Film Favorit Saya

Nggak terasa udah kamis lagi, saatnya nulis blog untuk minggu ini.

Jadi di akhir tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya bersama 3 orang kawan berencana untuk tukar kado.

Karena budget yang ditetapkan cuma 35 ribu, maka saya putuskan untuk memberikan sebuah hadiah berupa poster film. Selain murah meriah, kalau toh mereka udah bosan, buangnya juga gampang.

Jadi saya minta daftar 4 film favorit mereka sepanjang massa. Saya pikir, setelah chat langsung dibales, nggak taunya mereka minta waktu 1 hari untuk bertapa dulu nyari wangsit.

Sambil menanti jawaban mereka, saya akhirnya ikutan mikir 4 film favorit saya. Setelah merenung dan menguras memori, berikut ini 4 film favorit saya yang terlintas dalam benak :

1. The Godfather 2

Agak susah memilih The Godfather 1 atau 2, setelah menimbang-nimbang, saya lebih suka yg ke-2.

Ga usah bahas yang ke-3, karena dibandingkan sebelumnya filmnya payah, kalau saya bilang mending nggak usah bikin sekalian.

Hampir semua dialog film ini, bisa distabilo dan jadi jampi-jampi di tempat kerja yang lingkungannya keras dan ganas.

Saat masih fresh graduate dan masih jadi pupuk bawang, quotes film ini sungguh berguna untuk memotivasi saya.

Bahkan sampai hari ini.

2. Flipped

Duh, ini film cinta-cintaan terbaik deh. Manis banget ceritanya dan sukses bikin saya baper.

Saya males menjelaskan panjang lebar, tapi film hollywood cinta-cintaan tanpa pegangan tangan dan ciuman kan jarang ada ya.

Bahkan drama korea yang terkenal sopan aja udah banyak dibumbui adegan-adegan 13+

Nah, maka dari itulah saya suka banget film ini.

3. You’ve Got Mail

Saya nonton ini saat saya belum punya email. Serius, memgingat film ini muncul tahun 1998. Dan setelah nonton ini, saya jadi ingin punya email.

Film ini nggak pernah bosan saya ulang-ulang, walau sekarang ceritanya kesannya jadul banget ya. Lha tapi sepertinya kita semua relate sama ceritanya deh.

4. The Talented Mr Ripley

Di film inilah pertama kalinya saya cinta sama Matt Damon. Mainnya kurang ajar banget di film ini, keren banget.

Soundtrack film ini juara ditelinga saya. Saya ingat pernah punya albumnya, semuanya enak. Kalau temen-temen suka jazz, demgerin album ini deh.

Film ini dialognya juga bagus, beberapa quote sukses menampar saya.

*****

Nah, sekarang giliran temen-temen untuk menyebutkan 4 film favorit sepanjang massa di kolom komentar saya.

Sitkom Baru Aroma Lama

Mungkin agak telat, bulan ini akhirnya saya install Netflix. Ternyata menyenangkan ya! *yaiyalah*

Akhirnya saya bisa nonton serial sitkom Amerika lagi. Banyak banget daftar serial yang pengen saya tonton, sampai kalap gitu dan bingung mau nonton yang mana dulu.

Dua hari yang lalu saya nonton Fuller House. Ternyata serial ini lanjutan dari serial Full House yang ngetop di awal tahun 90-an.

Dulu saat masih ditayangkan di TVRI (yes, TVRI. temen-temen gak salah baca), sitkom Full House adalah salah satu acara tv kesukaan saya saat itu.

Ceritanya tentang Danny Tanner yang membesarkan tiga anak perempuan D.J., Stephanie, dan Michelle, yang masih kecil-kecil, setelah istrinya meninggal.

Teman dekat Danny, Joey dan Jesse, akhirnya tinggal bersama Danny, untuk membantu merawat 3 anaknya.

Kalau ortu saya dulu suka dengan kelucuan 3 pria yang heboh dan bingung dalam merawat anak-anak, maka saya yang masih SD suka banget sama cerita 3 anak cewek yang juga seumur saya dengan konflik-konflik lucu yang receh.

Jadi betapa senangnya saya saat dua hari yang lalu menemukan kelanjutan serialnya di Netflix.

Kini 3 anak perempuan tersebut sudah dewasa. Setelah ditinggal mati suaminya, D.J dengan 3 anak laki-lakinya kembali ke rumah lama ditemani Stephanie dan Kimmy, sahabatnya yang mempunyai 1 anak perempuan.

Mereka bertiga memutuskan tinggal bersama dan saling bahu membahu merawat anak-anak mereka.

Mirip banget sama bapak dan teman-temannya dulu ya. Tapi yang sekarang versi wanita.

Ceritanya masih tetep kocak seperti dulu. Lumayanlah buat tontonan receh saat udah lelah pulang kantor.

Menulis Journal

Hai guys,

Seharusnya aku nulis blog kamis pagi. Tapi hari itu entah mengapa aku lupa hari, tau-tau udah malem dan baru nyadar kalau lupa nulis blog.

Lalu menunda-nunda, “ntar dulu deh” repeat sejuta kali. Jadi sabtu pagi ini baru deh, kuputuskan untuk nulis.

Tadi malam aku dengerin podcast Kepo Buku, yang suka bahas buku-buku yang sudah mereka baca.

Yang aku dengar episode yang berjudul Menulis Journal. Menarik banget untuk disimak.

Jadi tips asik nulis journal adalah kita bangun pagi, lalu duduk manis dan mulailah menulis 3 halaman di journal.

Nulis apa aja yang terlintas dibenak, keluarin semua uneg-uneg walau receh sekalipun. Kalaupun masih blank, tetep tulis aja “aku ga tau mau nulis apaan.” Diulang beberapa kali, sampai keluar kalimat dari pikiran kita.

Teknik tersebut dinamakan free writing. Biasanya dipakai untuk menulis kreatif. Aku yang buta hal-hal teknis tersebut, manggut-manggut aja saat dengerin.

Lalu kemudian baru menyadari bahwa teknik tersebut selalu kupakai saat nulis blog.

Biasanya aku menulis blog secara spontan, sehingga mood dan kejujuran terpampang nyata di blog ini wkwk.

Jadi guys,

Setelah dengerin podcast tersebut, aku jadi tergerak untuk lebih rajin nulis journal tiap pagi sebanyak 3 halaman.

Biasanya kan ya suka-suka aja. Tapi mulai pagi ini, mo nyoba ah 3 halaman. Sekalian ngabisin sisa lembaran buku, udah hampir akhir tahun nih.

Tarik sis, semongko!

Photo by Jessica Lewis from Pexels