi di Rusia. Gerombolan anak terlantar memenuhi kota dan desa, hidup dengan cara mencuri dan minta minta.”

Beberapa hari kemudian Tintin menyamar menjadi tentara dalam sebuah rapat rahasia. Kali ini Tintin udah kayak mata-mata seperti Mission Imposible.

“Kamrad, Kita kekurangan gandum! Sedikit yang kita miliki dibutuhkan untuk propaganda ke luar negeri! Kita harus mencari gandum, kalau tidak, akan timbul bencana kelaparan! Satu-satunya solusi adalah mengatur ekspedisi melawan Kulak, orang kaya di desa dan memaksa mereka dengan todongan senjata untuk memberikan jagung mereka pada kita. Begitu pendapatku.”

Sialnya Tintin ketauan, lalu kabur dan sembunyi di gubug tua. Tempat yang seperti rumah hantu ini ternyata gudang gandum yang sangat besar.

“Sementara rakyat Rusia mati kelaparan, sejumlah besar gandum dikirim keluar negeri untuk membuktikan kekayaan palsu surga Sovyet.”

Dekat dari situ, Tintin menemukan pesawat kecil bobrok. Kali ini Tintin seperti macGyver, pesawat itu diperbaiki lalu terbang dan mendarat di Berlin. Sesampainya di hotel, seseorang menangkapnya, “Kami menawarimu seratus ribu rubel kalau kau setuju bergabung dengan Ogpu. Kalau tidak mati. Setuju?”

Milo, anjingnya lalu datang dengan kostum harimau, membebaskan Tintin. Entah dari mana dia dapat kostum konyol itu. Tintin lari 15 km dari Berlin, lalu menginap di hotel. Sialnya pelayan hotel tersebut anggota Ogpu, saat dilumpuhkan Tintin, di sakunya terdapat dokumen penting, Tintin lapor polisi. “Dokumen ini menyatakan orang itu anggota Bolsshevik dan akan meledakkan dinamit di semua ibu kota eropa, kau menyelamatkan eropa. Ini hadiah 20.000 mark.”

Uang tersebut dibelikan mobil baru, saat dalam perjalanan, mobil tersebut melewati tumpahan oli di jalan dan tidak bisa direm. Tintin melompat dari mobil ke kereta yang sedang berjalan. Dalam kereta, dengan lelah Tintin berkata, “Kita pulang, Milo. Aku ingin istirahat total sebelum berpetualang lagi.”

Sesampainya Tintin di Belgia, seluruh rakyat menyambutnya bak pahlawan. Ending yang berlebihan.

Biarin spoiler, toh tetep dibaca juga kan?


Cerita ini dimuat dalam koran Le Vingtième Siècle yang terbit di Belgia pada 1929 – 1930, lalu dibukukan dalam bentuk buku komik untuk pertama kalinya pada tahun 1930.

Sayangnya karena isinya begitu sensitif komik ini ditarik dari peredaran. Komik yang hanya berjumlah 500 eksemplar dan diberi tanda “Tintin et Milou”, merupakan barang langka, mahal dan dicari banyak orang, khususnya para kolektor.

Komik ini muncul lagi tahun 1999, setelah Herge meninggal. Lalu diterjemahkan Gramedia tahun 2007, nah, yang saya punya ini merupakan cetakan ke-6 Mei 2023.

Kalaupun Herge masih hidup mungkin males lihat gambar lucu dengan cerita yang super lebay ini. Namun dari buku inilah, kita bisa lihat progresnya yang mantap.

Mustinya bintang 5, karena komik ini spesial, bisa dikategorikan sebagai harta karun yang berharga. Namun karena gambarnya tidak memenuhi ekspektasi saya, jadi cukup bintang 3 aja deh.

Parade Hantu Siang Bolong

Judulnya lumayan menggelitik. Kalau hantu di malam hari kan udah biasa, gimana kalau hantu siang bolong?

Tanpa banyak mikir, udahlah, bungkus!

Sebetulnya saya bukan penggemar cerita hantu, seperti pocong, kuntilanak dan sejenisnya. Namun saya selalu penasaran dengan hal-hal mistis diluar hantu.

