Puisi

Setahun belakangan ini saya lebih sering baca buku puisi. Saya sudah nggak sanggup baca novel. Terlalu berat dan menyita waktu saya.

Saya baru menyadari bahwa saya udah nggak sanggup baca novel lagi saat kerja. Saat saya kembali membaca novel Agatha Christie, yang dulu saat SD saya hanya membutuhkan waktu satu jam. Sekarang hampir sebulan.

Bayangin, saya kalah sama diri saya saat SD.

Dulu saat saya masih duduk di sekolah dasar, saya mampu membaca novel tebel-tebel hanya dalam waktu sejam saja.

Membaca fiksi yang lumayan tebal jadi terbiasa sampai saya SMA.

Saat kuliah, kelebihan itu jadi menurun. Saya jadi lebih sering dan terbiasa melihat visual berupa gambar atau foto daripada membaca buku teks.

Dosen-dosen saya saat kuliah, hampir nggak pernah ngasih tulisan yang bertele-tele. Biasanya sekedar gambar lalu dari gambar tersebut beliau menjelaskan segala sesuatu dari gambar-gambar tersebut.

Akibatnya catatan kuliah saya sedikit sekali tulisannya. Lebih banyak sketsa cepet-cepetan yang saya gambar.

Begitu juga foto copy jaman kuliah. Isinya gambar, gambar dan gambar.

Saya hampir nggak pernah menghafal saat mau ujian. Yang saya lakukan hanya mengamati gambar-gambar dari buku. Toh, ujiannya juga kebanyakan studi kasus lalu disuruh menjelaskan dengan menggambar.

Yang paling menarik mungkin Tugas Akhir saya. Yang saya ketik nggak sampai 50 halaman. Sisanya cuma gambar.

Kebiasaan lebih sering mengamati visual saat kuliah itu makin menjadi-jadi karena saat itu lagi banyak persewaan VCD.

Jadilah saya lebih asik nonton film daripada baca novel. Bisa dibilang saya saat jaman kuliah, makin jarang beli buku. Kalaupun beli, isinya lebih banyak gambarnya daripada tulisannya.

Beranjak kerja, buku yang sering saya beli kebanyakan buku-buku non fiksi. Terutama yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Saya punya banyak buku yang tebal-tebal, tapi isinya cuma gambar doang.

Saya baru menyadari bahwa saya nggak punya buku fiksi saat beli rak buku dan mulai menata berdasarkan kategori.

Ternyata saya hampir nggak punya buku fiksi. Ada sih yang nyerempet fiksi, seperti buku-buku biografi dan sejarah. Tapi kan beda ya.

Akhirnya saya nyoba beli Agatha Christie. Seperti yang saya ceritakan di awal tadi, saya jadi lemot banget saat baca fiksi. Mendadak sulit menghafal nama-nama karakter di buku, belum lagi jalinan ceritanya memaksa saya harus membaca urut. Saya nggak tahan dan menyerah baca novel.

Supaya saya tetap bisa menikmati fiksi, akhirnya saya mencoba membaca beberapa kumpulan cerpen. Lumayan, ada progress. Walaupun saya hanya mampu membaca sehari satu cerita, setidaknya saya bisa membaca loncat-loncat sesuai judul yang saya mau dan karakter yang sedikit nggak bikin saya puyeng.

Sampai suatu hari, saya iseng ke toko buku dan lihat buku puisi. Saya baca sebentar satu halaman. Ternyata saya sangat menikmatinya. Akhirnya pulang deh bawa satu buah buku puisi.

Ternyata membaca puisi itu menyenangkan sekali buat saya beberapa tahun belakangan ini. Saya sangat menikmati puisi. Isinya singkat namun kaya makna. Bacanya bisa loncat-loncat.

Dari buku-buku puisi yang saya baca, akhirnya saya tergerak untuk mencoba bikin puisi sendiri. Rasanya asik kalau bisa bikin kalimat yang singkat, efektif dan bermakna.

Jadilah sekarang ini saya keasyikan baca dan nulis puisi.

Lirik Lagu Jaman Now

Sebetulnya saya nggak suka-suka amat dengan lagu-lagu balada Iwan Fals yang iramanya cenderung lawas dan nggak mengikuti trend pop yang sedang hits.

