Buku pertama Kuntowijoyo yang saya baca. 30 orang Indonesia datang ke New York dengan cita-cita dan latar belakang yang berbeda. Masing-masing tertarik dengan Amerika karena punya impian Amerika. Istilah ngetopnya the American dream atau the American myth.
Yang saya dapatkan merupakan cetakan pertama dari penerbit Mata Angin tahun 2017. Sampulnya didesain sederhana dan apik oleh Buldanul Khuri dengan sentuhan fotografi karya Fendi Siregar.

Dengan latar belakang panci dan tudung saji, seorang ibu berwajah Indonesia menimang anaknya. Sorot matanya yang melirik ke arah pintu seakan mengatakan ia ingin keluar dari ruangannya, menuju ke pintu kebebasan yang disimbolkan dengan coretan gambar patung Liberty.
Jelaslah foto sampul tersebut merupakan petunjuk bahwa buku ini bercerita tentang warga Indonesia dan impiannya tentang Amerika.
Kesan saya saat membaca buku ini rasanya seperti lagi baca diary Kuntowijoyo sewaktu mengikuti program doktoral di Universitas Columbia, Amerika Serikat, di ujung 1970-an sampai 1980.
Isinya seperti lagi curhat dengan bumbu-bumbu gosip. Ya karena ngomongin orang, 30 orang pula, kurang gibah apa coba? Yang digosipin tentunya seputar pekerjaan, keluarga, dan gegar budaya. Si penulis dengan asyik cerita tentang perubahan karakter orang-orang itu.
1. Orang Madura. Ada dua keinginan duniawi Soleman. Menjadikan apartemen tempat ia tinggal sebagai koloni orang-orang Indonesia dan keinginan untuk dikuburkan di Madura.
2. Melanggar Itu Sekali Saja. Mushofa dari Cirebon, orang Sunda tulen. Liza, keturunan Yahudi, beragama Lutheran, tapi tak pernah ke gereja. “Maaf, saya tidak boleh menikahi kamu, kecuali kau masuk Islam.”
3. Indonesia di Atas Segala Bangsa. Pada suatu malam Sukiman minta dibukakan pintu. “Katolik tidak keberatan, Protestan boleh. Hindu tidak keberatan, Budha boleh, Konghucu tidak keberatan, Islam boleh, tapi jangan voodoo. Upacara mereka itu pakai ayam yang disembelih. Darahnya diciprat-cipratkan. Saya tidak tahan. Saya mau tidur di sini.” Singkatnya, istrinya ikut upacara voodoo.
4. Orang Yang Berhasil. Ibu-ibu di konsulat ingin mengambilnya sebagai menantu, tapi ketika mereka tahu bahwa Lukito sudah punya calon di Indonesia mereka mundur teratur.
5. Satria Kabur Kangingan Alias Kesatria Pengembara. Tengku Syakir sudah bulat : ia tidak akan kawin dengan perawan. “Kawin saja kok pakai prinsip. Kalau demikian kapan kawinnya. Coba, kurangnya apa calon itu.” Kata saya. “Kurangnya, dia perawan. Itu namanya konsisten.”
6. Bos. Beberapa waktu kemudian Akbar membuat kejutan. Dia menelpon dari Kantor! Indonesian Marketing Agency telah dibuka, meskipun baru bagian promosi. Saya dimintanya datang ke kantor. Alamat kantornya lebih mengejutkan : ia menyebut tempat paling elite di Manhattan.
7. Anak Angkat Pak Aminullah. Tidak lama Ayu di Indonesia. Barangkali ia ketemu orang yang salah, katanya, “Pemuda di Indonesia itu lucu. Batu ketemu sudah mau nyium. Malah ngajak tidur segala. Hih, ngeri deh! Mending di sini. Ada jaminan hukum buat perempuan. Di Indonesia pemerkosa dihukum ringan, di sini suami pun bisa dijatuhi hukuman karena memperkosa istri.”
8. Anak Mami. Kedatangan ibu Sanip membawa misi tunggal : mengawinkan Sanip. Ibu itu bertekad akan tinggal di New York untuk mencarikan jodoh anaknya. “Begitu banyak gadis. Kok Sanip bilang tidak ada.” katanya sepulang dari pertemuan di konsulat. Tentu saja ibu Sanip tidak tahu bahwa anaknya jatuh cinta pada Nina Nurnia —sekalipun belum bilang ‘i love you’, anak Pak Zaid yang sudah puluhan tahun di Amerika.