Buat saya hal mistis adalah teknologi canggih yang saya belum mudeng. Rasa penasaran akan hal-hal mistis pun lumayan terpuaskan dalam buku ini.

Dibuka dengan pengalaman penulis nonton tradisi Ebeg di Banyumas, yang menampilkan para remaja pria usia SMP menari sampai kesurupan roh halus tertentu.

Dilengkapi dengan foto hitam putih dengan adegan lagi kesurupan. Ngeri-ngeri sedap ngeliatnya.

Kemudian ada jalan-jalan ke Kampung Pitu, desa yang hanya bisa dihuni 7 keluarga. Lebih dari itu pasti terjadi hal-hal buruk.

Di artikel selanjutnya, ada kisah si penulis yang kebingungan ketika bapaknya meninggal. Sebagai satu-satu di keluarga yang menganut kepercayaan Penghayat, keluarganya bingung bagaimana proses pemakamannya yang benar untuk bapaknya. Belum lagi gagasan tetangga sekitar yang hanya menyarankan untuk dilakukan proses pemakaman secara islam saja.

Seru sekali buku ini. Kearifan lokal berupa pengetahuan, keyakinan atau adat kebiasaan yang didasari dari pengalaman masa lalu nggak bakal abis untuk dibahas. Tidak heran jika Indonesia dikenal dengan realisme magisnya.

Sayangnya makin ke belakang, hal yang dibahas makin jauh dari mistis, walaupun masih diluar nalar. Budaya Indonesia memang aneh-aneh ya.

Seperti perlombaan misuh Jancuk dengan kategori misuh romantis, misuh galak, misuh sedih, dan sebagainya.

Ada lagi acara Golek Garwo, kontak jodoh yang langsung face to face. Tidak seperti Tinder dan semacamnya, acara ini butuh nyali besar, karena musti naik panggung dan memperkenalkan diri di depan peserta lain dengan mic.

”Nama saya Septi, single, usia 30 tahun. Rumah di daerah Maguwo. Saya mencari calon suami yang umurnya 30-35 tahun, punya pekerjasn, tidak merokok dan harus punya jiwa seni.”

Nah lho! Berani nggak kalian maju memperkenalkan diri seperti itu?

Banyak kisah yang menarik, peristiwa yang menegangkan, dan tradisi yang selama ini luput dari pengamatan.

Membaca buku ini membuat saya happy, ternyata hidup di Indonesia sungguh berwarna dan memang asyik.

Maut Dan Cinta

Buku yang saya punya merupakan cetakan kedua tahun 2018, dengan desain sampul yang bagus dan kekinian, beda jauh dengan sampul lawas yang tercantum di Goodreads.

Punya saya
Sampul yang ada di Goodreads

Novel ini kayaknya perlu dibaca generasi muda deh. Untuk mengingatkan kalau kemerdekaan yang kita nikmati sekarang adalah hasil dari perjuangan panjang dan melelahkan. Begitu banyak pertarungan antara hidup dan mati.

Mochtar Lubis menceritakan suasana pasca kemerdekaan, sekitar tahun 1947, 3 tahun setelah Indonesia merdeka, dengan sudut pandang yang tidak kita dapatkan dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah.

Bercerita tentang Mayor Sadeli atau Eddy, seorang anggota dinas intelijen Indonesia yang ditugaskan ke Singapura untuk menyelidiki Kapten Umar Yunus, intel sebelumnya yang ditugaskan ke Singapura dan dicurigai menyelewengkan dana revolusi.

Selain itu, Sadeli juga ditugaskan untuk memperluas jaringan kerja sama dan dukungan militer, seperti negosiasi dengan orang-orang asing di Singapura untuk pengadaan perlengkapan senjata dan alat komunikasi.

Tidak hanya berkutat di Singapura, Sadeli juga berpindah-pindah ke Thailand, Hongkong sampai Macau.

Novel ini juga terdapat adegan action. Adegan tembak-tembakan, kejar-kejaran dengan kapal perang Belanda di perairan pulau-pulau kecil sekitar Selat Malaka hingga berdarah-darah.