Lha wong tahun 90-an aja saya dengernya aja nggak relate. Terlalu lakik dan nyerempet-nyerempet nakal.

Untuk saya yang manis gini, kurang mengena di hati saat itu. Apalagi hare gene.. Oh plis deh, kapan-kapan ajalah denger Iwan Fals, kalau udah mati gaya.

Akhirnya momen mati gaya pun tiba. Saat ngubek-ngubek Spotify saya temukan album yang agak baru. Iyaa, 2012 bagi saya masih baru.

Ya untuk penyanyi legendaris macem Iwan Fals, masih dipercaya label untuk bisa ngeluarin album, buat saya cukup menarik.

Seperti nasehat teman saya. Tips untuk mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals cuma satu. Hayati liriknya, seperti lagu dangdut gitu.

Oke, baiklah. Dan hari ini saya bagikan lirik yang relate dengan netizen jaman now. Yang mungkin bisa jadi batu loncatan kita semua untuk menyimak lirik-lirik yang lain.

***

Dajal Net – Iwan Fals

Aku kecanduan internet
Twiter facebook dan mbah google
Belum lagi youtube dan you ssst
Lalu situs-situs lainnya
Bangun tidur tidur lagi
Mencet sana mencet sini
Sudah nggak peduli lagi dengan yang lain

Kerjaan berantakan
Kewajiban melayang
Sakit pinggang leher dan mata
Duh kasihan deh aku
Ketawa-ketawa sendiri
Sedih-sedih, sedih sendiri
Marah-marah, marah sendiri, ya sendiri

Gila kok bisa seperti ini ya
Drakula pulsa cekikian
Sambil menyedot darah pelanggan
Dan darahku yang pas-pasan

Memang teman semakin banyak
Teman yang sama-sama gendeng
Internet dekatkan yang jauh
Internet menjauhkan yang dekat
Otakku kutitipkan disitu
Jadi malas mengingat, malas belajar
Toh semuanya ada disitu
Ayo mau tanya apa ayo tinggal klik
Mbah google bisa menjawabnya

Sama seperti yang lain
Hobiku jadi suka nunduk
Di halte di pasar
Di rumah ibadah
Di rumah sakit di sekolah
Bahkan di sidang parlemen
Pun orang-orang pada menunduk
Oh ilmu padi rupanya
Semakin berisi semakin merunduk

Informasi dalam hitungan detik
Berita tinggal pilih aje
Semua orang jadi pandai nyontek
Ya nyontek

Teknologi komunikasi koq jadi tak bisa komunikasi
Lha sudah pada tau semua kan orang jadi malas berbicara
Ketawa-ketawa nggak jelas
Sedih-sedih, sedih ngga jelas
Marah-marah, marah nggak jelas
Nggak jelas

Semua kesedot ke layar itu
Layar peradaban
Yang sudah dijanjikan
Seperti dajal dengan matanya yang satu itu
Semuanya pergi menuju kesitu

Ngobrolin Lelang Lukisan

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton Youtube Chanelnya Soleh Solihun. Dalam salah satu episodenya, dia mewawancarai Helmy Yahya.

Wawancara yang sangat menarik dan menambah wawasan saya tentang lukisan dan tata cara lelang, yang mungkin jarang diketahui orang.

Saking menariknya, saya nggak mau spoiler di sini. Mendingan anda nonton sendiri deh. Thank me later hahaha.

Kalau menurut teman-teman durasinya terlalu panjang, cukup nonton dari menit pertama sampai menit ke 24:22

Tapi menurut perkiraan saya, saking serunya, anda mungkin bakal kesirep dan nonton terus sampai selesai.

Menjadikan Kota Sebagai Rumah

Ada jutaan definisi tentang rumah. Salah satu dari sekian banyak itu, rumah adalah tempat kita untuk pulang.

Saat saya pulang dari bepergian keluar kota, ketika mobil sudah keluar dari tol Bundaran Waru, melewati mall Cito dengan tulisan besar Surabaya, saya sudah merasa tiba di rumah.

Atau ketika pesawat sudah mendarat di bandara Juanda, atau kereta sudah berhenti di stasiun, saya merasa sudah tiba di rumah.

