Salah satu kegiatanku dikala kurang kerjaan adalah nonton vlognya Soleh Solihun di Youtube.
Sebelumnya aku mengenal Soleh Solihun dari tulisan-tulisannya di tahun 2000-an dari majalah MTV trax. Ya udah, gitu aja. Aku nggak pernah mengikuti saat dia jadi komedian dan sebagainya karena jarang nonton televisi. Dibenakku, Soleh masih wartawan, bukan yang lain-lain.
Sekian lama semenjak majalah itu bubar, suatu hari tanpa sengaja aku menemukan vlog sederhananya yang berisi rekaman video hasil wawancara dari ponsel seadanya, tanpa ragu aku langsung subscribe.
Biasanya aku menonton secara acak, bukan sesuai urutan upload videonya. Kalau narasumber yang diwawancara ini menarik, baru deh nonton.
Seperti minggu lalu saat mati gaya melanda, aku iseng scroll link-link videonya Soleh, lalu membaca judul videonya : “Otong Koil – Suka Sedekah & Sial Terus.”
Tadinya kupikir, “Lho, kok mukanya mirip Cholil, vokalis Efek Rumah Kaca ya? Masih family, mungkin.” Dengan rasa penasaran dan kurang kerjaan, akhirnya aku tonton deh video panjang berdurasi 1:43:26 tersebut.
Sebelumnya aku pernah mendengar nama Koil, tapi belum pernah memperhatikan lagu-lagunya. Baiklah, aku mencoba untuk menyimak wawancaranya biar tahu.
Saat menit-menit pertama melihat video, oh ternyata beda jauh wajahnya si Otong dan Cholil. Lagian, ngapain sih membandingkan wajah orang? Ya namanya juga netizen lagi kurang kerjaan.
Lalu dalam hati berkata dengan norak, “Ternyata ganteng juga ya.” Kemudian bertekad akan nonton sampai selesai.
Mulai merasa relate, ketika dia bercerita awal mendirikan band tersebut karena frustasi dan ingin melarikan diri dari melukis dan kegiatan art. Wah, kok kayak aku tahun kemarin. Maksudku, stresnya doang, bukan broken heartnya.
Pelarian standarku biasanya ke hal-hal yang visual, seperti menggambar, menonton, melihat lukisan. Seperti Otong, karena pelarian yang biasanya jitu udah nggak mempan dan nggak terhibur, akhirnya aku mencoba untuk menulis puisi dan bikin blog. Lho, kok jadi curhat ya wkwk.
Lanjut,
Menurut Otong, musik Koil bisa dibilang perpaduan antara Motley Crue dan Duran-Duran. Wah, kebetulan aku suka Duran-Duran. Jadi, aku skip dulu, masuk Spotify dan mencoba mendengarkan salah satu lagunya Koil.
Ternyata ada dua album di Spotify. Soal musiknya, karena aku nggak paham dengan musik rock, jadi mending nggak usah sok tau dan membahasnya ya. Yang pasti aku suka synthesizernya.
Lalu aku mencoba menyimak lirik dari salah satu lagunya yg berjudul Sistem Kepemilikan,
“Ini negara bodoh yang sangat aku bela/ layaknya kekasih yang tercinta….”
Wah, ini sesungguhnya kalimat romantis yang sungguh realistis dan laki banget.
Lalu, mencoba mendengarkan “Mendekati Surga” yang konon masuk ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia. Kok tahu? Ya baru tahu juga abis googling.
Lagu Mendekati Surga di buka dengan lirik,
“Aku adalah arsitek..”
Wow, apakah ini lagu diciptakan buatku? *mulai halu*. Tentu aja tidak dong, siapa gue. Ge-er amat.
Satu lagi lirik lagu yang menarik, judulnya Nyanyikan Lagu Perang.
“Pasti ada cara untuk mencari uang/ Pasti ada cara untuk bersenang senang/ Badai pasti datang kita tak akan menang/Mengapa harus bimbang”
Sungguh sebuah lirik yang memotivasi kita saat bokek di tanggal tua.
Oke. Lanjut nonton vlog lagi.
Jadi durasi panjang yang menghabiskan banyak kuota itu isinya apa aja? Banyak dong.
Selain bercerita tentang Koil, Otong juga bercerita tentang jatuh bangun menjalankan bisnisnya. Kesialan tentang dirinya, senangnya bersedekah dan rekomendasi cara berkomunikasi dengan Tuhan.
Sepertinya aku menyukai sisi yang ini, karena ada beberapa pandangan yang sama denganku. Penggemar Koil yang baca blog ini dalam hati menggerutu, “halah, disama-samain.”
Banyak percakapan menarik yang bisa direnungkan. Terutama tentang pengalaman menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Satu kalimat yang membuatku termenung agak lama adalah, menurutnya Tuhan nggak bikin peraturan.
Ya, teman-teman musti nonton sendiri. Kan ga mungkin aku ceritakan semua di sini.
Wawancara menarik tersebut sudah kutonton seminggu yang lalu, tapi obrolan (dan wajahnya, ehem) sulit untuk dilupakan. Jadi lebih baik dituangkan aja ke blog, supaya bisa tidur nyenyak malam ini. Pembaca membatin, “Nih anak lebay banget.”
Postingan ini ternyata menghasilkan 657 kata. Tulisan terpanjang yang pernah kubuat di blog ini. Wah, aku musti berterima kasih ke Soleh nih.