Atheis

Sebagai generasi muda terkadang saya menganggap generasi tua rada lebay dengan ketakutan mereka pada ideologi komunis yang tidak mengenal agama.

Buku lawas yang dicetak tahun 1949, 4 tahun setelah kemerdekaan Indonesia ini ternyata bagus dan membantu saya memahami situasi jaman orde lama, dimana pada saat itu masih banyak orang yang atheis. Banyak dialog teologis dan politik yang membuat saya mendapat gambaran mengapa banyak paham-paham baru kala itu.

Awalnya judul yang singkat membuat saya berpikir buku ini berat. Ternyata ini buku roman namun nuansanya lumayan gelap.

Cerita dibuka oleh tangisan Kartini yang ditinggal mati oleh Hasan, suaminya. Beberapa bulan sebelum meninggal, Hasan memberikan setumpuk kertas kepada tokoh ‘saya’. Isinya semacam otobiografi tentang kegelisahan dan pemikiran Hasan. Mungkin lebih tepatnya semacam buku harian.

Lalu bergulirlah cerita berdasarkan naskah tersebut.

Ketika Hasan diterima kerja dan tinggal di Bandung dia bertemu dengan Rusli, teman sebayanya saat masih tinggal di Tasik. Saat itu Rusli memperkenalkan Kartini sebagai adiknya. Wajah Kartini yang mengingatkannya pada mantan kekasihnya dulu, seketika membuat ia jatuh cinta.

Rusli teman masa kecilnya ternyata sudah berubah. Ia mengagumi ajaran Karl Marx dan Friedrich Englels. Begitu juga Kartini, fashionable, berani mengutarakan pendapat, berpandangan modern, bahkan suka merokok.

Singkat cerita mereka bertiga akhirnya sering bertemu. Saat nongkrong bareng, Rusli dan Kartini sering bicara dengan mencampur kalimat bahasa Indonesia dan Belanda. Kalau jaman sekarang mungkin semacam bahasa anak Jaksel kali ya.

Novel dengan setting tahun 1941 ini merupakan masa dimana Marxisme dan Komunisme sedang hype dan berkembang di mana-mana untuk melawan Liberalisme yang diusung Amerika dan Eropa.

Tidak hanya mereka berdua, dari lingkungan pergaulan Hasan juga mengenal Anwar, seorang pemuda yang berpikiran kritis, anti feodalisme dan tipe pemberontak.

Hasan seorang pemuda yang tumbuh dalam lingkungan muslim yang taat, bahkan penganut ajaran tarekat, diam-diam bertekad untuk mengislamkan mereka, membawa mereka ke jalan yang lurus.

Memang lingkungan pertemanan itu bisa mempengaruhi pemikiran sih ya. Hasan yang fanatik namun kurang ilmu dan jarang membaca, faktanya lebih banyak diam dan menyimak, tidak mampu beragumentasi melawan pemikiran mereka.

Di setiap halaman saya membaca kegelisahan dan pertarungan ideologi antara theis vs atheis dalam hati Hasan. Bahkan saat shalat pun ia tidak mampu konsentrasi, pikirannya riuh berdebat.

Hasan yang tak punya kemandirian berpikir memadai disertai keimanan tanpa logika dan hanya berdasarkan fanatisme, lama-lama tergerus ketika dihadapkan dengan nilai-nilai yang berdasarkan logika dan pengetahuan. Lambat laun pemikiran Hasan menjadi lebih bebas dan modern yang membuatnya perlahan-lahan meninggalkan shalat.

Buku ini bisa menjadi bahan instropeksi bagi generasi muda yang banyak didogma untuk percaya dan tidak dididik untuk bertanya dan berpikir kritis sejak kecil.

Sejak awal cerita ini dibuka dengan kematian Hasan, namun sepanjang saya baca dibuat penasaran apa yang membuat ia mati dan hal terakhir apa yang dipikirkan Hasan sebelum mati. Endingnya wow banget. Semua akan terkuak, Hasan meninggal sebagai muslim atau atheis.

Tanpa ragu saya kasih bintang 5/5.

One thought on “Atheis

Leave a comment