
Kami berkumpul
Di sebuah tempat
Penuh warna
Dia menatapku,
“Sejak kapan di sini?”
Kawanku menjawab,
“Kami bersenang-senang,
waktu mempertemukan kami.”
Dia berbisik,
“Semestinya bukan di sini tempatmu.”
Aku tahu.

Kami berkumpul
Di sebuah tempat
Penuh warna
Dia menatapku,
“Sejak kapan di sini?”
Kawanku menjawab,
“Kami bersenang-senang,
waktu mempertemukan kami.”
Dia berbisik,
“Semestinya bukan di sini tempatmu.”
Aku tahu.
Mumpung hari ini gajian, aku akan bercerita tentang pengalaman jatuh bangun menata keuangan.
Menata keuangan itu tidak mudah, strategi hari ini belum tentu bisa digunakan untuk tahun depan. Hidup ini dinamis, jadi sering kali aku harus mengubah strategi untuk menata keuangan supaya tidak goncang.
Kadang aku berpikir, gimana caranya supaya teori yang kuhasilkan ini abadi. Jadi pakem gitu lho.
Dengan melakukan berbagai eksperimen, sejauh ini aku berhasil menyederhanakan catatan keuangan.
Bukan. Bukan dengan membagi-bagi uang dalam prosentase. Aku sudah berjuta kali mencoba dan mengutak-atik, tapi kemudian aku menyadari bahwa trik ini tidak cocok untukku.
Sampai kemudian aku berpikir, mungkin aku lebih cocok mengelola uang dengan perasaan, logika dipinggirkan dulu deh.
Aku menulis di buku catatan mungil yang cantik. Jd nyenengin gitu nyatetnya, karena nyatetnya pake perasaan kan, bukan logika.
Sambil mencatat aku belajar untuk menyadari dan mengenali diri sendiri. Luar biasa sih ini. Aku suka.
Aku merasa jenius hahaha..
Sebetulnya teori keuangan Indonesia ternyata sudah oke. Primer, sekunder, tersier.
Lalu kumodifikasi lagi sesuai kebutuhan dan perasaanku. Jadilah : wajib, spark joy, khilaf.
Wajib
Hal-hal yang tidak bisa ditawar. Mau nggak mau kudu dibayar. Misalnya : Listrik, air, telepon. Seperti e-toll, taksi online, bahkan pembalut yang sifatnya mendesak. Ya mosok pas lagi datang bulan nggak pake pembalut? Plis deh.
Spark Joy
Sebetulnya ini istilah hasil dari baca Marie Kondo tentang metode Konmari. Artinya adalah percikan kebahagiaan.
Spark Joy versiku adalah hal-hal yang membuatku merasa kaya dan berkecukupan, merasa bahagia, merasa tambah pinter, merasa cantik, dan sebagainya.
Ya pokoknya hal-hal menyenangkan, bikin bahagia dan mensyukuri nikmatNya deh.
Sedekah termasuk dalam kategori ini.
Khilaf
Hal-hal yang mengedepankan ego. Nafsu dan emosi sesaat.
Jajan yang ga mutu biasanya masuk dalam kategori ini. Walau sekedar jajan, mustinya mencari yang bikin spark joy, bikin bahagia.
Ketika mendapatkan yang kuinginkan bisa saja aku merasakan spark joy, tapi setelah beberapa saat dan merenungkan kembali, aku menyadari bahwa itu khilaf.
Saat aku menyadari & menuliskan kekhilafanku, maka catatan itu bisa menjadi pelajaran untuk hari-hariku kedepan.
***
Intinya menulis catatan keuangan itu musti bisa mengenali perasaan dengan baik.
Jujur sama diri sendiri. Aku mengakui kadang-kadang masih meleset. Buatku itu nggak masalah, karena ini bagian dari latihan mengenal diri sendiri.
Saat akhir bulan, aku tinggal membaca catatan, hal-hal apa yang bikin khilaf dan hal-hal apa yang membuatku spark joy.
Coba kalau orang yang berpikir logis, yang dilihat angkanya dong, lalu bertekad untuk hidup lebih hemat bulan depan.
Aku? cukup meminimalisir khilaf dan memperbanyak spark joy aja hahaha..
Dalam rangka menggiatkan diri untuk lebih rajin membaca kitab suci, maka kupikir-pikir sampulnya kudu di dandanin supaya lebih menarik.
Biar hati ini tergerak saat melihat kitab suci tersebut di rak, ingin menarik buku tersebut lalu membacanya.
Tau sendirilah model cover kitab suci tuh kan desainnya ya gitu deh. Bukan jelek sih, tapi ya kentara banget kalo itu kitab suci.
Walaupun ada juga yang cukup kreatif menjual kitab suci dengan sampul berbahan kain motif bunga-bunga. Tapi di mataku masih tetep terlihat itu kitab suci.
Lagi pula aku tidak ingin terlihat orang lain kalau sedang membaca kitab suci di tempat umum, seperti kedai kopi gitu. Bukan karena malu, cuma itu kan hal privacy, dunia nggak perlu tahu.
Jadi dalam rangka mengkamuflase penampilan supaya orang tidak tahu apa yang kubaca, akhirnya dengan jiwa sok kreatifku, aku mulai berkreasi.
Kitab suci kusampul dengan sobekan halaman dari majalah lama. Ditambah kolase dan sedikit tulisan, akhirnya jadi deh.

