Jajanan Kaum Vrindavan

Entah kapan ini bermula, tahu-tahu fyp Tiktok saya menampilkan jajanan kaki lima India. Menurut teori algoritma, kemunculan ini terjadi terus menerus karena saya menonton videonya sampai selesai dan tidak pernah saya skip.

Baiklah, saya akui kalo jajanan India itu saya tonton bukan sebagai inspirasi memasak. Tapi saya terpikat dengan teknik masaknya yang unik.

Hampir semua penjual kaki lima yang saya tonton di video terlihat asyik meramu bahan dengan tangannya sambil diobok-obok. Kadang-kadang tangannya sampe separuh lengan masuk di dalam kuali berkuah. Warrr biyasa!

Sebagai seorang yang menjaga kebersihan dalam memasak, dikit-dikit ngelap meja dan cuci tangan, saya takjub dan tidak berkedip ngelihatnya, sangat brutal dan asyik. Karena terus terang, saya nggak bakal sanggup untuk meniru tekniknya.

Coba bayangkan. Si penjual memotong-motong semacam spongecake gitu menjadi kotak-kotak berukuran 5 x 5 cm, lalu dicelupkan kesebuah larutan gula disebuah kuali.

Tentu saja pake jarinya dong, bukan capit. Setelah beberapa detik tenggelam, potongan kue tersebut diangkat lalu diperas dengan tangannya. Kayak meres spon cuci piring gitu. Wow! Mantap!

Setelah itu diberi toping macem-macem. Tentu saja dengan jari-jarinya dong, karena tidak terlihat ada sendok di situ. Bahkan anak-anak Tiktok berkelakar, “Mungkin sendok barang langka di India.” dan masih banyak lagi komentar lucu-lucu tentang keheranannya, yang membuat saya ngakak saat membacanya. Oh, saya sungguh terhibur.

Entah kenapa video kaki lima India menghibur banget gitu, dengan suara klakson bersautan dan jalanan yang semrawut, suasananya terlihat seru dan tidak membosankan.

Saat di kantor lagi sumpek dan lihat video-video tersebut, tangan saya sering reflek membagikan link video Tiktok ke grup-grup whatsapp yang ada di ponsel saya.

Reaksi pun beragam. Saking seringnya saya membagikan link video tersebut, anggota grup berkomentar saya nggilani, jorok dan sebagainya. Bahkan saya pernah diancam bakal dikeluarin dari grup.

“Lho, bukannya aku ga ngeshare hoaks politik atau penghinaan agama?” Protes saya.

“Ya tapi link yang elu kasih lebih parah dari dua hal itu.” Dan yang lain mengiyakan.

“Buset!” Ih, kesel deh, ternyata mental mereka kacangan. Level mereka belum sanggup lihat realita hidup. Huh.

Suatu hari nanti, kalo saya punya kesempatan melanglang buana ke India, kira-kira bakal jajan kaki lima nggak ya? Saya merenung agak lama sembari pup.

Iya dong! Saya akan buktikan kalo saya.. saya.. eeng.. pemberani.

Mimpi

Begitu syulit lupakan Rayhan, apalagi dia baik.”

Lagu yang sukses membuat saya terngiang-ngiang dan buru-buru scroll untuk melewatkan video-video dengan sound tersebut di FYP Tiktok. Mohon maaf, ganggu banget.

Dari potongan video yang bersliweran di Tiktok, saya mendapat sedikit info bahwa si cewek yang nyanyi itu (duh, saya lupa namanya, tapi males googling untuk mencari tahu) bercerita bahwa Rayhan adalah sosok pria yang sering hadir dalam mimpinya.

Hah?!

Jadi katanya saking seringnya mereka bertemu, mereka udah jadian di dalam mimpi. Katanya lagi, Rahyan juga cakep, sesuai kriterianya banget.

Hah?! Arek iki gak popo ta?

Lalu saya tiba-tiba teringat salah satu kisah di buku kumpulan cerpennya Eka Kurniawan, yang berjudul “Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.”

Bercerita tentang Maya yang patah hati setelah ditinggal kekasihnya, tepat pada malam sebelum mereka menikah.

Maya bahkan sempat mengiris pegelangan tangannya dengan pisau dapur. Sejak itu ia berada dalam pengawasan keluarga, Maya bahkan rutin minum obat dan mengambil cuti dari pekerjaannya.

Pada waktu-waktu itulah, mimpi tersebut mulai datang. Mimpi bahwa ia akan memperoleh kekasih.

Dalam mimpi-mimpinya, si kekasih tinggal di Pangandaran. Setiap sore, kekasihnya sering berlari di sepanjang pantai ditemani seekor anjing kampung.

Meskipun tidak selalu datang tiap malam, mimpi itu terus muncul. Selalu sama, bahkan makin hari makin jelas.

Ia mulai merasa, mimpi itu sejenis pesan. Ia tak tahu siapa namanya, tapi pesan mimpi itu jelas, ia harus kabur dari rumah, ke Pangandaran dan menemui lelaki itu.

Hari pertama ia ke pantai dan menunggu, tapi lelaki itu tidak juga muncul. Begitu juga dengan hari kedua dan seterusnya,

Maya merasa kunjungannya sia-sia. Mimpi itu hanyalah mimpi biasa, ia memutuskan untuk berhenti mencari lelaki di dalam mimpinya.

Saat tengah malam ia menceburkan dirinya ke laut untuk bunuh diri. Hingga seorang perempuan tua bernama Sayuri menyelamatkan dan membawa ke rumahnya.

Maya menceritakan mimpi-mimpinya pada Sayuri. Sayuri tertawa lalu bercerita.

Ia punya seorang cucu lelaki bernama Rana. Suatu hari ia bilang bahwa dalam mimpinya, ada seorang gadis di Jakarta yang akan menjadi kekasihnya dan memberi kebahagiaan.

“Kalian orang-orang tolol yang percaya pada mimpi. Ia pergi ke Jakarta seminggu yang lalu.”

Lalu, eh, endingnya silakan baca bukunya deh. Ga seru kalo ditulis disini.

Buku kumcer ini udah lama sih. Terbit di tahun 2015 dan yang saya punya udah cetakan ke tujuh (2017). Tampaknya best seller banget.

Ga rugi punya buku ini, karena cerpennya bagus-bagus dan tipe ceritanya nggak bikin bosen walau dibaca berulang-ulang.

Balik lagi ke topik utama.

Mungkinkah saat si gadis Tiktok viral dengan nyanyian Rayhan, ada pria yang nonton dan berkata, “Lho ini kan perempuan yang selalu hadir dalam mimpiku.” ?