Kisah Langit Merah

Buku ini saya pinjam dari seseorang, “Buku lama, bawa aja”. Wah, Bubin Lantang. Yang dulu suka baca majalah Hai, mungkin tahu dia. Sudah lama saya tidak mendengar namanya. Buku yang saya baca ini cetakan pertama di tahun 2009.

Ternyata Langit Merah adalah nama seorang pria. Jadi Kisah Langit Merah ya tentang kisah hidup si Langit.

Lima bulan sebelumnya, Langit masih bekerja di BofA di kawasan elit New York, sebagai anggota tim external economist, meneliti efek privatisasi BUMN di negara-negara berkembang Asia dan Afrika. Setelah penelitian itu selesai dalam waktu setahun, tim itu dibubarkan. Tiga anggota lain tim tersebut pulang ke negara masing-masing, sedangkan dia —demi sebuah petualangan— nekad terus bertahan hidup di New York.

Hidupnya kini jungkir balik menjadi pekerja ilegal di sebuah tempat laundry kecil milik orang Taiwan.

Aku kenal kamu dengan baik, Merah. Pulanglah, balik ke Jakarta. Kamu orang baik yang pantas hidup baik. Berhentilah bertualang. Sayangi hidupmu. Sayangi dirimu.”

Jika waktu direntangkan lebih jauh ke belakang, dua tahun lalu, dia masih memiliki pekerjaan di Jakarta, pekerjaan yang menjadi obsesinya sejak dia berusia 9 tahun, menjadi wartawan. Mesin ketik pertama yang dia punya, hadiah dari Matahari, adiknya.

Ini jimat elu, Lang. Mudah-mudahan dengan mesik tik ini karya-karya elu mulai dimuat di majalah. Oh ya, gua tetap keberatan elu berisik ketik-ketik tengah malam buta.”

Sejak hari pertama dia menjadi wartawan, dia selalu menolak amplop dan suap yang ditawarkan kepadanya. Ibarat anak gadis, dia bisa menjaga keperawanannya.

Namun ternyata banyak yang tidak menyukainya karena merepotkan beberapa rekan seniornya yang asyik ber-salam-tempel dengan pejabat dan debitor BPPN.

Muak akibat suasana kerja kelewat busuk, dia mendaftar program beasiswa master yang didanai pemerintah Belanda. Dengan mulus dia mendapat izin dari pemimpin redaksinya yang ingin berupaya menyingkirkan dia dari kantor untuk beberapa waktu.

Seusai menyelesaikan pendidikannya di Belanda, Langit balik ke Indonesia. Bekerja kembali menjadi wartawan dan tentunya bertemu lagi dengan Daria, pacarnya.

Aku nikah bulan depan, Rah, tanggal 23.”
“Maafkan aku, Merah..”

Duarrr..

Lalu apa artinya pencapaian demi pencapaian yang diraihnya itu sekarang? Apa artinya decak kagum dan pujian yang ditujukan kepadanya itu sekarang? Hari-hari gemilangnya sudah berlalu.

Ditambah lagi Langit segera dimutasi kantornya ke Batam, tanpa pikir panjang dia mundur dari pekerjaannya. Luntang-lantung mencari pekerjaan sampai akhirnya dapat tawaran kerja di BofA dan pindah ke Amerika.

Bagi Langit hidupnya sungguh mirip roller coaster, melesat dari satu titik ekstrem ke titik ekstrem lainnya. Dan kini nasib membawanya menjadi pekerja ilegal di sebuah tempat laundry.

Suara serak Sade Adu yang mengalun menyanyikan Kiss of Life dari ipod hitam menemani Langit di Q train, subway yang setiap hari sekitar pukul 21.15 membawa tubuh letihnya dari Time Square ke arah Coney Island.

Berbingkai jendela di sebelahnya, gedung-gedung dan titik-titik lampu seakan-akan berlarian kian cepat, persis masa lalunya yang bergerak demikian cepat meninggalkan dia — ataukah dia yang bergerak meninggalkan masa lalu menuju kekinian?

Ending ceritanya bikin terhenyak. Astaga, astaga, astaga. Sungguh klimaks. Saya cuma bisa termenung.

Kalimat pada sampul belakang buku sungguh mewakili,
Petualangan adalah pergi tanpa titik tujuan, membiarkan dirimu tersesat, mencari dan memilih; dan kamu tak tahu kapan harus pulang.”

Langit, langit, nyari apa sih kamu di hidup ini? Saya bertanya sambil menampar diri saya sendiri juga.

Buku ini akan relate untuk usia 35 tahun ke atas, yang dewasa, yang karirnya mulai mapan tapi masih … ah, udahlah baca sendiri aja.

Akhir bab ditutup dengan kata-kata,
Bukankah Iwan Simatupang pun pernah menulis, hidup adalah eksperimen dan resiko, selebihnya hanyalah spekulasi bahwa apakah Tuhan itu ada?”

Bintang 4 buat buku ini.

Sundari Kerajingan Puisi

Beberapa waktu yang lalu saya membaca novelnya Gunawan Tri Atmodjo yang berjudul “Musuh Bebuyutan”.. Eh, ternyata saya suka dan bertekad untuk membaca bukunya yang lain.

