Awalnya buku ini tergeletak di rumah sepupu, lalu kupinjam.
Aku tertarik melihat covernya yang menawan dengan embel-embel tulisan : pemenang nobel sastra 2006.

Katanya dia baru membaca separuh buku lalu berhenti dan malas menyelesaikan. Menurutnya buku ini terlalu berat.
Novel tersebut berjudul My Name Is Red, karangan Orhan Pamuk. Karena ini versi terjemahan, maka judulnya menjadi ‘Namaku Merah Kirmizi’.
Sesampainya dirumah, menjelang tidur, aku membacanya.
Ampun deh. Saat awal membaca, aku merasa kurang cocok dengan terjemahannya, kupikir baca dalam bahasa inggris mungkin lebih enak.
Lalu kucoba mencari dan baca e-booknya sekilas. Ternyata banyak istilah yang membingungkan, daripada makin puyeng, balik deh baca novel terjemahannya.
Masih diliputi rasa kebingungan, akibat lemot, kuputuskan untuk membacanya di pagi hari saat pikiran masih fresh.
Karakternya banyak dengan sudut pandang yang berbeda-beda, membuatku harus banyak mengingat. Bahkan selain manusia, ada sudut pandang seekor anjing, pohon, kuda, setan dan sebagainya. Astaga!
Untuk mempermudah otakku yang lemot ini, poin-poin penting dari tiap karakter, akhirnya kutulis di atas kertas.
Kini aku udah memasuki seperempat buku, aku mulai paham dan hanyut dengan ceritanya. Hati ini mulai penasaran dengan halaman berikutnya dan ingin bergegas menyelesaikan.
Saat membacanya, aku merasa seperti sedang diseret ke Istanbul abad ke-16 dan diajak bermain teka-teki filosofis. Lalu disuguhi puzzle yang kepingannya penuh misteri, intrik sosial, kisah cinta yang mbulet, sejarah Turki, dan estetika seni menghias buku.
Ternyata seni menghias buku di Turki itu menarik sekali. Aku mendapat banyak pengetahuan baru tentang seni tersebut di buku ini.
Saat tengah membaca, aku sering membatin, “Duh, kemane aje, kok baru sekarang baca novel bagus gini.”
Aku memang belum selesai membacanya, tapi sepertinya novel tebal ini asyik untuk dibaca berkali-kali.