Cerita diawali dari Resi yang terkejut ketika mendapat undangan pernikahan dari Ranu. Harapan yang ia pupuk bertahun-tahun untuk menjadi pasangan Ranu pun musnah.
Ranu kakak kelasnya saat SMA adalah laki-laki pertama dalam hidupnya yang ia sukai. Berawal dari perkenalan saat duduk sebangku ketika ujian sekolah, mereka jadi saling menyapa ketika berpapasan.
Sayangnya situasi dan kondisi selalu membuat mereka tidak mudah untuk saling menyatakan perasaan.
Awalnya dari judulnya, saya pikir ini drama sepasang kekasih yang sedang mempersiapkan resepsinya, ternyata bukan. Ini ceritanya tentang keresahan Resi menghadapi kenyataan bahwa dengan hadirnya undangan resepsi tersebut, sebentar lagi Ranu bukanlah jodohnya.
Alurnya maju mundur. Setting waktu tahun 95-an membuat saya lumayan relate dengan suasana waktu itu. Beberapa tempat seperti Aquarius, Aksara Kemang, Bakoel Koffie, Cafe Regal dan sederet tempat legend dituliskan dalam novel ini.
Bahkan Ranu sempet ngasih mixtape yang diisi lagu-lagu kesukaan Resi. Semacam pernyataan hati pengganti surat cinta dengan versi yang lebih modern.
Sayangnya saya lelah baca buku ini, sehingga dipertengahan bab, saya putuskan untuk speed reading. Percakapan yang bertele-tele dengan poin yang kurang penting saya skip.
Sepanjang cerita saya geregetan sama Resi yang pasif, tidak tegas dan lemot bikin keputusan. Karakter yang hadeh, ngeselin deh. Jadi kaga heran kalau akhirnya nyesel toh ditinggal Ranu nikah.
Baca ebook ini lewat Libby. Judulnya bikin penasaran, cerita tentang toko musik sepertinya seru, mengingat Dicstarra dan sejenisnya udah punah ditelan jaman.
Bercerita tentang Frank, pria muda 20 tahun pemilik The Music Shop. Setelah kematian ibunya, Peg. Ia menjual mobilnya lalu membeli sebuah toko mungil di gang buntu Unity Street. Frank memulai bisnisnya diawali dengan menjual seluruh vinyl koleksinya yang bejibun, dibantu dengan 2 orang pegawai, Kit dan Maud.
Saat itu tahun 1985, tak jauh dari situ ada toko kaset Woolworth’s. Namun ia tak tertarik menjual kaset, menurutnya tidak ada keindahan dari kaset, baginya vinyl lebih menarik. Bagaimana orang bisa tertarik dengan sepotong plastik mengkilap? CD tidak akan bertahan lama seperti halnya kaset. “I don’t care what anyone tells me. The future’s vinyl,” he said.
Suatu hari seorang wanita jatuh pingsan di depan tokonya. Orang-orang di sekitar mengerumuninya, termasuk Frank. Saat siuman mata wanita dan mata Frank berpandangan. Singkatnya Frank jatuh cinta pada pandangan pertama.
Keesokan harinya wanita tersebut mampir ke toko, ia membawa tanaman kaktus untuk hiasan toko sebagai tanda terima kasih. Basa-basa sejenak dengan Frank, Maud dan Kit, wanita tersebut pun pamit. Ibarat Cinderella yang meninggalkan sepatunya, maka wanita itu meninggalkan tas belanja yang berisi krim.
Kit yang penasaran dengan gadis cantik tersebut memasang beberapa poster barang tertinggal di sekitar Unity Street. Namanya juga toko di gang buntu, pemilik toko-toko mungil di dalam gang kepo, kok sampai segitu amat effort pasang poster barang tertinggal.
Alhamdulillah ya pemirsa, beberapa hari kemudian wanita tersebut membacanya di dekat halte. Ia terharu, padahal isi tasnya tidak terlalu penting kok toko ini peduli pada pelanggan. Saat mengambil barangnya ke toko tak lupa ia memperkenalkan dirinya. Namanya Ilse Brauchmann, orang Jerman yang sedang tinggal di Inggris.
Sebelum pergi, ia iseng melihat vinyl-vinyl di rak display, Frank bertanya jenis musik kesukaan Ilse, barangkali ia bisa merekomendasikan vinyl yang cocok. Ilse menjawab singkat, “Saya nggak dengerin musik.” Heh? Gimana? Gimana? Gadis secantik ini nggak pernah dengerin musik? Kok bisa? Frank yang penggila musik heran setengah mati. Ini mah red flag banget. Ketika akan meninggalkan toko ia berkata bahwa ia buru-buru karena akan menemui tunangannya. Frank agak kecewa saat mendengarnya dan tidak mau berharap banyak.
Saat nongkrong bareng dengan pemilik toko sekitar, Frank cerita ngalor-ngidul tentang keanehan wanita tersebut. Frank penasaran dengan Ilse yang misterius. Ilse yang aneh juga selalu menggunakan sarung tangan dan tak pernah dilepas, Kit sampai penasaran ada apa dibalik sarung tangannya.