9. Feminisme. Mulyadi menyewa detektif swasta untuk mencari istrinya. Orang heran, kok sampai hati seorang ibu meninggalkan anak-anaknya. Suatu hari istri Mulyadi menelpon istri saya, ketika ditanyakan nomor teleponnya dia tidak memberi tahu, kecuali mengatakan ia berada di tempat di mana perempuan jadi dipertuan, bukan jadi budak di rumahnya sendiri. Kami dapat menduga ia sudah bergabung dengan gerakan feminis.
10. Taksi. Tabungan Purnomo sudah mencapai 60.000 dolar. Uang itu dibelikannya taksi dan sekaligus izin usaha. Maka ia berhak menyebut dirinya sebagai pengusaha. Akan ia buktikan apakah masih berlaku the Amerikan Dream.
11. Perempuan. Saya membaca sebuah iklan, “Tuan ingin kehangatan perempuan Timur?” Hubungi, lalu disebutkan nama dan nomornya. Namanya : Tina Larasati. Nomornya? Saya mengusap mata, tidak salah lagi: itu nomor Linda. Saya minta tabloid itu. Ini berita besar untuk Suparta. Linda benar-benar melaksanakan ancamannya.
12. Master Suyadi dan Keluarganya. Adiknya yang sudah duduk di kelas tiga High School itu mulai pacaran, Suyadi menelpon menanyakan pada umur berapa anak Amerika mulai pacaran. Untuk melegakan dia, saya jawab saja bahwa anak mulai pacaran ringan pada umur 15 dan setelah keluar High School susah cari orang yang masih murni.
13. Pengalaman adalah Guru yang Sontoloyo. Yang kami sesalkan ialah dia telah menghubungi agen, padahal cukup banyak teman yang bisa menolong secara cuma-cuma. Qomaridduniya harus membayar agen dengan gajinya minggu pertama, itu berarti pemborosan. Dan belum tentu pekerjaan itu cocok.
14. From New York With Love. Tony jatuh cinta pada gadis yang tak sepadan. “Orang tuanya materialistis,” kata Tony. Maka larilah Tony ke New York, kuliah dan menyelesaikan BA-nya. Dia selalu mengirim surat, tapi yang membalas selalu orangtua gadis itu. Sampai suatu hari, surat balasan itu disertai undangan perkawinan.
15. Aku Cinta Indonesia. Bagi kami tempat tinggal Pak Tio di Long Island bukan rumah, tapi istana! Rumah itu rumah joglo, dengan gapura dan satpam. Ada seperangkat gamelan, yang pasti tak pernah dibunyikan. Ketika kami duduk, kami heran ternyata beringin bisa tumbuh di Amerika. Ada burung derkuku, perkutut, bekisar, gelatik dan kutilang.
16. Awas, Ada Laki-Laki! Dina sedang antre di bank, ketika tiba-tiba seorang laki-laki hitam antre di belakangnya. Dina ketakutan, tidak jadi mengambil uang, dan pulang. Sayalah yang bertugas mengawalnya, bila ia pergi ke bank. Saya juga dipercaya mengambilkan uang lewat mesin.
17. Balada Murniati dan George. George keluar dari pekerjaan untuk membuka warung sate. Begitu juga Murniati. Murniati punya inisiatif untuk membuat selebaran di masjid-masjid, penjualan daging halal, kedutaan dan pengajian KJRI. Maka restorannya dianggap berjasa memperkenalkan culinary culture Indonesia di luar negeri.
18. Dijual : Indonesia. Setiap orang Indonesia di New York tahu bahwa ia aktif dalam gerakan anti-Indonesia. Namun saat mengontak saya yang dibicarakan bukan politik atau ideologi. Ia memberi PR saya untuk mengusahakan hak atas sepetak tanah di Indonesia sebagai “rumah masa depan” alias kuburan.
19. Pemberontak sejati. Terhitung sejak pramugari pesawat yang ia tumpangi mengumumkan bahwa penerbangan telah melintasi garis waktu, ia memberontak dengan masa lalunya. Sejak itu dia tidak sembayang, tidak tahu menahu dengan adat, memutuskan diri secara sepihak dengan pacar. Yang menjadikan kawan-kawannya berang adalah ia juga menanggalkan statusnya sebagai pegawai negeri.