Tidak hanya adegan yang heroik, bahkan renungan Sadeli pun heroik. Bisa dibilang 50% novel ini isinya renungan Sadeli tentang nasionalisme yang dalem banget, sampai saya aja tercengang.

Waduh, saya baca novel ini sampai malu sendiri. Jarang sekali hari ini generasi kita yang sampai overthinking seperti Sadeli, punya jiwa patriotisme yang tinggi dan terus menerus mikirin bangsa. Seserius itu si Sadeli. Eh, mungkin begitulah tentara ya.

Namun, namanya pria lajang, disela-sela mikirin bangsa, dia juga sering berpikir mesum sambil memikirkan nasibnya sebagai kaum jomblo.

Dalam kesendiriannya Sadeli bertanya-tanya, mengapa ia tak seperti Ali Nurdin yang sudah siap menikah dengan Nani? Apakah ia terlalu menomorsatukan pekerjaannya? Ataukah memang belum ada wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta?

Padahal ya, kelakuannya udah kayak James Bond kw, sok cool gitu, yang setiap saat gonta-ganti dengan banyak wanita. Sumpah, banyak banget, hampir di tiap bab muncul nama wanita baru. Sampe males ngitung totalnya.

Terus terang saya butuh waktu berminggu-minggu untuk baca buku yang lumayan tebal ini. Buat saya rada membosankan akibat bahasanya lumayan jadul. Mungkin juga karena tidak ada editornya, jadi begitulah hehe..

Sebelumnya saya sudah baca bukunya Mochtar Lubis yang “Harimau! Harimau!” dan “Jalan Tak Ada Ujung.” Kedua buku tersebut saya kasih nilai 5/5, walaupun belum saya ulas di Goodreads.

Jadi espektasi saya cukup tinggi ketika baca ini, dan berujung kecewa dong. Bukan tidak bagus, tapi saya kelelahan dengan bahasanya bertele-tele, tidak sat set seperti 2 buku sebelumnya yang saya baca.

Gaya Hidup Seperti Ramadhan

Beberapa tahun yang lalu saya pernah berpikir, ngapain ya setelah bulan puasa selesai, saya balik ke gaya hidup lama?

Lha terus apa gunanya 30 hari konsisten bangun jam 2.30 pagi dan seterusnya, kalau endingnya setelah lebaran balik ke habit lama.

Lalu terbersit dalam hati, iya ya, kenapa gaya hidup saya nggak diatur seperti puasa aja?

Hidayah mulai menghampiri. Saya pun melakukan eksperimen pada diri diri, sekarang di tahun 2024, sudah ada beberapa poin nih yang saya ubah. Jadi perlu saya tulis di sini, biar dunia tahu wkwk.

1. Bangun jam 2.30 pagi

Ketika bulan ramadhan, sebagai istri tentu saya bangun sedini mungkin untuk mempersiapkan sahur dong. Biasanya memang saya bangun pukul 2.30

Setelah lebaran saya tetap memutuskan untuk tetap bangun jam 2.30. Gara-garanya nonton sebuah video di Youtube yang membuat saya terinspirasi.

Intinya ada sebuah pondok pesantren yang biasa jadi tempat rehab pecandu narkoba. Salah satu terapinya adalah mereka disuruh bangun jam 2 pagi, lalu mandi keramas sebelum beraktifitas.

Jadi udah hampir 2 tahun, saya mandi keramas dini hari. Dan saya suka! Rasanya fresh banget. Badan tuh lebih fit, belum lagi jam segitu saya bisa menghirup udara di jam terbaik.

Bangun dini hari, emang mau ngapain lagi? Sholat malam deh akhirnya, mumpung udah bangun kan? Lalu lanjut ngaji. Setelah itu sembari menanti waktu subuh, saya ngopi dan nulis diary, kadang-kadang baca.

Subuh tuh jam 4 pagi. Jadi ada waktu 2 jam lebih di pagi hari untuk me time.

Rasanya enak gitu, suasananya masih hening. Nggak ada yang ngerecokin, udara juga masih fresh. Bener-bener bisa nikmatin golden hour itu bikin mood jadi bahagia.

