Jujur aja, menurut saya judul buku ini nggak menjual, masih mendingan “Singkong dan Keju”atau “Madu dan Racun”. Lalu ngapain saya beli? Karena tertarik dengan embel-embel di bagian bawah buku “Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014.”

Yang saya dapatkan cetakan pertama edisi ketiga di tahun 2023. Desain covernya didominasi warna hitam, dengan ilustrasi pria wanita muka rata alias nggak ada mata, hidung dan bibir. Mereka duduk di jantung hati yang besar dan mbulet seperti benang ruwet. Dengan cover yang dark begini saya langsung suudzon, curiga, novel ini pasti gelap, seperti pemenang sayembara pada umumnya.
Ternyata prediksi saya salah. Novel ini merupakan gambaran situasi sosial masyarakat Indonesia yang diceritakan secara menggelitik. Lucu, polos, mengharukan. Singkatnya ini cerita Romeo dan Juliet syariah.
Setelah perkenalan Miftah dengan Fauzi di dalam bis menuju Surabaya dan saling bertukar email. Mereka yang ternyata satu desa di Tuban, lambat laun menjadi dekat dan akhirnya memutuskan untuk lanjut ke jenjang pernikahan.
Ternyata tidak semudah itu, pemirsa. Walaupun mereka seiman, ternyata yang satu NU dan satunya Muhammadiyah. Memang kedua orang tua mereka tidak serta merta menolak, tapi dengan perbedaan paham agama ada kekhawatiran dalam benak orang tua.
Cerita memang diawali tentang kisah asmara, namun makin lama semakin ruwet karena tidak hanya menyangkut keluarga, tapi juga lingkungan setempat. Namanya juga tinggal di indonesia ya, yang bikin ribet pernikahan adalah tatanan sosialnya.
Saya pun dibawa ke tahun 60-an ketika kedua ayah Fauzi dan Miftah masih remaja. Bergulirlah cerita sejarah desa tempat tinggal mereka yang pecah menjadi dua paham agama.
Banyak pesan sejarah tipis-tipis. Lewat novel ini saya juga jadi merasakan gambaran situasi genting saat pemberontakan PKI di lapisan masyarakat desa.
Sungguh tema yang berani. Bahasannya sungguh sensitif. Dalam kehidupan sehari-hari, saya aja sebisa mungkin menghindari debat kusir dengan orang yang berbeda paham agama dengan saya. Nah, ini dijadikan tema, diramu menjadi dasar konflik dengan dijabarin sedetail-detailnya.
Saya juga terkesan sama teknik penulisnya. Udah alurnya maju mundur dari situasi tahun 60-an bolak-balik dengan jaman saat ini, ditambah lagi sudut pandang tiap tokoh yang berganti-ganti. Asyiknya novel ini nggak bikin bingung, mengalir aja bacanya dan nggak bikin mikir.
Belum lagi permainan kalimatnya. Untuk tahun 60-an, kalimatnya dibikin jadul banget dan diketik dengan menggunakan ejaan lama. “Ta’ lagi menggembala dan hanja menjibo’kan diri dengan pekerdjaan-pekerdjaan di ladang, djadi djongos upahan orang, aku djadi sangat merindukanmu, Sochabatku!”
Oh ya, ada celetukan lama yang saya udah lama nggak pernah denger. “Olobis kuntul baris …!!! Tarik …!!!”
Sampai deket-deket 1/3 halaman akhir, saya bener-bener belum bisa meraba endingnya seperti apa. Sulit sekali untuk diterka, endingnya berakhir dengan manis atau tragis.
Buku ini memang layak diberikan penghargaan sebagai Pemenang I Sayembara Novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Bintang 5/5 untuk buku ini.
Novel ini menunjukkan betapa menyedihkan akibat rasa tidak saling mengormati, saling mengolok dan saling mengolok. Yang jika tidak ada yang mau mengalah anak cucu hingga seterusnya bisa terkena imbasnya.
Oh ya, satu lagi. Akhirnya saya dapet jawaban kenapa judulnya Kambing dan Hujan. “… bagi sebagian besar dari kami, seperti kambing dan hujan, sesuatu yang hampir mustahil dipertemukan.”







