Farhampton [2]

Sepertinya ini yang pertama dan terakhir aku bahas parfum, karena sejujurnya aku buta sama hal yang satu ini.

Beberapa waktu yang lalu, aku beli parfum secara online tanpa mengendus dulu baunya atau minimal cari tahu dulu deh ini aromanya gimana. Istilahnya penggemar parfum, blind-buy.

Yayaya, kalian bisa baca postingan blogku sebelumnya tentang bagaimana keputusanku yang sentimentil membeli parfum HMNS Farhampton. Aku sarankan untuk baca tulisanku sebelumnya, biar nyambung.

Berhubung di kolom komentar ada yang nanya gimana reviewnya, ya udah aku review deh. Tentu saja reviewnya juga sentimentil, bukan ala fraghead yang menjelaskan dengan teori dan penciuman tajam, setajam silet.

Jadi aku beli ini karena ada kata ‘Farhampton’. Sebuah nama tempat fiktif yang diciptakan untuk serial How I Met Your Mother (HIMYM).

Saat tahu bahwa Farhampton ini tempat fiktif di antah berantah, terbersit dalam hati, “Wah, nemu juga alasan tempat pelarian baru selain Timbuktu.” Emang Timbuktu dimana sih? Itu lho yang ribuan kilometer dari Kota Bebek.

Eh, kok ngelantur ya. Mari kita mulai reviewnya.

Kesan pertama saat lihat kemasannya aku suka sama logo farhampton dengan payung kuning yang menggantikan huruf O.

Serial HIMYM ini memang identik dengan payung kuning milik wanita yang kelak jadi istrinya Ted Mosby.

Di bagian belakang box parfum ada sebuah paragraf yang mengingatkanku dengan salah satu adegan fenomenal, di momen Ted pertama kali kenalan sama wanita berpayung kuning.

Oke, saatnya membuka kotak kemasan dan mulai menyemprot. Kesan pertama yang kudapat adalah hmm, ini wangi pria.

Walau ini katanya parfum unisex yang bisa dipakai pria dan wanita, aku merasa ini jelas wangi pria. Bukan wangi pria alay, tapi juga bukan wangi pria tajir. Wangi pria tampan? Eeng, nggak juga.

Yang pasti kalau dibayang-bayangkan ini bukan parfumnya Marshall. Sebagai orang yang sok bijak, tampaknya ini bukan parfum yang cocok untuk dipakai dia. Sebagai lawyer, parfum ini juga kurang berwibawa untuknya.

Aroma ini juga bukan Barney banget. Bukan parfumnya fuckboy yang hobi gonta-ganti cewek. Parfum ini terlalu biasa untuk dipake playboy sepertinya. HMNS Farhampton ini parfum dengan aroma pria baik-baik.

Yang paling mendekati mungkin, yaaa, ini aroma pria yang biasa-biasa aja. Yang tampaknya pas dipake untuk pria single di awal 30 tahun ke atas dengan karir yang gitu-gitu aja.

Singkatnya ini bukan parfum pria mapan, ganteng, rapi, berbadan bagus. Yes, ini parfum yang cocok dipake Ted Mosby, pria baik-baik dengan spesifikasi yang biasa-biasa aja.

Kalo menurut HMNS aromanya adalah :
– Top notes : bergamot dan ripe fruit.
– Middle notes : lavender, orange blossom.
– Base notes : cedar, tonka bean, labdanum.

Mengingat parfum ini diciptakan ketiga founder HMNS untuk mengenang nostalgia nonton HIMYM saat jaman kuliah dulu, jadi ya makin menguatkan kesan bahwa ini parfum pria yang belum mapan jaya.

Tapi aku nggak nyesel beli ini. Beneran deh. Sumprit. Kalau baca postingan sebelumnya, keputusanku untuk membeli parfum ini mungkin terkesan konyol, absurd dan irasional.

Tapi ketika aku menyisihkan waktu untuk ‘membaca’ dan merenungkan semuanya, aku menemukan garis merah yang menjembatani satu kejadian dengan kejadian yang lain.

