
Soni Farid Maulana dikenal sebagai penyair dengan buku-buku puisinya, maka ketika saya menemukan buku kumpulan cerpennya, jadi penasaran dengan tulisannya jika tidak sedang berpuisi. Tanpa ragu saya beli.
Cerpen pertama dibuka dengan cerita Sangkuriang yang dimodifikasi jadi lebih menarik, bahkan kekinian. Sangkuriang nongkrong di coffee shop dan bertemu Dayang Sumbi. Hmm..
Tidak hanya satu cerita, di buku ini si penulis membuat 3 cerpen alternatif Sangkuriang. Saking beragamnya, saya sampai melipir lagi ke wikipedia untuk membaca Sangkuriang versi aslinya.
Sisanya ada 10 cerpen yang nggak kalah bagusnya. Benang merah dari keseluruhan cerpen adalah cerita tentang kematian.
Hampir semua cerpennya bikin saya geregetan karena menyisahkan tanda-tanya dan membuat saya ingin melempar buku sambil berteriak, “WHYYYY?”.
Cerpen-cerpennya dibikin nggak tuntas dan membuat saya berpikir dengan teka-teki yang disodorkan, padahal ada kesempatan untuk penulis membuat plot twist yang membuat pembaca surprise, tapi ini tidak. Huh. Saya sebagai pembaca merasa dikerjain, dibikin penasaran dan jadi mikir setelah baca.
Seperti dalam cerpen Koak Gagak. Bercerita tentang ibu Kang Ihin yang sakit keras karena terkena santet. Kang Ihin lalu minta bantuan pada Kyai Hanafi, namun ia hanya dinasehati supaya banyak berdoa dan jangan membalas dendam. Singkat cerita, Kang Ihin terkena santet juga dan akhirnya mati. Lho, heyyy. Kan saya kesal bacanya, seperti digantung aja ceritanya. Siapa yang menyantet? Apa motifnya?
Walau begitu, cara berceritanya seru sekali. Kadang diselipkan beberapa sajak yang membuat cerpennya terasa manis.
Bintang 4/5. Bisa dibaca lagi kapan-kapan.






