
Akhirnya lulus uji nyali baca novel thriller. Saya memutuskan beli karena suka desain covernya yang cakep. Sedangkal itu emang kalau saya beli buku.
Isinya ternyata 11-12 sama covernya. Cakep juga. Terus terang saya cukup surprise ada novel dengan format seperti ini. Singkat, jelas, padat. Pas banget buat saya yang lagi males baca buku njelimet.
Dari awal cerita, tanpa babibu langsung ke pokok inti masalah. Seorang penulis lepas ditunjukkan denah rumah bekas yang akan dibeli oleh temannya.

Gambar denah pun terlampir, saya sebagai pembaca seperti diajak untuk turut serta menganalisa. Sekilas denah tersebut nampak biasa, tapi setelah diamati timbul keanehan dengan desainnya.
Setelah diskusi, temannya merasa tidak sreg dan memutuskan batal membeli rumah tersebut. Penulis yang masih penasaran mengapa desainnya aneh, menunjukkan denah tersebut kepada Kurihara, temannya yang seorang arsitek.
Dasar bapak-bapak, berdua mereka ngadi-ngadi. Mengkhayal. Gimana kalau rumah tersebut didesain khusus untuk pembunuhan dan untuk menghilangkan jejak korban?
Hasil khayalan itu dituangkan penulis dalam sebuah artikel, sampai seminggu kemudian seorang wanita mengirimkan email dan mengajaknya bertemu.
Dengan berjalannya waktu, terkuaklah satu persatu tradisi mengerikan yang sudah dijalani turun temurun dari generasi ke generasi.
Seru banget. To the point, bahkan dialognya pun seperti naskah drama. Tidak ada tokoh yang tidak penting di buku ini. Semua penting.
Alurnya urut dengan twist yang dikit-dikit dikeluarin, yang bikin saya ngerasa gemes dan nanggung kalo berhenti baca.
Bintang 5 untuk buku ini. Pengarangnya cerdas. Dengan modal sebuah denah udah bisa jadi novel. Kok bisa dapet ide begini?
Udah gitu efektif banget dan nggak buang waktu baca hal-hal yang nggak penting. Tiap kalimat yang dibuku ini semua penting. Nggak ada basa-basi yang dipanjang-panjangin.
Sayangnya di bab akhir, tiba-tiba meluber semua rahasia, saya merasa kebanjiran info, sampai bingung sama nama tokoh-tokoh yang bermunculan. Mungkin akan lebih nikmat bacanya kalau dikeluarin dikit-dikit seperti bab sebelumnya, biar ada waktu untuk tarik napas dan mengingat nama tokohnya satu persatu.
Seperti yang saya duga, endingnya membuat saya pengen misuh. Kenapa? Karena membuat saya jadi berpikir, waduh, gimana kalau gini atau gitu.