Eng ing eng.

Singkat kata, semesta mengiringku untuk memiliki parfum itu.

Entah dari mana datangnya hidayah itu, hanya karena saat nonton aku penasaran dengan kata Farhampton, akhirnya aku spontan klik ‘pause’ dan mulai bergerak untuk mencari tahu dimanakah Farhampton itu berada.

Hasilnya memang nihil, karena itu tempat fiktif. Tapi aku malah menemukan Farhampton yang lain. Seperti quote dalam serial HIMYM :

Kurang lebih begitulah kira-kira. Kalau katanya Carl Jung, namanya synchronicity. Kebetulan yang bukan kebetulan.

Synchronicity menurut Carl Jung adalah hukum alam yang ditunjukkan melalui serangkaian kebetulan yang memiliki pesan tersirat bagi yang mengalaminya.

Serangkaian kejadian yang disebut kebetulan yang bermakna bisa terjadi kapanpun. Saking pasnya, pada kondisi tertentu, aku bisa merasakan bahwa semua kejadian yang kebetulan itu adalah sebuah skenario yang mendorongku untuk memiliki parfum ini.

Oke, mungkin kalian pikir aku lebay dan mencari pembenaran. Ketahuilah, bahwa aku sudah lama sekali nggak beli parfum. Terakhir beli dengan niat dan perasaan itu tahun 2009. Udah lama banget ya. Setelah itu parfum yang kupunya hanyalah hadiah dan oleh-oleh dari teman dan kerabat.

Ya mungkin ini memang momen yang pas untuk punya parfum baru setelah sekian lama.

Saat ini aku nonton HIMYM udah di season 10, yang artinya ini season terakhir dan sebentar lagi tamat. Jadi aku nggak akan lihat Ted Mosby dkk lagi seperti malam-malam sebelumnya. Untungnya aku punya parfum ini, jadi besok-besok kalo kangen sama si Ted, tinggal semprot parfumnya aja. *mulai halu*.

Untuk HMNS, thank you so much udah repot-repot bikin parfum seri ini. Kayaknya parfum ini diciptakan untuk aku. *Ge-er amat, siape elu.*

Seperti kata Barney, aku yakin HMNS Farhampton ini suatu hari nanti akan jadi ‘LEGEN.. wait for it.. DARY’. Yes, legendary.

Farhampton

Dengan jujur kukatakan bahwa akhir-akhir ini aku rada sentimentil. Galau-galau gak jelas gitu lho. Entah karena apa, namanya juga ga jelas.

Saat mood amburadul kayak gini, tiap malem sebelum tidur tontonanku akhir-akhir ini adalah How I Met Your Mother. Ini sitcom kedua favoritku setelah Friends. Ceritanya ya lika-liku kehidupan Ted Mosby dan ganknya yang seru dan menyenangkan itu.

Saat ini aku nonton udah nyampe season 7-8 gitu deh, lupa ga merhatiin detail seasonnya. Lucunya di beberapa episode aku menitikkan air mata nonton itu. Buset deh, acara komedi kok bikin nangis. Sebel sama diri sendiri yang nggak jelas gini moodnya.

Salah satu adegan dalam serial itu yang fenomenal adalah ketika pertama kali Ted bertemu wanita berpayung kuning di stasiun yang kelak suatu hari akan menjadi istrinya.

Saat nonton, terlihat tulisan nama stasiunnya, Farhampton. Hmm, sebuah nama yang aneh, biasanya di film-film, adegan romantis itu kalo nyebut nama lokasi, biasanya lumayan ngetop dan bisa jadi jujukan turis, ini kok aku nggak pernah denger. Sekuper itukah aku?

Berhubung nama tersebut asing dan aku nggak pernah denger namanya, jadi terketuk hatiku untuk googling, dimanakah tempat itu berada? Iyaa, sekepo dan sekurang-kerjaan itu aku tuh.

Singkat cerita, Farhampton ternyata lokasi fiktif yang diciptakan untuk serial tersebut. Oh, alhamdulillah, ternyata aku tidak kuper-kuper amat.

