
Saya memutuskan beli buku ini karena tergelitik dengan judulnya. Baru judulnya doang aja udah sukses bikin termenung, gimana isinya ya? Bungkus!
Kim Sang-hyun, penulis buku ini memikirkan banyak hal tentang kematian seusai menonton film animasi Coco, yang menceritakan kematian.
Apa yang harus dilakukan ketika kematian itu datang? Bagaimana pemakamannya nanti dijalankan? Apa ada orang yang mengingatnya saat dia sudah mati?
Iya ya, jika suatu hari nanti saya mati, saya akan dikenang seperti apa ya? Lalu kira-kira berapa orang yang datang ke pemakaman saya? Hmm..
Jarang sekali orang merenung tentang kematian. Padahal menurut Kim Sang-hyun, terkadang perlu juga supaya kita bisa menemukan apa yang penting dan bermakna saat kita masih hidup.
Buku ini mengajak kita berani untuk mencoba benar-benar hidup. Supaya suatu hari saat mati udah puas ngelakoni urip.
Dia bercerita bahwa setiap pagi dia bertanya pada diri sendiri, apa alasan untuk hidup hari itu? Mau ngapain? Pengen apa? Dan sebagainya.
Mumpung belum mati, dia berupaya untuk melakukan apapun yang ada dalam pikiran. Melakukan sesuatu yang bikin happy hari ini. Bukan mikir esok atau lusa. Cukup hari ini doang.
Kehidupan sering kali tidak sejalan dengan apa yang dia pikirkan, juga tidak sesuai dengan rencana yang sudah dia persiapkan. Karena itulah kadang dia cemas dan kurang bisa menikmatinya.
Kemalangan atau kegagalan hanya akan menjadi salah satu halaman buku kehidupan yang sedang kita tulis. Jadi tidak perlu malu atau kesal, katanya sambil menghibur diri sendiri. Pada akhirnya cobaan punya masa kadaluwarsa, kemudian berlalu, yang akhirnya kalau dipikir-pikir semua akan jadi kenangan indah.
Jika dia melakukan apa yang dia sukai, suatu hari nanti orang akan menghargai. Kalau sudah begitu, keberadaannya akan mereka ingat.
Cukup lakukan banyak hal dengan penuh cinta dan jangan pernah menyerah pada impian sampai napas terakhir.
Lambat laun kita akan menemukan bahwa tidak ada jawaban pasti, mengapa kita hidup. Tapi anggap saja keputusan atas pilihan-pilihan hidup adalah jawabannya. Begitulah cara menjalani hidup ala Kim Sang-hyun.
Sebagai penutup, pada akhirnya kita semua hanyalah manusia biasa. Di ujung akhir kehidupan, detik-detik mau mati, pastikan diri kita bahagia sebelum akhirnya mati.
***
Yang saya punya cetakan ke sembilan tahun 2022, padahal cetakan pertamanya baru dua tahun yang lalu lho, di tahun 2020. Keren. Buku bagus, nggak heran kalau laris manis.
Terjemahannya juga enak, mengalir saat membaca sampai nggak terasa kalau ini buku terjemahan.
Tipikal buku yang enak untuk dibaca berulang-ulang saat mulai jenuh dengan hidup dan butuh suntikan energi untuk merayakan hidup.
Kalau kamu pendengar curhatan temen yang baik, kamu pasti suka baca buku ini. Kalau kamu bukan tipikal teman yang betah dan nggak sabaran dibombardir curhatan teman tentang kehidupan, jangan buang waktumu untuk baca ini.