Penjas Dan Kesunyian

Buku ini aku beli di sebuah toko buku kecil di Bandung beberapa tahun yang lalu.

Covernya yang lucu menggemaskan dan judulnya yang menarik menggodaku untuk memilikinya. Ini bukan buku puisi, tapi buku pwissie. Opo tuh? Markikup. Mari kita kupas.

Daftar isinya berupa judul-judul puisi. Lihatlah, sungguh menggelitik dan bikin kepo untuk membacanya.

Aku suka tipe-tipe puisi seperti ini. Kata-katanya gak njlimet dengan bahasa dewa. Bukan Dewa 19 ye. Bahasa yang sederhana malah bikin aku termotivasi untuk nulis puisi juga.

Bahwa ternyata nulis puisi itu nggak harus dalem banget dan bikin orang kelelep megap-megap. Ternyata puisi juga bisa bikin nyengir dan bikin hati jadi nyess.

Seperti puisi ini :

Tenda Biru

Pergilah!
Kejarlah keinginanmu
Untuk menjadi bakul pecel lele.

Saat air kobokan di meja-mejamu
Mulai keruh, kenang, kenanglah aku.
Sebagai kemangi yang mulai layu.

Pahami Ibadahmu

Buku ini udah lama ada di rak buku dan udah pernah saya baca. Namun tadi malam hati saya terketuk untuk membaca ulang.

Karena apa? Karena ujian kehidupan, pemirsaa.

Biasalah, sebagai manusia biasa dengan kadar iman naik turun, ada saat-saat dimana diri ini perlu ditampar, biar insyaf!

Jadilah saya putuskan untuk baca ulang untuk merasakan mak jleb dan nyes dihati. Nah, biar lebih semangat, sekalian aja saya review buku ini di blog.

Ini dia penampakannya. Sampulnya lumayan cantik, ilustrasinya saya suka. Yang bikin namanya Ujang Prayana.

Penulis buku ini adalah Dr. Amr Muhammad Khalid, yang katanya The New York Times adalah ulama kelahiran Mesir sekaligus motivator kaliber dunia.

Dan menurut versi Time, beliau salah satu orang yang berpengaruh di dunia. Buku-bukunya udah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Buku ini menunjukkan kalo ibadah itu sebetulnya menyenangkan dan menenangkan. Bukannya merasa berat dan terbebani. Ehemm.

Tahu sendiri dong ibadah-ibadah ritual : sholat, doa, dzikir dan membaca Qur’an kadang membuat saya lelah dan jenuh.

Jadi perlu sesekali baca buku ini untuk memotivasi diri sendiri.

Daftar isinya seperti ini. Yang dibahas mengenai sholat, doa, dzikir, haji, dan ngaji.

Saya akan bahas salah satunya aja deh. Tentang ngaji atau membaca Al Qur’an. Markimul. Mari kita mulai.

Al Quran adalah firman Allah yang ditujukan untukmu. Renungkan kalimat tersebut, pahami dan rasakan.”

Si penulis menyebutkan ada 5 topik utama dalam Al Quran :

1. Mengenal Allah
Ada ratusan ayat yang membahas tentang kekuasaan Allah. Mengenal Allah merupakan rahasia alam kehidupan.

2. Tahu sebab keberadaan kita di dunia ini.
Tujuannya hidup di dunia buat apa sih? Gimana cara kita diciptakan? Jawabannya ada di Al Qur’an.

3. Mengenal karunia Allah.
Banyak ayat yang menjelaskan ini. Setiap atom dalam tubuh merupakan bagian dari nikmat Allah, apalagi dengan alam sekitar.

4. Tahu akhir hidup dan tempat kembali kita.
Topik penting nih. Ada ratusan ayat yang bicara tentang surga, neraka, hisab, siksa, saat di hadapan Allah, neraca timbangan, dst.

5. Tahu cara memperbaiki kehidupan.
Di dalam Al Qur’an ada syariat, akhlak, hukum dan kisah para nabi yang bisa dipetik sebagai pelajaran.

***

Sekarang bayangkan dirimu sedang membaca Al Qur’an dan pikiranmu ada berbagai topik tersebut. “

“Di hadapanmu ada perbendaraan pengetahuan. Banyak orang barat yang tidak mengetahui apa yang kau ketahui. Apalagi dengan orang-orang biasa.”

Kamu dan teman-teman bisa duduk berjam-jam seraya berbicara dan tertawa tanpa ada manfaatnya. Namun aku mengusulkan, mulai sekarang duduklah setengah jam untuk membaca Al Qur’an.”

Atau,

“Hendaklah engkau membuat rencana. Di angkutan transportasi kau habiskan waktu kira-kira satu jam. Berangkatlah seraya membaca Al Qur’an. Di pagi hari, otak ini dalam kondisi baik.

Yang terpenting adalah konsisten. Jangan lewatkan satu hari bagaimanapun kondisinya. Awalnya memang berat, Berdoalah kepada Allah agar dia membantumu.”