Lalu dari hasil berselancar di dunia maya tersebut, aku malah menemukan ini :

Wah, sebuah parfum bertulisan Farhampton. Setelah kuselidiki dengan seksama ternyata ini parfum produksi Indonesia. Hey, hey, huss, ini bukan tulisan berbayar atau endorse-endorse-an. Mohon maap, blog ini merdeka dari uang, aku tidak mencari uang dari blog. Ini murni nemu info gara-gara serial How I Met Your Mother.

Trus kenapa pake namanya Farhampton? Kan jadi kepo. Hasil dari baca beberapa artikel berbau iklan, ternyata nama tersebut terinspirasi dari serial How I Met Your Mother (HIMYM).

Ketiga founder parfum tersebut jadi deket gara-gara sama-sama suka nonton HIMYM. Ketika mereka bertiga sedang bernostalgia mengenang serial favorit mereka itu, kebetulan di masa tersebut mereka bertiga juga sama-sama suka sama sebuah parfum.

Sayangnya sekarang nggak diproduksi lagi, jadi nggak bisa ditemukan di pasaran. Mereka juga masih menyimpan botol parfum tersebut, dan setiap kali mencium wanginya, semua memori menyenangkan pada saat nonton HIMYM dulu pun selalu muncul.

Akhirnya, berawal dari nostalgia tersebut mereka langsung sepakat untuk kembali menghidupkan wangi parfum tersebut. Setelah 6 bulan melakukan research untuk menciptakan parfum ini, akhirnya HMNS bekerjasama dengan seorang perfumer Indonesia yang juga merupakan lulusan terbaik di ISIPCA Prancis (fragrance & cosmetics school ternama) sebagai nose nya.

Seperti yang kuceritakan di awal tadi, moodku yang sentimentil mendadak bergejolak. Wah, kami sehati nih, aku harus memiliki parfum itu. Yayaya, aku tahu kalian pasti tertawa geli saat baca ini dan mengetahui betapa konyolnya aku kalo lagi kumat galau-galau gak jelasnya.

Dengan perasaan emosional tanpa disertai logika untuk mencari tahu lebih dalam, aku meluncur ke market place dan klik check-out. FYI, check-outnya saat itu tanggal tua pula. Waduh, kurang kesirep apa coba. Ckckck.

Sembari menanti datangnya paket, aku bertanya-tanya, apakah ini aromanya manis seperti senyumnya Ted Mosby? Hoeksss, pemirsa auto nyari kresek.

Akhirnya buka Youtube, kayak gimana sih aromanya? Kayak Ted, Marshall, atau Barney? Atau seperti aroma hujan di Farhampton? Tentu saja review mereka tidak sentimentil seperti tebakanku.

Seorang youtuber yang merupakan fraghead, mengatakan aromanya mirip banget sama Gatsby White Up Blank Wood. Tersedia di Indomaret terdekat di kota anda dengan harga bersahabat. Eh, whattt? Maksud lo? *nangis dibawah shower*. Uasemm, kenapa aku mengeluarkan uang dalam jumlah lumayan di akhir bulan dengan aroma parfum yang mirip sama parfum Indomaret?

Wait, tunggu dulu, bukannya aku beli bukan karena aromanya ya? Aku beli karena logo payung kuningnya, aku beli karena nama Farhamptonnya dan aku beli karena ceritanya foundernya yang sehati.

Hhhh. Mbuh ini mungkin konyol. Ya pokoknya begitulah aku kalo lagi sentimentil. Yang pasti aku menyambut mas ‘misi-paket’ dengan ceria dan membuka paket dengan hati berbunga-bunga. Trus ketika pertama kali kusemprotkan, wah, terbayang senyumnya Ted Mosby. *mulai halu*.

Aku bukan penggemar parfum, jadi nggak bisa mendeskripsikan aromanya dengan baik. Lagipula ini kan bukan iklan. Soal aroma yang katanya mirip Gatsby, ya nggak tahu juga, aku belum ke Indomaret untuk mengendus-endus parfumnya.