Mewah kan gaya hidup saya? Sultan-sultan masih tidur, saya udah bangun duluan. Satu langkah lebih maju dari mereka hehe.. #pret

2. Makan sebelum subuh

Bulan ramadhan biasanya kan sarapan sebelum waktu subuh tiba.

Nah, kalau yang ini, jujur aja saya masih belum sanggup. Karena setelah subuh, agenda saya jalan pagi, jadi pengennya sarapannya ya setelah jalan pagi.

Saya lagi berusaha sih, tapi sebelum subuh biasanya saya pup, jadi belum berselera untuk sarapan. Namun ke depannya saya optimis kayaknya bisa deh.

3. Tidak makan siang

Kalau bulan ramadhan tentu saja tidak makan siang kan?

Ini mah gampang. Saya memilih memejamkan mata alias bobok siang saat istirahat daripada makan.

Kebiasaan ini sudah saya terapkan sejak masih fresh graduate, saya sering melewatkan waktu makan siang.

Serasa sedang diet OCD yang pake jendela makan, bukan?

4. Makan sesudah maghrib

Ini juga gampang, apa susahnya coba?

5. Setelah waktu Isya s/d jam 20.30 melakukan aktifitas rutin :

Seperti sholat Terawih gitulah.

Di luar bulan ramadhan, saya bikin aktifitas pengganti sholat Terawih. Baca buku atau ngapain kek.

Intinya di jam-jam tersebut, saya mematikan wifi di handphone, biar gak tang-tung-tang-tung notifikasinya. Seperti sholat teraweh di masjid kan saya nggak bawa hp juga.

Jadi kalau saya butuh fokus ngerjain sesuatu, saya lakukan di jam ini.

***

Seluruh eksperimen itu sebetulnya setelah dijalani ternyata menyenangkan kok.

Harapannya sih saat bulan ramadhan tiba tuh nggak drama, seperti terpaksa bangun lebih awal, ribet dengan menu sahur dan seterusnya.

Kebayang nggak sih betapa indahnya, di tahun-tahun mendatang, disaat emak-emak pada heboh dan panik dengan drama menyambut ramadhan, saya tetap tenang-tenang aja. *kibas rambut

Emang Masih Ada Yang Baca Blog?

Begitulah pertanyaan temen saya, mantan blogger dengan nada pesimis.

Namun saya punya jawaban dong.

Saya nulis blog karena saya suka menulis. Aktifitas yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang saya. Nggak ada yang baca juga nggak papa, wong tulisan saya buat dokumentasi pribadi, bukan untuk dikomentarin.

Kadang-kadang saya pengen cerita sesuatu tapi nggak ada yang bisa diajakin ngobrol. Kadang-kadang lagi nggak ada temen yang lagi sefrekuensi. Jadi blog ini lumayan banget untuk menyalurkan hasrat bercerita biar pikiran nggak penuh.

Walau sepi, ternyata ada juga beberapa teman blog yang kerap datang, meninggalkan jejak dengan kalimat di kolom komentar.

Bahkan saya baru menyadari ketika mengetik tulisan ini, bertahun-tahun saya nulis blog, belum pernah saya dapati komentar nyinyir ala netizen X, instagram atau facebook.

Semuanya kok baik-baik ya. Menandakan bahwa lingkungan blog merupakan lingkungan pertemanan yang positif. Kan sayang kalau ditinggalin hehe.

Kalau lagi senggang, kadang saya blogwalking juga. Lalu kemarin saya terkejut sekaligus senang ketika mampir ke blog : https://arenerin.wordpress.com/2024/06/22/blogwalking-ke-5-blog-ter-favorit/

Ternyata blog saya masuk dalam 5 favorit blog versi dia. Waduh, padahal tulisannya jauh lebih bagus dan berbobot dibanding tulisan receh saya ini.

Dengan gercep saya capture, karena ini momen yang kudu cepet-cepet saya abadikan di blog ini.

Biar apa? Biar jadi penyemangat untuk tetap rajin mengisi blog ini.