Berdasarkan data Di Goodreads, beliau sudah menerbitkan beberapa buku, namun pilihan saya kali ini berupa kumpulan cerpen. Dalam buku ini ada 17 cerpen. Beberapa cerpen sudah diterbitkan di majalah dan koran.

Buku yang saya dapatkan merupakan cetakan kedua tahun 2022 dengan ilustrasi sampul yang lebih keren dan kekinian, yang di Goodreads ini kok tidak menarik ya? Hmm..

Hampir semua cerpennya serius, namun sesungguhnya penuh dengan humor gelap a.k.a dark jokes yang membuat saya sebagai pembaca terhibur.

Dari seluruh cerita, tokoh-tokohnya semuanya punya karakter serius, namun saya sebagai pembaca menilai keseriusan mereka merupakan tindakan konyol.

Seperti dalam cerpen Doraemon dan Korban Pemilu. Sebagai penggemar serial Doraemon, bertahun-tahun ia selalu penasaran dengan wajah ayah Giant dan Sizuka. Karena ia ingin tidur nyenyak dan tidak mau mati penasaran, ia nekad ia menggadaikan sertifikat rumahnya dan pergi ke Jepang untuk mencari jawaban.

Begitu juga kekonyolan dalam cerpen Linda dan Lukman. Dua jam menjelang ulang tahunnya yang ke 27, Linda membuat janji dengan dirinya sendiri. Siapa pun lelaki yang pertama kali menghubunginya setelah jam 12 malam akan ia ‘tembak’ untuk menjadi kekasihnya. Seserius itu Linda dengan janjinya dan saya pembaca merasa tindakan tersebut konyol sekali.

Satu lagi, dalam cerpen Menantu Teladan mengisahkan ibu mertuanya yang terbaring sakit di rumah sakit. Istrinya lalu menyuruh dia menggadaikan sertifikat rumahnya untuk biaya berobat. Dalam perjalanan pulang dari pegadaian, ia tergoda untuk mempertaruhkan seluruh uang yang dipegangnya untuk judi bola di warung kopi. Dengan mantap ia yakin akan menang. Jika menang, ia akan menebus sertifikat rumah dan sisanya untuk biaya rumah sakit. Namun, benarkah ia menang?

Begitulah. Hampir semua tokoh dalam tiap cerpennya bersikap over thinking dan melakukan aksi konyol yang dilakukan secara serius. Lucu.

Sudah 2 buku yang saya baca dan semuanya memuaskan hasrat saya sebagai pembaca. Pengen baca bukunya yang lain, lagi dan lagi.

Setan Van Oyot

Awalnya saya ogah baca ini. Judulnya aja horor, Setan Van Oyot. Setan anaknya pohon besar? Setan penghuni pohon besar? Begitulah pikiran saya sebelum membaca. Dugaan itu tidak sepenuhnya salah.

Ceritanya sederhana, pohon beringin terbesar di daerah Wlingi, selama bertahun-tahun menjadi tempat sakral orang-orang sekitar untuk berdoa memohon keinginannya. Banyak yang terkabul hajatnya. Tidak heran jika banyak sesajen disekeliling pohon tersebut.

Drama dimulai ketika pohon beringin tersebut akan ditebang dan dijadikan panggung untuk pesta ulang tahun Ratu Belanda. Penduduk pun geger dan menyulut serangkaian peristiwa menegangkan.

Namun, apakah tempat tersebut angker dan ada setannya? Tentu saja ada. Setannya bukan penunggu pohon tersebut. Setannya adalah orang-orang sekitar dengan ambisi, keserakahan, kelicikan dan seabrek sifat setan lainnya.

Menariknya, di novel ini karakter orang-orang Belanda dan Tionghoa tidak digambarkan jahat atau culas. Yang kelakuannya kayak setan malah kaum pribuminya.

Ada rencana diam-diam pemberontakan dari Madiun, intrik perempuan pribumi yang berambisi jadi nyonya Belanda, kelakuan sinder pribumi yang doyan korupsi dengan istrinya yang hobi judi, detektif partikelir yang misterius dan sok tau.

Semua terlibat dalam sebuah jalinan kisah cinta dan tragedi. Walaupun di sampul depan bertuliskan “Sebuah Roman Picisan”, jangan berharap ada cerita cinta yang mendayu-dayu. Kan sebel udah saling merayu tapi kaga ada yang jadian.

Dalam novel ini juga bertaburan kekayaan bahasa. Dialog-dialog dengan bahasa Belanda, Jawa kromo, Jawa ngoko, Madura, yang membuat ceritanya semakin hidup.

Sepanjang baca saya terkesan dengan tokoh-tokohnya. Mereka semua punya karakter yang kuat. Kesamaannya mereka, semua punya kelakuan yang konyol. Mengingatkan saya dengan Srimulat, bahkan guyonannya pun Srimulat banget. Jadul.

Endingnya kurang memuaskan batin saya. Pengennya yang romantis menye-menye dan happy ending gitu. Tapi ternyata, ah sudahlah.