Ya namanya juga usaha. Walau kadang bacanya anget-anget tai ayam setidaknya udah kucoba sebuah cara supaya lebih rajin untuk kubawa kemana-mana.
Aku udah lama sekali nggak baca zine. Jaman kuliah dulu aku suka ngumpulin zine. Isinya aneh-aneh dan menyenangkan saat dibaca.
Apalagi dulu masih jaman orde baru menuju jaman reformasi, yang segala sesuatunya dibatasi, jadi baca-baca zine gitu seperti membuka wawasan baru.
Apa sih zine itu?
Zine itu majalah berukuran kecil (A5 atau A6) yang di bikin sendiri dan di cetak terbatas.
Isinya suka-suka, terserah yang bikin. Mulai puisi, artikel, ilustrasi, foto, resep, curhat, dan sebagainya. Suka-suka yang bikin.
***
Saat aku mengubek-ubek Instagram untuk mencari notes kecil, tanpa sengaja kutemukan beberapa zine.
Seneng banget pas nemu, ternyata di era e-book, zine masih bertahan dan makin asik-asik kayaknya.
Bedanya sekarang makin berkualitas, jaman dulu masih banyak yang modal foto copy-an, sekarang udah cakep-cakep. Yaeyalah, ini udah tahun berapa coba.
Untuk menghibur temen-temen semua, nih, kutunjukkin capture-an dari Instagram.
Beberapa zine inceran yang semoga masih ada saat udah gajian.

Ini sih udah sesepuh. Orangnya udah lavvas banget hahaha. Eh, ini komik sih ya, bukan zine. Atau zine yang komik? Mbuh ah.

Sekilas lihat isinya curhatan disertai dengan ilustrasi bikinannya sendiri. 88 halaman kurasa cukup tebel untuk sebuah zine.

Nah kalau ini isinya kolase. Sekilas lihat sepertinya banyak inspirasi di dalamnya. Aku penasaran pengen tau lebih lanjut.

Kalau ini tampak menggemaskan untuk dimiliki ya. Isinya cerita sehari-hari dengan ilustrasi lucu. Dia jual 1 set isi 6 pcs.

Ini isinya cuma gambar tanpa kata-kata, sepertinya bagus.

Ini sepertinya isinya cuma curhat, tapi isinya kreatif. Kata-kata dan layoutnya menarik untuk di simak.
***
Lalu teringat, jaman dulu ada blogger yang bikin zine juga. Ngumpulin tulisan dan foto-fotonya dalam bentuk cetak untuk dibagi-bagikan ke beberapa teman, termasuk aku.
Hmm..
Wahai gajian, cepatlah datang. Aku sudah tidak sabar.
Sepulang dari Jogja (haduh jogja lagi hahaha), nongkrong di kedai ini dan itu, aku jadi semangat menata rumahku kembali supaya lebih instagramable.
Sebetulnya instagramku udah mangkrak, cuma ya kan ga papa juga kali kalo temen-temen ke rumah jadi ada pemandangan baru.
Jadilah seminggu ini, aku mengubah susunan perabot dan berusaha menatanya supaya lebih instagramable.
Sakjane instagramable tuh definisinya opo toh? Yaaa, pokoknya jadi keliatan keren saat di foto, lalu pemirsa bertanya-tanya di kolom komentar. “Wah, lagi di mana nih? Kok tempatnya keren.”
Ya intinya instagramable tuh ya gitu doang. Background foto keren.
***
Nah, di minggu pagi yang ceria ini, aku bikin mural di sekat antara garasi dan ruang kerja.
Jadi sebetulnya tuh kan jaman purbakala saat renovasi rumah, kami masih jadi anggota Klub Sobat Misquen, jadinya sekatnya pake triplek dulu deh.
Karena bertahun-tahun tidak ada upaya dari kami berdua untuk mengupgrade dengan bahan yang lebih kokoh dan bagus, jadinya ya pagi ini adalah momen yang tepat untuk membuat sekat triplek itu jadi naik kelas.
Caranya dengan bikin mural sendiri.
Dan hasilnya sebagai berikut : 
Ya sebenernya cuma coret-coretan spontan ga jelas. Lumayanlah untuk aku yang pertama kali bikin mural. *dipuji-puji sendiri, daripada nggak ada yang muji*.

Ya sementara gini dulu deh. Ntar sambil berjalannya waktu, di bagusin.
Jadi, sekat ruanganku udah cocok belum, jadi background foto untuk di pajang di Instagram? Hahaha..