Frank lalu bercerita jika beberapa hari yang lalu Ilse datang lagi ke toko. Ilse yang buta akan pengetahuan musik ingin berguru pada Frank, lalu mereka sepakat janjian di sebuah cafe seminggu sekali.
Father Anthony, mantan pendeta, pemilik kios rohani tertawa, “She likes you.” “Who likes me?” “Ilse Brauchmann.”
Frank tak percaya, “In case you didn’t hear, she has a fiance. She’s getting married. I don’t know why you all keep going on about her.”
Father Anthony meledek, “You’re an attractive man and it pains me, the way you in sist on being alone.” “It’s easier.” “CDs are easier. You don’t want those.”
Nah lho. Kena deh.
Begitulah setiap minggu mereka bertemu lalu ngobrolin musik. Sudah lebih dari tiga bulan sejak Ilse Brauchmann pingsan di luar toko musik. Frank tidak bertanya mengapa hal itu terjadi, dia tidak bertanya di mana dia tinggal atau di mana dia bekerja. Dia tidak bertanya di mana tunangannya berada, apa pekerjaannya, atau bahkan kapan mereka berencana menikah. Dia tahu sudah tentang tangannya yang selalu menggunakan sarung tangan, dan baginya itu sudah cukup. Selain itu, dia mencintainya. Dia akan selalu mencintainya.
Di sela-sela itu, Frank sedang mengambil pinjaman bank untuk membesarkan tokonya dengan menambah stok vinyl. Saat pesanan vinyl berdatangan, Frank bersama Kit dan Maud membongkarnya. Kit lalu memperlihatkan vinyl Four Season, sebuah album oskestra dengan sampul wajah para pemain musik. “Frank, ini Ilse bukan sih?” Frank lalu mengecek vinyl tersebut dan membaca nama Ilse Brauchmann sebagai pemain violin.
Sialan, ia merasa tertipu. Ternyata gadis cantik itu tidak buta musik. Lalu mengapa ia rela membayar mahal untuk kursus kepada Frank?
Seru banget ceritanya. Ternyata Ilse punya rahasia, yang makin lama makin terbuka satu-persatu. Cerita berakhir di tahun 2009, saat udah jaman media sosial dan toko CD satu persatu mulai tutup.
Selain ceritanya yang hangat dan menyenangkan, bertaburan juga lagu-lagu yang disebutkan di buku ini.
Oh No Not My Baby – Aretha Franklin
Concerto for Two Violins in D Minor – Johann Sebastian Bach
Starman – David Bowie
Raindrop – Frederic Chopin
A Night To Remember – Shalamar
Satin Doll – Duke Ellington
God Save The Queen – Sex Pistols
Kind of Blue (album) – Miles Davis
Stairway to Heaven – Led Zeppelin
Into The Mystic – Van Morrison
Ain’t It Funky Now – James Brown
Monnlight Sonata – Beethoven
Wild Thing – The Troggs
Caroline, No – the Beach Boys
Strange Fruit – Billie Holiday
Hallelujah – George Frideric Handel
Time Has Told Me – Nick Drake
A Day In My Life – The Beatles
Bintang 4/5 untuk ceritanya. Bintang 5/5 untuk playlistnya.
Kisah lucu ini dimulai ketika Finlay, seorang penulis novel detektif dan agen sastranya, Sylvia, makan siang bersama sambil berdiskusi plot tentang pembunuhan. Seusai makan siang ia merogoh tasnya dan menemukan secarik kertas bertuliskan :
$ 50.000 CASH. HARRIS MICKLER. 49 NORTH LIVINGSTON ST. ARLINGTON
Finlay lalu menelpon nomor yang tertera dikertas. Rupanya Patricia, wanita yang duduk di restoran tersebut menguping pembicaraan mereka berdua dan mengira bahwa Finlay adalah pembunuh bayaran. Patricia sudah muak dengan suaminya dan ingin membunuhnya. Woh woh woh, tentu saja buru-buru Finlay meralatnya dan menjelaskan bahwa ini salah paham, namun Patricia memotong pembicaraannya, menyuruhnya untuk menghubunginya ketika tugas sudah dilaksanakan. Setelah itu telpon pun diputus.
Finlay, seorang single mom dengan dua anak kini bokek berat setelah diceraikan suaminya, Steven. Sebagai penulis, novelnya tak kunjung rampung, sampai mantan suaminya kesal karena terus menerus menyokong kebutuhan hidupnya. Steven bahkan menyuruhnya mencari pekerjaan yang stabil, jika terus menerus menggantungkan finansial padanya, ia mengancam akan mengambil hak asuh anaknya.
Finlay yang bokek tentu saja tergiur dengan janji $50.000. Tapi toh ia bukan pembunuh, jadi cukup mengabaikan tawaran tersebut. Namun jiwa keponya meronta-ronta, ia mulai ngubek-ngubek internet untuk mencari tahu siapa Haris Mickler. Saat tahu jadwal pertemuan Haris dari media sosial, ia pun meluncur ke sebuah klub untuk melihat sosok Haris sebenarnya.
