
Sejujurnya cover buku Ny. Talis cetakan tahun 1996 yang terpampang di Goodreads sungguh tidak menarik. Jadul. Lawas. Membosankan.
Beda banget dengan cetakan tahun 2023 yang terlihat keren banget. Seekor burung yang sedang merangkul wajah tirus lelaki berjenggot tipis yang pandangan matanya tertutupi mata burung.

Pembatas bukunya pun keren. Terdapat kalimat yang dicomot dari buku, “Inilah takdir saya. Dari debu, naik ke kekuasaan. Dan dari kekuasaan, kembali ke debu.”
Walaupun buku ini berjudul Ny. Talis, namun isinya didominasi oleh kehidupan Madras, seorang pria lajang yang tinggal di rumah almarhum ibunya dan ditemani oleh Bik Bilik, pembantu yang mengasuhnya sejak kecil.
Ketika Madras menghadiri pesta pernikahan, ia bertemu dengan Ny Talis untuk pertama kalinya. Setiap kali bertemu mereka berpandangan namun masing-masing berkesiap.
Semenjak itulah, bayangan Ny Talis selalu menghantui. Bahkan ketika Madras sedang dekat dengan penyanyi yang sarjana hukum, Santi Wedanti dan pelukis terkenal Wiwin.
Madras mudah sekali jatuh cinta kepada wanita yang ditemuinya apabila terlihat menarik. Semacam Vicky Prasetyo gitulah.
Saya (seperti biasa) kalau baca bukunya Budi Darma selalu dibikin heran, geregetan, sebel, namun tangan saya nggak bisa lepas dari buku ini.
Tokoh-tokohnya dibikin sempurna sehingga jadi terlihat menyebalkan dan egois, sampai ceritanya pun jadi nggak masuk akal dan bikin saya gemes. Jalan hidup tokoh-tokohnya mudah, sampai nggak ada konfliknya.
Belum lagi bertebaran quote-quote maksa. Favorit saya, “Yang ada, itu ada. Yang tidak ada, itu ada.”
Wes pokonya banyak kalimat-kalimat pemaksaan dibuku ini dan saya menyukainya. Bahasanya Budi Darma banget deh.
Setelah selesai baca buku ini dan mau lanjut baca buku lain, pikiran saya masih ke buku ini melulu. Bahkan saya baca-baca lagi sekilas dari halaman pertama. Kok bisa ya nulis buku kayak gini? Heran. Bintang lima deh.


