Nonton Serial Friends

Sebetulnya ini postingan lawas yang saya edit lagi. Saat itu pengen nulis tentang friends, tapi lagi butek saking banyaknya yang mau ditulis. Akhirnya poin-poinnya doang yang tertulis.

Baiklah, berhubung saat ini lagi janjian nunggu seseorang, jadi daripada ngelamun ga jelas atau ngabisin kuota untuk browsing yang juga ga ngerti mau buka apalagi, mending edit ini lagi.

Beberapa minggu yang lalu, saat saya upload quote dari serial friends di WA stories, sahabat saya sewaktu SMP, langsung chat saya.

Dia bilang, dia nonton lagi serial Friends dari season 1 sampai tamat. Wah! Happy banget saya, akhirnya kami ngobrolin serial ini sambil nostalgia.

Saat menonton serial Friends ini lagi, saya baru mudeng, bahwa ternyata Ross berpisah dengan istrinya krn ketahuan kalau penyuka sesama jenis. Teman saya juga baru nyadar saat nonton ulang.

Ya ga papa juga sih. Tapi di tahun 90-an, masih jarang orang Indonesia bahas ini karena tabu. Saking tabunya, kami tidak menyadari kalau isu tersebut ada di serial ini.

Yang menarik adalah, saat kami berdua baru menyadari setelah nonton lagi diusia 40 tuh, ternyata Friends ini hidupnya bebas banget. Gonta-ganti pacar dan sebagainya.

Saat remaja, perspektif saya saat itu cuma, wow, asik ya, kerja dan tinggal di NY bersama teman-teman. Maklum, masih polos saya hahaha.

Jadi asik aja gitu nonton serial ini lagi dengan sudut pandang yang sudah berbeda.

Padahal ini lika-liku kehidupan dari kekanakan sampai jadi bijak. Dari yang karirnya nol sampai sukses. Dari jomblo ngenes sampai akhirnya dapet jodoh.

Rasanya nonton ini seru banget. Relate banget sama hidup kami. Serasa ngaca, mengamati hidup yang dulunya semau gue, enak-enakan, bertumbuh, jadi dewasa dan bertanggung jawab.

Oh ya, mungkin milenial sekarang agak terkejut kalau nonton ini, karena banyak banget guyonan yang mengarah ke body shamming, rasis, dan sekitarnya.

Yang sebetulnya di tahun 90-an tuh lucu-lucu aja. Tapi kalau hari ini, udah tergolong sensitif. Ya, jamannya juga udah beda kan ya.

Bahkan sitcom ini bisa dibilang bener-bener putih. Dari keseluruhan season, cuma ada 1 orang kulit hitam yang muncul. Saya lupa namanya, yang jadi pacarnya Ross deh.

Ross merupakan favorit temen saya. Katanya dia sangat ekspresif, mimik mukanya gemesin.

Kalau saya dulu suka Joey, karena lucu dan ganteng. Tapi saat menonton di usia segini, favorit saya Phoebie.

Karakternya unik. Background hidupnya sebetulnya menyedihkan tapi tampaknya dia nggak peduli dan ngerasa happy-happy aja.

Saya banyak nonton sitcom, tapi sampai detik ini Friends masih tetep ranking 1 di hati saya.

Di balik Kartu Tarot

Saya punya mainan baru, sebuah kartu tarot. Yay! Ini adalah kartu ketiga saya. Penampakannya seperti ini :

Lihatlah, lucu banget kan yaaa

Berhubung saya males motret, jadi saya nyomot foto kartunya aja dari instagram.

Sebetulnya saya beli ini bukan karena saya pembaca tarot, anak indigo, psikolog atau pemain sulap.

Kartu tarot ini selera saya banget deh. Seru banget ngeliat ilustrasinya yang didominasi dengan warna-warni ceria.

Selain itu karena belakangan saya juga suka sama si tukang gambar yang satu ini.

Tampan dan bisa nggambar adalah sesuatu..

Seperti 2 buah kartu yang saya miliki sebelumnya, keputusan saya untuk memiliki tarot deck itu hanya karena saya suka ilustratornya. Titik.

Ada kesenangan tersendiri saat menikmati ide dan konsepnya mendesain 78 kartu. Dan karena yang dibikin adalah kartu tarot, maka ada banyak perspektif yang bisa saya lihat dalam sebuah kartu.

Itu hiburan yang menyenangkan bagi saya saat memandangi satu persatu. Ya kalau saya sih ngelihatnya kayak lagi lihat lukisan aja.

Lagi pula 78 buah kartu dengan aneka ilustrasi adalah murah meriah untuk saya yang bukan sobat tajir ini.

Ya maksudnya lebih terjangkau daripada beli lukisan yang puluhan atau ratusan juta wkwk.

Walaupun begitu, saya juga tahu makna tiap kartu. Cuma saya abaikan karena itu kayak text book gitu, saya lebih suka menafsirkan sesuai pandangan saya.

Balik lagi ke tarot terbaru saya. Illustrator yang bikin ini namanya Ricardo Cavolo, cowok Spanyol kelahiran 1982. Awalnya dia bekerja untuk beberapa biro iklan, namun Cavolo akhirnya bikin studio seni.

Dia juga dikenal sebagai pembuat mural. Banyak banget karyanya yang bertebaran di seluruh dunia.

Ini salah satunya.

Kalau ngepoin instagramnya, dia banyak kerjasama dengan beberapa brand terkenal :

Desain sepatu untuk Bally
Mug keren untuk Starbucks
Jeans untuk Zara

Selain itu, dia juga bikin beberapa cover buku dengan ilustrasi keren yang khas banget.

Tattonya juga lucu ya.

Nggak hanya mendesain cover buku, dia juga bikin cover CD.

Bahkan dia merambah ke dunia interior dengan sentuhan mural-mural yang menggemaskan.

Terbayang serunya ‘nongkrong’ sambil mandangin ini.

Nggak ketinggalan, doi meramaikan dunia arsitektur juga.

Jadi jangan bayangin bahwa koleksi tarot saya berbau mistis, dengan aroma dupa dan sebagainya. Karena cara pandang saya yang memang beda dengan tarot reader beneran.

Gitu lho gaesss..