
Baca ini minjem dari Libby. Tertarik karena ternyata novel ini merupakan pemenang Hadiah Pulitzer, tapi kok ilustrasi sampulnya kayak novel ringan ala chiclit gini ya. Jadi saya penasaran ceritanya gimana.
Buku ini bercerita tentang kegalauan Arthur Less menjelang ulang tahunnya ke 50. Dalam hidupnya yang hampir separuh abad ini, Less mulai merenungkan hidupnya sebagai pria gay dengan rasa cemas.
Kegalauan tersebut berawal ketika ia mendapatkan kabar bahwa Freddy, mantan pacarnya yang brondong akan menikah dan Less diundang ke pesta pernikahan tersebut.
Untuk menghindari hadir pada pernikahan Freddy, ia mencari alasan yang masuk akal untuk tidak datang, Tanpa banyak mikir dia menyambar semua tawaran ke beberapa negara untuk bekerja. Mulai dari menerima serangkaian pertemuan, diskusi panel, penghargaan, sampai menjadi dosen tamu untuk mengajar di beberapa negara.
Namun dalam perjalanan ke Meksiko, Italia, Jerman, Perancis, dan Maroko, pikirannya makin kalut. Less bertanya-tanya apakah dia akan menghabiskan sisa hidupnya sendirian, tidak dicintai dan gagal menjadi manusia.
Tubuhnya kini menunjukkan semua gejala fisik penuaan. Dalam pikirannya, dia adalah lelaki gay pertama yang menghadapi kesulitan proses penuaan, dia hampir tidak mengenal satu pun lelaki gay yang hidup sampai usia ini. kecuali Robert, pacar pertamanya. Kebanyakan dari mereka meninggal karena AIDS.
Selama Less melakukan perjalanan, ia menyelami kedalaman jiwanya, mengingat kembali kenangan percintaan sampai hubungannya jadi memburuk, lalu mencoba mengambil hikmah dan mencari tahu ke mana dia melangkah setelah ini, dan apakah dia bisa survive dengan hidupnya.
Butuh waktu agak lama baca ini, karena ternyata kalimat di buku ini indah dan berbunga-bunga. Jadi kudu meresapi keindahannya dengan khidmat gitu deh. Bagi saya ratapan dan kisah perjalanannya lumayan menarik.