Huge In France

Judulnya menarik ya. Awalnya saya mengira ini tentang kehidupan di Perancis, ternyata tidak. Karena ceritanya malah di Los Angeles.

Seperti biasa, saya milih nonton ini karena cuma 30 menit per episodenya, jadi tidak membuang banyak waktu untuk saya.

Ternyata salah, pemirsa. Diawali nonton episode pertama di minggu pagi sembari ngopi cantik, saya terseret untuk maraton nonton ini saking penasarannya. Dan senin malem udah kelar dong.

Ceritanya tentang komedian Perancis, Gad Elmaleh yang berperan sebagai dirinya sendiri. Disinilah letak menariknya.

Ketika dia mulai lelah dengan ketenarannya dan mulai bertanya-tanya tentang makna hidupnya, Gad ditelepon mantan pacarnya, Vivian (Erinn Hayes) untuk menandatangani surat bagi putra mereka, Luke (Jordan Ver Hoeve).

Luke sangat membenci Gad karena meninggalkannya sejak kecil.

Akhirnya Gad memutuskan ke Amerika Serikat untuk mencoba mengambil hati putranya dan menebus kesalahan dengan cara menghabiskan waktu dengan putranya.

Luke adalah remaja 15 tahun yang bercita-cita menjadi model terkenal. Hari-harinya dihabiskan untuk berlatih di bawah bimbingan Jason Alan Ross (Matthew Del Negro), pria yang sudah dianggap sebagai ayah pengganti.

Gad dan Alan Ross berlomba-lomba untuk mendapatkan kasih sayang Luke.

Walaupun di Perancis, Gad terkenal, kaya, sukses dan dipuja. Namun, ketika dia datang ke LA tidak ada yang mengenalnya, meskipun ngakunya dia itu Jerry Seinfeld-nya Perancis.

Duh, mohon maaf nih ya. Kalau Jerry Seinfeld saya tahu banget, lha kalau Gad Elmaleh? Saya juga baru denger namanya saat nonton serial ini.

Gad terlihat seperti ayah dengan strategi licik, menggunakan anaknya sebagai sarana untuk membuat dirinya merasa lebih baik, ketika menyadari hidupnya tidak berarti.

Sementara itu Alan Ross, kekasih Vivian berjuang mati-matian menunjukkan cintanya pada Luke dan Vivian, meskipun tidak berguna dan tidak bisa jadi tulang punggung, namun lama-lama terlihat cemen juga.

Serial ini penuh dengan sindiran pedas dan sarkastik. Bukan guyonan receh, lucunya menurut saya udah tingkat dewa. Nggak akan bikin ngakak, karena sebetulnya ceritanya getir dan menyedihkan.

Adegan demi adegan sukses membuat setiap karakter jadi menyebalkan. Semua perlahan-lahan jadi antagonis, padahal semua niatnya baik.

Saya yang nonton, sampai meraba-raba, apa memang penonton digiring untuk tidak menyukai karakter-karakter tersebut atau malah justru kasihan?

Kadang saya gemes banget, ada momen-momen saya merasa simpati, tapi kadang pengen ngelempar kulit kacang ke layar.

Walau gitu tetep aja, saya suka semua aktor di “Huge in France”, mereka berakting serius tapi sebenarnya itu ya lagi ngelucu.

Serial ini bukan untuk anak-anak, tetapi seru banget dilihat untuk orang dewasa. Serial komedi langka dengan humor berkualitas yang sayang banget kalau dilewatkan.

One thought on “Huge In France

  1. Menarik nih, hari ini aku mau nonton ini ah. 😃 Bagian makin lama tokoh-tokohnya seperti berubah jadi antagonis ini menarik buatku. Ini menunjukkan betapa kita, manusia, emang gak ada yang sempurna. Semua bisa jadi baik, semua bisa jadi jahat. Itu tergantung konteks, karena hidup manusia emang kompleks.

    Nice review, btw, dan salam kenal. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s