Kota adalah rumah saya.

Pernahkah teman-teman mengalami perasaan tersebut?

Dalam sebuah buku Goodbye, Things, karangan Fumio Sasaki, yang membagi pengalaman hidup minimalis, mengungkapkan fakta bahwa menjadi minimalis tidak hanya mengubah kamar atau rumah kita, tapi juga memperkaya hidup kita.

Banyak orang salah kaprah tentang gaya hidup minimalis. Lalu berpendapat bahwa orang dengan gaya hidup minimalis tidak berperasaan, egois dan tidak butuh orang lain.

Fumio Sasaki mengungkapkan bahwa gaya hidup minimalis malah justru akan membuat kita lebih sering bersosialisasi.

Menurutnya sofa besar dan nyaman tidak harus ada di ruang keluarga. Ruang keluarga versinya adalah kedai makan dekat rumah dengan sofa yang selalu empuk dan menggoda, bersih dan rapi pula.

Ada pula kedai kopi langganannya yang tidak pernah protes meski dia duduk berjam-jam, mengobrol dengan teman sambil menyesap kopi yang baru diseduh.

Saya tidak mengikuti gaya minimalis, walau banyak teman yang menuduh saya begitu.

Saya hanya tinggal berdua dengan suami, jadi kami berpikir buat apa menyimpan banyak barang.

Ruang yang luas bagi saya lebih penting daripada barang.

Semakin saya mengurangi barang di rumah, saya makin lebih menghargai dan menikmati ruang.

Lalu tanpa sadar rumah saya menjadi lebih lebar jangkauannya.

Teman-teman saya yang sering berkunjung ke rumah, sudah hafal bahwa peralatan makan dan minum saya terbatas.

Endingnya kalau nggak delivery makanan, ya kami melipir ke tempat nongkrong di sekitar rumah saya.

Saat lingkungan sekitar kita jadikan sebagai rumah, kita akan menemukan banyak sekali kemungkinan.

Dan itu asik banget.

Jika semua yang saya inginkan dan saya butuhkan ada di rumah, mungkin saya akan jadi manusia gua. Ndekem melulu di rumah.

Buku Baru

Hai gengsss,

Sebetulnya jadwal saya untuk nulis blog itu tiap rabu pagi.

Tapi pagi kemarin tuh saya migren, jadi daripada dipake mikir untuk nulis blog, lebih baik saya banyak gerak, alias olah raga.

Lalu, pagi ini mau nulis apa ya? Saya lagi blank. Beneran deh, hidup saya tuh akhir-akhir ini membosankan dan sedang tidak menarik.

Oh ya, mau pamer aja. Awal bulan ini saya akhirnya beli buku The Black Swan-nya Nassim Nicholas Taleb.

Itu pun karena Gita Wiryawan di Youtubenya, nyebut buku itu melulu di 2 episode. Kok kayaknya berkesan banget dan banyak hal penting yang dibahas dibuku tersebut.

Dasar kepo, saya langsung bergegas beli dong.

Setelah paketnya datang, waduh 600 halaman, buat ganjel pintu kayaknya oke nih. Saya lihat tahun terbitnya dong, 2009. Jadi ternyata udah 11 tahun yang lalu. Ckckck, kemana aja saya, kok baru denger judulnya.

Lalu sepintas saya buka-buka. Buset deh, apaan nih? Grafik, statistik, dst yang mbuh saya nggak paham. Rasanya pengen saya lempar deh bukunya.

Padahal judul terjemahannya tuh ya : “The Black Swan – Rahasia Terjadinya Peristiwa-Peristiwa Langka Yang Tak Terduga.

Kirain peristiwa langka tuh yang mistis-mistis gitu, kayak uang gaib dan sejenisnya.

Plis deh Nin, masa seorang Gita baca dan ngobrolin hal-hal mistis gitu sama Sandiaga Uno dan Mardigu Wowiek?

Ya keleus…

Jadi akhirnya saya baca juga sih, karena otak saya rada lemot, saya dibantu dengan pensil dan penggaris, stabilo entah kemana.

Sekarang udah masuk bab ke 3. Semoga kalau udah selesai saya bisa mereview di blog ini.

Doakan supaya nggak putus ditengah bab ya.