20. Halalan, Thayiban, Mubarakan. Rupanya Harry fanatik dengan model perkawinan jaman dulu. Katanya cara itu lebih romantis daripada cara baru yang masing-masing pasangan sudah kenal lama. Bayangkan, tiba-tiba ada orang asing di kamar tidur. Oleh kawan-kawannya ia dijuluki “laki-laki zaman Siti Nurbaya.” Namun, ia sangat bangga dengan julukan itu.
21. Pengajian, Pengajian! Syamsuddin pulang ke Indonesia dan pengajian kehilangan ustadz. Dalam keadaan seperti itu tibalah serombongan anak muda Malaysia. Anak-anak itu minta kesempatan bicara secara bergilir. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam ceramah itu. Mereka pakai istilah “kalau” tapi kedengarannya seperti “karena”. Kami semua merasa menjadi terdakwa dan merasa lega setelah “pengadilan” itu selesai. Kini pengajian makin sepi.
22. Tentang Sembahyang yang Cespleng. “Maukah kau saya ajari sembahyang? Tidak lima kali, tapi cukup sekali saja. Pasti sampai.”
23. Hamil. Ayah Aty datang dari Jakarta, membujuk Aty pulang saja. Setelah melahirkan Aty bisa kembali ke New York melanjutkan sekolah. Tapi Aty hanya menggeleng pada tawaran penyelesaian terhormat itu.
24. Internasionalisasi. Orangtua Rudy membiayai sekolahnya dan penghasilannya sebagai penjaga bar dapat digunakan untuk mengongkosi program “internasionalisasi” atau kata kawan-kawan Indonesia, “demam New York.”
25. Fundamentalisme ala Indonesia. Istri saya mempersoalkan kepergian Andi ke Bangladesh untuk belajar agama. Dia punya pengalaman dalam suatu pertemuan yang dihadiri guru-guru wanita dari Bangladesh, tidak seorang pun bisa mengaji. Istri saya baru puas ketika Andi berjanji akan mengikut sertakan perempuan dalam dakwahnya. “Tidak ada orang Makasar yang ingkar janji. Hidup fundamentalisme ala Indonesia.”
26. Hamidah. Kali ini ia yakin bahwa suaminya benar-benar ateis. “Kau boleh jadi politisi, bersimpati pada buruh, menjadi Marxis atau apa saja, asal jangan jadi ateis.” Hamidah merasa hidupnya masih panjang dan ini waktunya harus pergi.
27. Orang Pertama. Bu Nelly mengatakan bahwa anaknya suka tidur di lantai yang terbentang permadani, memakai minyak wangi tak beralkohol, makan kurma, sarapan roti bundar dan madu, siwak setelah sikat gigi, membaca buku agama, mengaji, mengenakan jubah. “Kami takut dia rajin sembayang.”
28. New York – Jakarta PP. Adalah aib besar di lingkungan ABRI untuk tidak setuju dengan atasan. Pagi harinya Pak Tafsir didatangi seorang utusan mengatakan ia harus memilih jadi dubes, kepala BUMN atau cuti. Pak Tafsir segera menangkap maksudnya, pokoknya dia harus di luar negeri.
29. Anak Pejabat. Ada satu tanda Kusno anak orang gedongan adalah perutnya tidak mau menerima nasi. Jadi umumnya dia makan kentang atau gandum.
30. Hak Yang Meninggal. Pak Achadi pulang ke Yogya setelah hampir 20 tahun di New York. “Cita-cita saya sudah kesampaian. Saya bangun pesantren. Biar ada gunanya hidup ini. Biar ada bekasnya. Saya tidak ada ilmu untuk diajarkan, tidak ada anak yang akan mendoakan. Satu-satunya kemungkinan ialah shadaqah jariyah.”
***
Banyak novel tentang kehidupan Amerika tapi seringkali ceritanya terlalu dongeng dan indah-indah. Buku inilah yang paling jelas menunjukkan wajah kehidupan yang sebenarnya.
Ada beberapa bagian, yang kurang sesuai dengan kondisi dan situasi (politik) sekarang. Namanya juga cerita jaman orde baru yang ya begitulah. Jadi kadang kesannya gosipnya udah basi.
Pesan buku ini menurut saya, seabsurd apapun impian kita saat tinggal di Amerika, kita tetap orang Indonesia.
