Dengan wig dan dress hitam yang dicomot diam-diam dari lemari pacar mantan suaminya, di klub tersebut Finlay mengaku sebagai Theresa, seorang agen real estate. Identitas palsu tersebut dipakai untuk mengobrol dengan orang-orang di klub, termasuk Haris.
Singkat cerita dalam kondisi mabuk, Haris merayunya sampai ke tempat parkir, lalu ia ambruk pingsan. Finlay lalu membopongnya ke mobilnya dan membawanya rumah. Sialnya sampai dirumah, Haris ternyata tewas. Dengan panik, ia segera menelpon Patricia dan mengabarkan bahwa Haris tewas.
Patricia happy, tidak percuma ia menggunakan pembunuh bayaran. Finlay lalu disuruh menyingkirkan mayatnya, ia tak sudi melihat mayat suaminya dibawa kerumahnya. Dalam kebingungan, Vero, baby sitternya membantunya menyingkirkan mayat tersebut dengan menguburkan di lahan pertanian milik Steven.
Setelah urusan mengubur mayat beres, Finlay pun mendapat imbalan. Saat Patricia memberikan uangnya, ia berkata bahwa temannya, Irina Borovkov sedang bermasalah dengan suaminya. Lalu Patricia merekomendasikan Finlay padanya sebagai pembunuh bayaran terbaik dan tercepat. Secarik kertas terlipat disodorkannya ke Finlay, $75.000,- Saat Finlay mulai menjelaskan, Patricia sudah menghilang dari kursinya.
Novel ini lucu banget. Dark comedy gitulah. Sepanjang baca saya beberapa kali nyengir, temponya lumayan cepet, penuh ketegangan dan adegan-adegan yang bikin frustasi yang dibalut dengan kelucuan, jadi nggak bosen bacanya.
Endingnya asik. Surprise banget, nggak nyangka bakal begitu. Bintang 4 deh.
Baca ini versi ebook dari Libby. Seperti biasa pemikiran saya dangkal banget, milih buku hanya karena covernya yang cakep. Buku ini tentang persahabatan dan makna hidup.
Cerita diawali dengan berkumpulnya lima sekawan, Jordan, Jordy, Craig, Naomi dan Marielle. Saat itu tahun 1995, mereka masih berusia 22 tahun dan baru saja lulus dari Berkeley. Mereka baru saja dari pulang dari pemakaman dan masih berkabung dengan kematian sahabatnya, Alec.
Di villa milik orang tua Naomi, mereka menginap sambil cerita ngalor ngidul tentang kematian mendadak Alec yang mengejutkan. Alec masih terlalu muda, sama dengan mereka yang baru selesai kuliah. Naomi nyeletuk, “Life is short, yes. But it also can be very long. We need to prepare for that.” Semua pun mengangguk.
Jika tiap tahun orang-orang merayakan kehidupan (dengan ulang tahun), maka 5 sekawan bikin program merayakan kematian dengan sahabatnya. Jadi ketika salah satu dari mereka sedang depresi dan hidupnya di puncak keribetan, lalu rasanya ingin mati, mereka sepakat berkumpul dan bikin upacara pemakaman. Setelah itu akan tutup buku. Reborn, ‘lahir’ kembali menjadi versi manusia yang lebih baik
Setelah sepakat dengan perjanjian itu mereka berpisah, tinggal di kota-kota yang berbeda untuk melanjutkan hidup masing-masing.
Marielle-lah yang pertama melakukannya tahun 2013, ketika mereka sudah berumur 40 tahun. Saat depresi dengan pernikahan yang gagal dan karir yang mandeg, hidupnya merasa tidak berarti. Maka ia menghubungi Naomi, Creg, Jordan dan Jordy untuk berkumpul di villa keluarga Naomi.
Setelah itu satu persatu mengadakan acara pemakamannya. Sampai akhirnya tiba giliran Jordan menghubungi teman-temannya ditahun 2023, saat mereka berusia 50 tahun. Tidak seperti Marielle setelah perceraiannya, atau Naomi setelah pesawat pribadi orang tuanya jatuh, atau Craig ketika dia terlibat kasus penipuan barang seni. Pemakamannya berbeda dengan teman-temannya.
Jordan kini sekarat dengan kanker prostat yang menggerogotinya beberapa tahun lalu dan sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Perayaan pemakamannya bukan untuk kembali hidup yang lebih baik, namun benar-benar mati, meninggalkan dunia untuk selamanya.
“To think about life is to contemplate death — it’s what makes living so valuable. Our time here is limited, gone in the blink of an eye.”
Suka banget sama cara nulisnya. Banyak celetukan lucu bertebaran di buku ini yang bikin buku ini jadi renyah dan bacanya jadi nggak sedih-sedih amat. Saya juga terkesima dengan persahabatan yang awet sampai puluhan tahun.