***

Ya intinya kalo buat muslim, ga bakal rugi deh kalo punya buku ini. Buat pengingat dan penyemangat kalo lagi males jaya.

Siska Kohl Udah Berubah

Dengan yakin saya bilang gini karena saya tahu dia sejak awal pandemi di tahun 2020.

Ketika work from home, maka saya yang tidak sesibuk saat situasi normal, dengan semangat kurang kerjaan saya instal Tiktok dan Siska Kohl pun muncul di FYP saya.

Dia muncul dengan adiknya, yang asyik memperagakan masak sederhana di dalam kamarnya.

Dalam salah satu videonya, Siska menjelaskan bahwa kalo malem mereka berdua sering kelaparan, tapi dapurnya jauh banget, jadi akhirnya terpaksa masak di kamar.

“Yaelah, emang sejauh apa sih?” Kata anak-anak Tiktok. Lalu ada video yang menunjukkan rute dari kamarnya menuju dapur yang, oh, astaga, emang jauh banget!

Ga heran kalo akhirnya dia ngendon di kamar beserta peralatan masaknya. Nah, disinilah bagian menariknya.

Saya betah banget nontonin Tiktoknya yang dulu-dulu karena dia punya peralatan masak listrik yang ukurannya imut-imut dan lucu-lucu. Guemesss banget liat peralatannya.

Saya sungguh terinspirasi pengen punya alat masak yang imut-imut itu. Lagipula saat pandemi, kan buat jaga-jaga juga, kali-kali aja ada situasi pandemi yang mengharuskan saya terkurung di kamar dan ga bisa ke dapur.

Mulailah saya kesirep dan punya beberapa alat masak yang mirip-mirip punya dia. Duh, saat itu Siska Kohl idolaku banget deh.

Dari komentar anak-anak Tiktok, yang juga anak kos dengan kehidupan yang lebih banyak di kamar, demen banget sama peralatan yang dia punya.

Tapi itu semua berubah setelah dia mulai terima endorse.

Yang awal kontennya menyederhanakan hidup dengan peralatan masak yang praktis, Siska Kohl berubah jadi ribet.

Semuanya serba maksimalis, mewah, berlebihan. Oh, Siska kenapa sih kamu berubah?

Unfollow deh saya, karena udah ga menginspirasi saya dengan kesederhanaan dan kepraktisan.

Followernya makin bertambah dengan eksperimennya yang aneh-aneh. Kalimat andalan “Mari kita coba.” Malah kaga bisa saya coba saking absurdnya.

Dengan berat hati saya coret deh Siska dari daftar idola.

Sedekah

Topik yang satu ini ga abis-abisnya dibahas. Bisa dibilang orang Indonesia ini hobi banget sedekah. Mulai dari yang tajir melintir sampe yang udah megap-megap ga tau besok makan apa, sedekah aja tetep dilakoni sama rakyat Indonesia. Sungguh dermawan emang.

Lalu apa bedanya sedekah orang miskin, orang biasa dan orang kaya? Perasaannya. Yoi, perasaannya saat sedekah itu lho.

Saya juga lupa baca atau denger dimana. Entah dari ceramah ustadz atau motivator, yang saya ingat, orang miskin kalo lagi sedekah, ada perasaan ngarep dan berharap duitnya bisa balik lagi ke dia. Kalo perlu 10x lipat deh. Begitu kira-kira doanya.

Kalo orang biasa, perasaannya saat sedekah biasanya karena ada rasa kasihan dan ingin berbagi.

Kalo orang kaya, perasaan saat sedekah lempeng aja, karena duitnya udah berlebihan. Jadi ngeluarin duit tuh ga terlalu dipikirin. Ikhlas-ikhlas aja dan ga ada pikiran kasihan, ini itu dan sebagainya.

Nah, setelah saya merenung tadi pagi saat duduk manis di kloset. Barulah saya menyadari bahwa perasaan saya saat sedekah itu tidak konsisten.

Saat abis gajian lalu sedekah, ternyata saya ga mikir ini itu. Sat set sat set, langsung transfer dan yo wes. Ga ada pikiran bahwa sedekah saya akan berdampak ini itu. Ikhlas 1000% deh. Nah, berarti mental saya tajir.

Lalu ketika ada situasi dimana ada seseorang yang butuh bantuan, tiba-tiba saya tergerak untuk menolong, karena.. duh kasian amat, kalo saya jadi dia mungkin juga puyeng. Nah, tandanya mental saya b aja. Ga istimewa.

Yang paling parah mungkin ketika bokek melanda. Duit udah menipis, lalu saya paksakan untuk sedekah plus doa yang kenceng plus sholawat sambil berharap pintu rezeki dibukakan kelebar-lebarnya. Nah, berarti mental saya lagi kere. Ckckck.

Jadi kesimpulannya sebelum sedekah hendaknya kita cek n ricek dulu ke dalam hati dan sanubari. Mental kita tuh sebenarnya mental kaya, biasa aja, atau miskin?